WADUK Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, yang mulai kemarin digenangi bakal menggairahkan perekonomian. Sebagai waduk terbesar kedua di Indonesia setelah Waduk Jatiluhur, ia akan meningkatkan hasil panen, menyuplai listrik, dan sektor-sektor lainnya.
Waduk yang mulai digagas pembangunannya sejak 1963 itu diresmikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Bersama Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dia menekan sirene pertanda dimulainya penggenangan air. Hadir pula Wakil Dubes Tiongkok untuk Indonesia Sun Weide. Waduk Jatigede dibangun lewat kerja- sama perusahaan Tiongkok, Sinohydro Corporation Limited, dan kontraktor Indonesia.
Basuki mengatakan Waduk Jatigede yang membendung Sungai Cimanuk akan memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat. Tak kurang dari 90 ribu hektare sawah di wilayah Cirebon, Majalengka, dan Indramayu bakal mendapat pasokan air. Waduk yang namanya diusulkan untuk diganti dengan Waduk Tembong Agung--merujuk nama kerajaan yang pernah berdiri di sekitar waduk--itu juga bisa menjadi pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 110 megawatt.
Gubernur Aher, sapaan Ahmad Heryawan, menyatakan Waduk Jatigede dibangun demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tak hanya Waduk Jatigede, dua bendungan di wilayah Sumedang, yakni Bendungan Rengrang dan Beureum Beungeut, juga akan dibangun.
Aher pun menilai sekitar 11 ribu kepala keluarga di 26 desa yang terdampak dan terpaksa pindah karena pembangunan Waduk Jatigede sebagai pahlawan. "Mereka para pejuang dan pahlawan pembangunan nasional kita. Berkat mereka, waduk yang sudah digagas sejak 1963 ini akhirnya bisa dilakukan pengisian awal hari ini (kemarin)," tegasnya.
Jatigede Gairahkan Ekonomi Menurut Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa, Waduk Jatigede akan berdampak positif bagi pertanian dan ekonomi masyarakat. Pasokan air yang dialirkan dari waduk diyakini dapat menambah satu kali indeks pertanaman dan gabah yang dihasilkan mencapai 450 ribu ton per tahun.
"Dari sisi produksi pangan pasti positif. Lalu, waduk itu kan juga akan mengalirkan listrik ke masyarakat lewat PLTA (pembangkit listrik tenaga air). Itu juga menjadi positif bagi perekonomian daerah," ujar Andreas, kemarin.
Namun, ia mengingatkan masih banyak persoalan yang mesti diatasi pemerintah agar Waduk Jatigede bisa berfungsi optimal. Ia meminta lembaga terkait memperhatikan betul kondisi hulu yang sudah rusak berat. Jika tak diatasi, waduk akan cepat mengalami pendangkalan. "Hilirnya juga harus cepat diselesaikan. Jaringan irigasi harus segera dibangun. Kalau tidak, fungsi waduk tidak akan optimal.
" Petani di Indramayu pun menyambut baik Waduk Jatigede karena ke depannya sawah mereka tak akan lagi kekeringan. "Terutama di Indramayu timur yang kerap kekeringan saat kemarau karena hanya mengandalkan irigasi dari Bendung Rentang yang sangat terbatas," tutur Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Indramayu, Sutatang.
Pada musim kemarau tahun ini saja, jelas dia, 20 ribu hektare sawah di Indramayu gagal panen. " Dengan adanya Waduk Jatigede, kami berharap bisa dua kali tanam padi setahun, syukur-syukur tiga kali," timpal Warji, petani di Indramayu. (Jes/Fat/UL/X-9)