Kemarau, Harga Kedelai Lokal Naik

MI/AHMAD YAKUB
01/9/2015 00:00
Kemarau, Harga Kedelai Lokal Naik
(ANTARA/UMARUL FARUQ)
MUSIM kemarau tidak selalu identik dengan kerugian. Ada sebagian petani yang ikut menikmati keuntungan dengan adanya musim kemarau ini. Petani di Desa Sidorejo, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, saat ini sedang panen kedelai. Saat rupiah melemah seperti sekarang ini, justru harga kedelai lokal tinggi.

M Zaini, petani desa setempat, mengatakan saat ini harga jual kedelai di tingkat pengepul mencapai Rp6 ribu per kg dari sebelumnya seharga Rp5.800 per kg. Menurutnya, setiap musim kemarau, petani di desanya rutin menanam kedelai. Pasalnya, komoditas tersebut mampu bertahan di segala cuaca, termasuk minimnya air, dan perawatannya mudah. "Sebetulnya, hasilnya akan lebih bagus lagi kalau ada hujan sekali. Tapi hasil ini patut disyukuri. Terlebih kami menerima bantuan benih, pupuk, dan obat-obatan dari pemerintah," ujarnya, kemarin.

Para petani kedelai juga memanfaatkan jerami dari limbah padi sebagai media tanam sehingga tanah tidak cepat kering saat musim kemarau. Keberhasilan panen kedelai itu juga menjadikan Kecamatan Sugio sebagai lokasi percontoh an budi daya kedelai varietas Grobogan.

Data Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemkab Lamongan menyebutkan, dari sasaran tanam komoditas kedelai seluas 19.200 hektare, terealisasi seluas 18.059 ha atau 94,06%. Sementara itu, dari sasaran panen seluas 19.213 ha, sudah dipanen seluas 14.574 ha atau 75,85%. Di bagian lain, pada musim kemarau ini, para petani di Madura lebih memilih menjual gabah mereka ke tengkulak daripada ke Bulog karena harga tinggi.

Akibatnya, serapan gabah oleh Bulog Sub-Divre Madura sampai sekarang masih minim, yakni sekitar 308,6 ton atau 1,23% dari 15 ribu ton gabah kering panen (GKP) yang ditargetkan atau setara 25 ribu ton gabah kering giling (GKG).

Harga gabah yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.700 per kg untuk GKP, Rp4.600 untuk GKG, dan Rp7.300 per kg untuk beras. Sementara itu, para tengkulak berani membeli dengan harga Rp4.800 hingga Rp5.100 per kg untuk GKG dan Rp4.200 per kg untuk GKP. Di Bojonegoro, harga beras di pasar tradisional kembali naik sekitar Rp300 per kg dalam sepekan terakhir. Para pedagang memprediksi harga beras akan terus naik, apalagi memasuki musim paceklik.

Harga beras medium dari Rp7.800 menjadi Rp8.100 hingga Rp8.300 per kg. Sukarti, pedagang beras dari Pasar Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro, mengatakan setelah Lebaran hingga sekarang, harga beras cenderung naik. "Sempat turun, tapi kemudian naik lagi," jelasnya.

Selain harga beras, harga telur juga naik. Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, telur mulai naik di sejumlah pasar tradisional. Di pasar tradisional Oeba, Kelurahan Fatululi, harga telur mencapai Rp50 ribu per rak, isi 30 butir. Sebelumnya, satu rak telur seharga Rp47 ribu.

Ancaman puso
Sebaliknya, daerah yang mengalami kekeringan ekstrem mulai khawatir apabila tanaman pangannya puso, seperti di Wonogiri, Jawa Tengah.

Bupati Danar Rahmanto mengajak para petani untuk bahu-membahu mengelola tanaman pangan di wilayahnya, terutama tanaman padi, agar bisa dipertahankan maksimal. Saat ini, sudah ada 135 hektare tanaman padi di enam kecamatan yang mengalami kekeringan menuju puso.

"Dari laporan yang saya terima, sudah ada lebih dari seratus hektare tanaman padi yang terancam kekeringan, jadi harus ditangani," ujar Danar. Di Kabupaten Cirebon, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG) Stasiun Jatiwangi menyebutkan puncak musim kemarau diperkirakan akhir September hingga awal Oktober.

Sementara itu, dari Kabupaten Kuningan, dilaporkan sebanyak 9 desa di empat kecamatan mengalami kekeringan parah, yakni di Kecamatan Cimahi, Cibeureum, Cidahu, dan Ciawigebang. (MG/PO/WJ/ UL/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya