Bangun Embung Redam Api

MI/SURYA SRIYANTI
31/8/2015 00:00
Bangun Embung Redam Api
(ANTARA/NOVA WAHYUDI)
KEBAKARAN hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Tengah saat ini semakin meluas, memusnahkan ekosistem hutan, juga merambat hingga membakar bahu Jalan Trans-Kalimantan.

Jika kebakaran di bahu jalan terus berlanjut, bakal berdampak pada runtuhnya bahu jalan. Selanjutnya, badan jalan hancur.

Mengatasi hal itu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalteng membangun embung atau situ air di lokasi dekat Jalan Trans-Kalimantan yang sering terbakar saat musim kemarau.

Kepala Dinas PU Kalteng Leonard Samuel Ampung di Palangkaraya, kemarin, mengatakan bahu jalan yang mengalami kebakaran ialah Trans-Kalimantan yang menghubungkan Palangkaraya (Kalteng)-Banjarmasin (Kalsel). Posisi tepatnya di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Kemudian yang menghubungkan Palangkaraya dengan Kabupaten Katingan.

Dijelaskan Leonard, di Kabupaten Pulang Pisau, total panjang bahu jalan yang terbakar mencapai 4 kilometer yang terbagi dalam beberapa titik lokasi.

Upaya antisipasi, lanjut Leonard, dibangun embung atau situ yang lokasinya berada dekat jalan. "Embung yang kita bangun di Desa Tumbang Nusa ini mempunyai kapasitas untuk menyimpan air hingga 50 ribu liter," terangnya.

Tempat penyimpanan air tetap ada airnya walaupun di musim kemarau karena letaknya dekat dengan sungai. "Siapa pun boleh mengambil air untuk melakukan pemadaman di Jalan Trans-Kalimantan," jelas Leonard.

Selain itu, pegawai PU yang melakukan pembangunan pada ruas Jalan Trans-Kalimantan wajib mempunyai mesin sedot air yang bisa digunakan bila sewaktu waktu terjadi kebakaran di bahu jalan.

Terkait dengan kebakaran hutan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan 13 helikopter untuk melakukan pemadaman di Sumatra dan Kalimantan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, kemarin, mengatakan 13 helikopter tersebut tersebar di Riau sebanyak 3 helikopter, Sumsel sebanyak 2 helikopter, Kalbar sebanyak 2 helikopter, Kalteng sebanyak 2 helikopter, Jambi sebanyak 2 helikopter, dan Kalsel sebanyak 1 helikopter. Setiap hari, helikopter menjatuhkan ribuan liter air.

BNPB juga mengerahkan tiga pesawat terbang untuk hujan buatan di Riau, Sumsel, dan Kalbar. Ratusan ton garam juga sudah disebarkan di awan-awan potensial sejak Juni 2015 hingga sekarang.

Lokon meletus
Di sisi lain, dampak meletusnya Gunung Lokon pada Sabtu (29/8) malam, mengakibatkan lima penerbangan melalui Bandara Juanda Kabupaten Sidoarjo terganggu, Minggu (30/8).

Humas PT Angkasa Pura I Bandara Juanda, Liza Anindya, kemarin, mengatakan tiga penerbangan dari Bandara Juanda ke Bandara Sam Ratulangi Manado yang tertunda satu jam, yakni dua pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 748 membawa 205 penumpang, JT 736 membawa 194 penumpang, dan Garuda Indonesia GA 452 membawa 62 penumpang.

Dua penerbangan yang tiba di Bandara Juanda juga terlambat. Garuda Indonesia GA 453 dengan 40 penumpang dari Bandara Sam Ratulangi Manado, harusnya mendarat pukul 08.40 WIB, tetapi molor lebih dari satu jam. Pesawat lain yang terlambat mendarat ialah Lion Air nomor penerbangan JT 731 dari Balikpapan. (HS/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya