BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, telah menyalurkan air bersih kepada masyarakat, terutama yang mengalami dampak kekeringan yang tersebar di 69 desa di 10 kecamatan. "Untuk bantuan air bersih telah dilakukan di tiap-tiap kecamatan yang sekarang ini mengalami dampak kekeringan sejak tiga bulan terakhir ini. Namun, pasokan tersebut tidak setiap kali karena tidak akan terpenuhi." ujar Kepala BPBD, Kota Tasikmalaya, Soni Sudrajat, kemarin. Soni mengatakan, kekeringan yang terjadi sekarang ini berada di wilayah Kecamatan Tamansari, Kawalu, Bungursari, dan Indihiang.
"Pasokan air bersih terus dilakukan karena dampak kekeringan akan terjadi hingga Desember dan diperkirakan Oktober sudah ada hujan," harap Soni. Di sisi lain, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum, kemarin, mengungkapkan kekeringan di wilayahnya telah ditetapkan sebagai status siaga bencana kemarau panjang. Kekeringan melanda 129 desa yang tersebar di 39 kecamatan. "Mulai hari ini (kemarin), Kabupaten Tasikmalaya ditetapkan siaga bencana kemarau panjang. Sampai sekarang sudah setengahnya dari seluruh jumlah kecamatan yang mengalami kekeringan dan warga pun membutuhkan air bersih," ujarnya.
Uu mengaku, pihaknya telah berkoordinasi dengan beberapa pihak swasta dan instansi terkait di wilayahnya untuk mengatasi dampak kemarau. Dengan koordinasi itu, diharapkan ada bantuan air bersih bagi warga yang sangat membutuhkan. "Warga kami sekarang membutuhkan air bersih. Selain meminta bantuan ke pusat, pemerintah daerah pun mengajak perusahaan swasta untuk peduli terhadap warga yang kesulitan air bersih," jelas Uu. Sesuai dengan informasi BMKG, wilayah Tasikmalaya masih rawan kemarau sampai akhir Desember nanti.
Dibatasi Di Banyumas, Jawa Tengah, kekeringan yang terjadi saat ini membuat pengambilan air di mata air Dusun Watu Agung, Desa Kaliputih, Kecamatan Purwojati, dibatasi. Setiap keluarga hanya diperbolehkan mengambil empat ember setiap hari. Hal itu dilakukan untuk menghemat air. Salah seorang warga setempat, Rustam, 41, mengungkapkan bahwa pembatasan pengambilan air dilakukan agar mata air di Watu Agung tersebut tetap mampu menyediakan sumber air bersih. "Tidak ada sumber air bersih lainnya. Paling hanya mengandalkan bantuan air bersih, baik dari pemerintah maupun swasta," katanya.
Rustam mengungkapkan ada sekitar 250 keluarga yang memanfaatkan sumber mata air tersebut. "Biasanya, air yang diambil dari sumber mata air ini hanya untuk memasak," tambahnya. Kepala Desa Kaliputih Trisno mengatakan, selain masih memanfaatkan sumber mata air tersebut, warga juga mendapatkan bantuan air bersih yang diangkut mobil tangki dari pemerintah dan swasta. "Warga yang mengalami krisis air bersih di Desa Kaliputih mencapai 1.350 keluarga. Mereka memang lebih banyak dan menggantungkan bantuan air bersih karena sumber mata air sudah banyak yang mengering," ujarnya.
Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sejumlah petani di Kampung Babakan Bandung, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, mulai melakukan masa tandur (masa tanam) padi meskipun saat ini masih musim kemarau. Saat ini, debit air di Sungai Cimandiri sudah meningkat. "Air di Sungai Cimandiri ada lagi setelah turun hujan. Makanya, kami pilih untuk segera tandur (tanam padi)," kata Yosep Taryawan, 25, petani di Kampung Babakan Bandung, kemarin. Sementara itu, dampak kekeringan yang panjang membuat warga di Kabupaten Asmat, Papua, kesulitan air bersih. Warga kini bergantung pada air galon yang harus ditebus dengan harga Rp100 ribu, naik dari harga sebelumnya Rp60 ribu.