Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PLASTIK gulung atau disebut juga cling wrap kerap jadi senjata untuk mengemas makanan. Di swalayan atau rumah tangga, plastik itu banyak digunakan agar buah, sayur, dan bekal lebih tahan lama dan mudah dibawa. Nyatanya, meski tipis, plastik itu bisa menyebabkan masalah besar pada lingkungan. Hal itu terjadi karena plastik gulung tidak ekonomis untuk didaur ulang layaknya plastik kemasan yang lebih tebal, seperti botol plastik. Selain itu, berbeda dengan tas plastik (kresek), hingga saat ini, produk cling wrap yang dapat terurai masih sangat sedikit. Plastik gulung juga dikhawatirkan berbahaya bagi kesehatan. Hal itu terjadi akibat potensi kontaminasi bahan kimia plastik ke makanan. Penggunaan cling wrap yang begitu tinggi di Amerika Serikat membuat ilmuwan di Departemen Pertanian negara itu (USDA) mengembangkan plastik gulung yang aman bagi lingkungan dan kesehatan. Baru-baru ini, penelitian itu telah dipublikasikan. Seperti dilansir Bloomberg.com, tim USDA berhasil memproduksi plastik berbahan protein pada susu yang disebut kasein. Plastik dari kasein itu dinyatakan memiliki kemampuan 500 kali lebih baik dalam mencegah masuknya oksigen daripada kemasan plastik biasa ataupun yang terbuat dari pati. Kemampuannya 'menangkal' oksigen berasal dari sifat protein yang membentuk jaringan yang rapat saat menjalani proses polimerisasi.
Kerapatan jaringan itu juga membuat plastik kasein dapat melindungi makanan dari paparan cahaya. "Sekarang ini (plastik) kemasan didesain semakin kecil dan cocok untuk melengkapi berbagai kebutuhan, termasuk untuk makan siang anak sekolah. Namun, setelah itu (plastik) akan menjadi tumpukan limbah. Kemasan yang dapat dimakan ini menjadi jawaban baik," kata Peneliti USDA yang juga sebagai koordinator penelitian kemasan dari kasein, Laetitia Bonnaillie. Tak hanya kasein susu, peneliti juga menambahkan gliserol untuk membuat protein dalam lapisan kasein menjadi lebih lembut. Mereka juga memasukkan pektin jeruk untuk menciptakan lembaran plastik yang lebih kuat yang kemungkinan bisa menahan kelembapan serta suhu tinggi dengan baik.
Tanpa tambahan bahan-bahan itu, plastik kasein susu sangat mudah larut dalam air. Selain gliserol dan pektin jeruk, Bonnaillie mengatakan perisa makanan, dan vitamin, dapat digunakan untuk membuat kemasan membuat makanan menjadi lebih lezat dan bergizi. Dalam bentuk cair, kasein dapat digunakan dengan cara disemprotkan pada sereal maupun permen. Selama ini, umumnya, kedua produk makanan tersebut menggunakan lapisan gula untuk membuatnya tetap renyah.
Para peneliti juga memperkirakan plastik kasein dapat digunakan sebagai laminasi pada kertas atau kotak makanan. "Penelitian ini baru permulaan untuk menemukan sesuatu produk yang potensial dan lebih baik daripada plastik," ungkap Bonnaillie.
Bahaya plastik
Sejalan dengan kekhawatiran para ahli AS soal dampak kesehatan plastik kemasan pada makanan, Indonesia juga telah melarang penggunaan plastik untuk pembungkus makanan. Namun, larangan itu baru terbatas pada penggunaan kantong plastik hitam. Dalam peringatan publik yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) beberapa tahun lalu, disebutkan bahan kimia yang terkandung dalam plastik tak hanya mudah terurai dan bermigrasi ketika terkena makanan panas, tetapi juga makanan yang mengandung asam, cuka, vitamin c, serta makanan berlemak dan berminyak. Dalam petikan peringatan publik itu, kantong plastik, terutama yang berwarna hitam, berasal dari bahan-bahan daur ulang yang tidak diketahui. Bahan tersebut bisa berasal dari wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan, manusia, hingga logam berat. Di sisi lain, penggunaan kantong plastik di Indonesia tetap mengkhawatirkan. Meskipun Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan kebijakan plastik berbayar sejak Februari 2016, penurunan penggunaan plastik sangat bervariasi. Kondisi itu tetap membuat limbah plastik menjadi isu genting, terlebih klaim kantong plastik yang cepat terurai belum selalu terbukti di lapangan. Hampir semua kantong plastik yang diklaim cepat terurai sesungguhnya tetap terbuat dari minyak bumi, tapi diberi tambahan zat katalis yang membuat plastik teroksidasi. Beberapa zat katalis itu berupa logam, seperti kobalt, besi, dan mangan yang dapat berbahaya bagi lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved