Lima Anak Yatim Tewas Tenggelam

JI/DY/RF/N-2)
13/9/2016 03:41
Lima Anak Yatim Tewas Tenggelam
(ANTARA/Siswowidodo)

TUJUH remaja penghuni panti asuhan anak yatim Putera Muslimat, Kauman, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tenggelam di Sungai Pemali, kemarin.

Lima korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa dan dua lainnya selamat.

Saat kejadian, ketujuh remaja tengah mencuci jeroan hewan kurban. Kelima korban tewas terdiri dari Mustaqin, Ubaedilah, Kamaludin, Sandi, dan Andri.

Para korban tercatat sebagai siswa SMK Bulakamba, yang sehari-hari tinggal di panti asuhan.

Para korban diduga terpeleset dan masuk ke sungai. Karena tidak bisa berenang, mereka terbawa oleh arus dan tenggelam.

"Yang dua mungkin bisa berenang dan yang lima lainnya tidak bisa berenang," ujar Ketua Tim SAR Brebes Adhe Dhani Raharjo.

Pencarian tubuh korban dilakukan Tim SAR Brebes, Basarnas Semarang, TNI, dan kepolisian.

"Kelima korban bisa dievakuasi di lima lokasi berbeda dan waktu yang ber-beda."

Di Kalimantan Selatan, mu-sim kemarau menyebabkan dua dari tiga pembangkit di PLTA Ir PM Noor, Kabupaten Banjar, berhenti operasi. Debit air Waduk Riam Kanan terus surut satu bulan terakhir.

Selain untuk pembangkit, air di waduk itu menjadi tumpuan irigasi, perikanan, dan air baku PDAM Intan, Banjar, dan PDAM Bandarmasih, Banjarmasin.

"Tinggi air muka waduk terus menurun dari 58-60 meter saat normal menjadi hanya 56 meter. Kami menghentikan operasi dua pembangkit pada siang hari untuk menghemat air," papar juru bicara PT PLN wilayah Kalsel-Kalteng Anang Juhrani.

Namun, dia menegaskan suplai energi listrik untuk wilayah Kalsel dan Kalteng mencukupi.

"Penghentian operasional pembangkit tidak menimbulkan masalah."

Waduk Riam Kanan memasok air bagi PLTA Ir PM Noor yang berkapasitas 30 megawatt.

Kemarau panjang yang masih mendera Kalsel diperkirakan membuat debit air waduk itu menurun.

Di Bangka Belitung, BMKG Pangkalpinang memperkirakan tinggi gelombang di utara Bangka dan Selat Karimata dalam dua hari ke depan bisa mencapai 3 meter.

Kondisi itu dinilai berbahaya bagi kapal kecil dan kapal nelayan.

"Kami minta seluruh kapal kecil dan perahu nelayan untuk waspada. Ketinggian gelombang yang mencapai 3 meter sangat berbahaya dan rawan mengempaskan kapal kecil," kata Kepala BMKG Pangkalpinang M Nurhuda.

Kecepatan angin maksimal di Selat Bangka dan Selat Gelasa bisa mencapai 36 km per jam.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya