DALAM mengatasi krisis air, pemerintah daerah perlu melakukan kebijakan atau terobosan untuk mengatasi kekeringan dalam jangka panjang. Selama ini kekeringan hanya diatasi dengan menunggu bantuan pasokan air bersih.
Bupati Cilacap, Jawa Tengah, Tatto Suwarto Pamuji mengatakan dari tahun ke tahun bila terjadi krisis air bersih, solusinya hanya memberikan bantuan air bersih.
"Di masa mendatang harus ada kajian untuk penanganan keke-ringan dalam jangka panjang. Salah satunya ialah memperpanjang pipa PDAM agar menjangkau daerah-daerah termasuk yang rawan krisis air bersih. Jadi tidak hanya mengandalkan pasokan air bersih," kata Tatto, kemarin. Hingga kini, kekeringan di Cilacap semakin meluas. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap menyebutkan hingga kini ada 29 desa yang tersebar di 11 kecamatan yang mengalami krisis air bersih.
Di Temanggung, anggaran untuk pengdropan air bersih di desa-desa yang dilanda kekeringan, hingga kemarin, tinggal tersisa 107 tangki. Jumlah tersebut hanya cukup untuk penyaluran air bersih selama delapan hingga sembilan hari ke depan.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Temanggung Agus Sudaryono menyebutkan anggar-an untuk pengedropan air bersih guna mengatasi kekeringan sebanyak 400 tangki dari APBD atau setara dengan Rp80 juta.
Dari jumlah tersebut, hingga Senin (24/8) ini sudah tersalurkan 293 tangki air bersih dengan nilai nominal Rp50 juta. Adapun anggaran untuk pengedropan air yang tersisa tinggal Rp30 juta. Jumlah tersebut cukup untuk 107 tangki.
Sementara itu dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan, sebanyak 10 dari 26 sumber air yang dikelola PDAM Tirta Lontar Kupang mulai mengalami penurunan debit. Rata-rata penurunan debit setiap bulannya mencapai 40%. Panen 7 ton Pada bagian lain, kemarau dan kekeringan yang melanda berbagai daerah tidak berlaku di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Para petani di Desa Palawad, Kecamatan Lamaran, bisa memanen padi rata-rata 7 ton per hektare. Panen kali ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan pada musim rendeng, yang hanya menghasilkan 3 ton per hektare akibat adanya serangan hama wereng.
Kekeringan juga menyebabkan sekitar 110 hektare lahan persawahan di Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, diserang hama wereng dan tikus.
"Kerugian kami berlipat ganda. Selain serangan hama tikus dan wereng, juga kekurangan air," kata Ketua Kelompok Tani Sempur, Eji Ramdani.
Di Kabupaten Karangasem, Bali, puluhan hektare tanaman padi di sawah kawasan subak Kertalangu, Desa Subagan, dilanda kekeringan. Tanahnya pun mulai pecah-pecah.
Gde Ada, petani setempat, mengaku tanaman padinya mengalami kekeringan akibat mengecilnya aliran air dari hulu Desa Bungaya yang melewati irigasi. Akibat kekeringan itu, para petani resah karena tanaman padi mereka terancam gagal panen.
Untuk mencegah terjadinya krisis pangan akibat kekeringan, Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, telah memanfaatkan 4.336 hektare lahan tidur dari potensi lahan kering seluas 58.252 hektare. Optimalisasi lahan tidur itu dilaksanakan sejak 2013 hingga pertengahan 2015.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Lembata, Bediona Feliks, menyebutkan optimalisasi lahan tidur menuju kesejahteraan rakyat.
"Program perluasan areal tanam ini untuk menambah produktivitas petani guna menopang program kedaulatan pangan. Kami mengerahkan sumber daya yang ada guna memaksimalkan perluasan areal tanam. Caranya dengan memotivasi petani untuk memperluas areal tanam di lahan kering," ujar Bediona Feliks. (Tim/N-4)