Tetap Bisa Panen di Tengah Paceklik

Liliek Dharmawan
20/8/2015 00:00
Tetap Bisa Panen di Tengah Paceklik
(MI/Liliek Dharmawan)
WAJAH Jono, 52, warga Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah, tampak cerah. Kebahagiaan yang menyelimuti hatinya itu seakan membuat adem suasana di siang yang cukup terik.

Sesekali ia bersenda gurau dengan teman-temannya saat memanen padi. Sebetulnya rasa gembira yang sedang menyelimuti hati Jono amat kontras dengan kondisi lahan miliknya. Tanah miliknya retak-retak dan sama sekali tidak ada airnya.

"Meski retak-retak dan sama sekali tidak ada airnya, tanaman padi milik saya tidak mati. Justru sebaliknya, hasil panen cukup bagus. Bahkan per hektare dapat mencapai 10 ton. Tanaman padi tahan kering dan tahan lama," kata Jono di sela-sela memanen padi, kemarin (Rabu 19/8/2015).

Ia menjelaskan varietas padi yang ditanam sama seperti lainnya. Hanya, metode penanaman berbeda. "Kami mendapat bimbingan dari Kantor Bank Indonesia Purwokerto, bagaimana cara menanam dengan metode Hazton, berbeda dengan cara-cara tanam seperti biasanya," jelasnya.

Dengan metode Hazton, hasilnya dapat mencapai 10 ton, sedangkan sistem tanam padi biasa hanya menghasilkan 4-5 ton.

Petani lainnya, Darkam, 61, mengungkapkan metode tersebut lebih hemat air. Pemberian air hanya diperlukan sewaktu-waktu, terutama mulai pembibitan dan saat pertengahan umur padi sekitar 44-55 hari.

Bahkan, lanjutnya, usia panen lebih pendek ketimbang umur padi biasanya. Dengan cara baru tersebut, usia panen tanaman padi hanya sekitar 100 hari, sedangkan padi dengan pemeliharaan cara konvensional membutuhkan waktu 115-120 hari.

Di tempat yang sama, Kepala Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Kantor BI Purwokerto Djoko Juniwarto mengatakan metode Hazton bisa diterapkan untuk berbagai jenis varietas padi. "Untuk musim kemarau ini memakai varietas kristal 5, yang merupakan jenis padi tahan kekeringan. Varietas lainnya juga bisa digunakan. Hanya, metodenya berbeda," ujar Djoko.

Cara kerja metode Hazton yaitu benih padi sebelum ditanam harus direndam memakai probiotik agar tanaman padi lebih tahan cuaca ekstrem serta hama. Saat penyemaian membutuhkan waktu lebih lama, yakni pada umur 37 hari atau lebih lama dua pekan jika dibandingkan dengan cara konvensional. Saat menanam, bibit padi sudah lebih besar. Selain itu, rumpun padi yang ditanam lebih banyak. Untuk satu tanam dibutuhkan 20 batang padi.

Metode tersebut cocok dipraktikkan pada musim kemarau karena kebutuhan air mampu dihemat sekitar 50% hingga 70%. "Lihat saja, tanah di sawah-retak-retak, tetapi masih bisa panen padi," ujar Djoko.(N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya