Korban Lumpur Lapindo Syukuran Makan Nasi Tumpeng

Heri Susetyo
20/8/2015 00:00
Korban Lumpur Lapindo Syukuran Makan Nasi Tumpeng
(MI/Heri Susetyo)
BELASAN warga korban lumpur Lapindo melakukan syukuran kecil-kecilan dengan memotong satu nasi tumpeng di Pendopo Kabupaten Sidoarjo, kemarin (Rabu 19/8/2015).

Mereka kemudian beramai-ramai menyantap nasi tumpeng yang dilengkapi sayuran dan lauk pauk. "Ini sebagai bentuk syukur kami karena uang ganti rugi akhirnya dicairkan meskipun belum semuanya menerima," kata Mahmudah, salah satu korban lumpur Lapindo.

Hingga kini dari 3.231 berkas, tinggal empat berkas yang belum divalidasi karena masih dalam verifikasi PT Minarak Lapindo Jaya. Pada minggu lalu, tepatnya Jumat (14/8), sebanyak 285 berkas warga korban Lapindo sudah menerima transferan uang ganti rugi senilai Rp73 miliar, sedangkan pada minggu ini sebanyak 468 berkas senilai Rp82 miliar akan segera mendapatkan uang ganti rugi. Total berkas warga yang sudah selesai divalidasi hingga saat ini sebanyak 3.227 berkas.

"Kami membuat skema setiap minggu bisa menyerahkan dua kali berkas ke Jakarta. Mungkin dalam enam kali transferan, semua uang ganti rugi warga sudah dilunasi," kata Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Dwinanto Prasetyo.

Total sisa uang ganti rugi yang dibayar dengan menggunakan dana talangan pemerintah itu mencapai nilai Rp781 miliar. Akan tetapi, proses percepatan pembayaran ganti rugi tersebut masih menimbulkan protes warga. Menurut warga, proses pencairan uang ganti rugi masih lambat. Seharusnya uang ganti rugi sudah mereka terima setelah tujuh hari tanda tangan nominatif.

"Uangnya sudah disediakan pemerintah, tetapi kenapa masih berbelit-belit? Apalagi proses pembayaran warga siapa yang didahulukan tidak transparan sehingga warga bisa saja menduga ada permainan," kata Faturrohman, warga.

Sementara itu, Amir, 50, korban lumpur Lapindo lainnya, mengaku hanya menerima sisa uang ganti rugi senilai Rp17 juta. Sebagian besar uang ganti rugi dengan total Rp120 juta sudah diterimanya sejak awal. Uang tersebut sudah habis untuk membangun rumah barunya dan memenuhi kebutuhan hidup.

"Ini sisa pembayaran terakhir Rp17 juta, sebagian untuk makan keluarga. Saya hanya bekerja sebagai kuli batu," ungkapnya.(HS/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya