Kenaikan Karbon dan Hijaunya Tanaman

27/8/2016 06:30
Kenaikan Karbon dan Hijaunya Tanaman
(MI/BINTANG KRISANTI)

PENINGKATAN karbon dioksida (CO2) di atmosfer tidak selalu membuat pemandangan buruk di bumi. Setidaknya itu terjadi pada proses pertumbuhan tanaman.

Profesor bidang biologi dari University of Southampton, Inggris, Gail Taylor, mengamati pertumbuhan tanaman yang lebih cepat seiring dengan meningkatnya kadar CO2 di udara beberapa tahun ini. Menurut data pada 2013 yang dipaparkan dalam penelitian universitas itu, pertama kalinya dalam sejarah, kenaikan CO2 mencapai 400 ppm.

Di satu sisi, banyaknya CO2 baik untuk tanaman, paling tidak dalam jangka pendek karena bisa membantu proses fotosintesis untuk pertumbuhan tanaman dan produksi pangan. Taylor pun melihat fakta akhir-akhir ini bumi menjadi lebih hijau karena pertumbuhan vegetasi yang terstimulasi oleh kenaikan CO2.

Namun, tim penelitian yang dipimpinnya mengalami kendala untuk menemukan tanaman yang telah banyak terpapar CO2 sebagai dasar adanya proses adaptasi oleh tanaman. Untuk menjawab kendala tersebut, mereka pun menggunakan perbandingan tanaman yang memang sudah mendapat kucuran CO2 berlebih dengan alamiah, seperti Plantago lanceolata dengan tanaman yang kadar CO2-nya lebih dikontrol.

“Hasilnya menunjukkan tanaman Plantago tumbuh lebih besar dan memiliki proses fotosintesis yang lebih baik. Yang terpenting, tanaman dari musim semi memang memiliki reaksi yang berbeda. Dari data tersebut kami memprediksi bumi akan terus hijau, tidak akan mematikan dan beradaptasi dengan kenaikan CO2,” jelas Taylor seperti dilansir pada laman Sciencedaily.com, Rabu (24/8).

Akan tetapi, mereka juga masih belum memahami konsekuensi secara keseluruhan akibat kenaikan CO2 meskipun tanaman menunjukkan adaptasi yang baik. Yang lebih ditekankan ialah bagaimana dengan perkembangan tanaman pangan? Apakah memang bumi akan terus hijau jika konservasi alam tidak terganggu akibat kenaikan karbon dioksida di udara?


Jangan hanya melihat tumbuhan

Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Witjaksono, pernah melakukan percobaan terhadap tanaman avokad yang ditambahkan unsur CO2 dengan tanaman avokad yang mendapat asupan CO2 sesuai dengan kondisi yang ada. Hasilnya, tanaman yang mendapat asupan CO2 lebih tumbuh lebih tinggi dan bagus.

Ia mengatakan ada benarnya apa yang disampaikan dalam penelitian tersebut, tapi hanya berlaku pada tanaman kategori metabolisme C3, seperti padi dan avokad. Tanaman kategori C3 berarti mempunyai lintasan atau siklus PCR (photosynthetic carbon reduction) yang dapat menghasilkan asam organik yang mengandung 3 atom C dan jaringan yang terlibat dalam proses fotosintesis, yaitu jaringan mesofil.

Sementara itu, tanaman berkategori metabolisme C4, seperti jagung dan tebu serta tanaman kategori CAM dan tanaman gurun, tidak mengalami perubahan signifikan akibat peningkatan CO2. Tanaman C4 ialah tanaman yang memiliki lintasan tambahan di samping lintasan C3 yang menghasilkan asam organik yang mengandung 4 atom C. Sementara itu, tanaman CAM adalah tanaman yang terbuka pada malam hari dan tertutup pada siang hari serta memiliki laju fotosintesis yang rendah bila dibandingkan dengan tanaman C3 dan C4.

“Peningkatan CO2 menyebabkan perubahan iklim, seperti sekarang ini enggak ada kemarau, lalu bagaimana tanaman bisa melakukan fotosintesis? Cahaya mataharinya tidak ada. Harus diperhatikan juga makhluk hidup lainnya, seperti mikroba tanah, perubahan suhu bisa memicu suhu tanah dan berdampak pada mikroba tersebut,” ungkap Witjaksono.

Ia berpendapat perlu dikaji secara rinci pengaruh CO2 terhadap tanaman dan adaptasi yang dilalukan. Gambaran perbedaan adaptasi tumbuhan dapat dilihat dengan mudah di daerah-daerah hutan. Di sana terdapat tanaman tinggi, menengah, dan rendah yang memiliki adaptasi masing-masing terhadap segala perubahan lingkungan. Witjaksono pun menyebut tidak baik membiarkan perubahan dramatis tanpa ada langkah antisipasi.

“Tumbuhan terpengaruh. Konsumen herbivora pun akan terpengaruh. Bisa terjadi perubahan keanekaragaman tanaman, terjadi kepunahan, dan pergeseran habitat. Semisal tanaman yang biasanya berada pada elevasi 100 meter, karena perubahan suhu, jadi bergeser ke elevasi 120 meter sehingga tanam­an yang paling tinggi bisa hilang,” pungkasnya. (Wnd/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya