Hujan Buatan Redam Kabut Asap

(AR/DY/N-3)
14/8/2015 00:00
Hujan Buatan Redam Kabut Asap
(ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
TEKNOLOGI modifikasi cuaca berhasil menormalkan kembali kondisi udara di Pontianak, Kalimantan Barat. Kemarin, kabut asap sudah tidak ada lagi setelah hujan mengguyur wilayah itu pada Selasa dan Rabu malam. "Hujan ini bisa dipastikan berasal dari awan-awan yang kami semai untuk hujan buatan," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, F Heru Widodo, kemarin.

Modifikasi cuaca dilakukan sejak Selasa (11/8) untuk mengatasi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Hujan deras pun mengguyur Pontianak tidak lama setelah operasi itu digelar. Walaupun belum merata, guyuran hujan mampu menghilangkan asap pekat yang menyelimuti Pontianak. "Meskipun hujan belum merata, kondisi udara saat ini jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya," tegas Heru. Dia berharap modifikasi cuaca tersebut berdampak terhadap siklus musim di Kalimantan Barat.

Penyemaian awan akan memicu pertumbuhan awan baru dan menyebar ke wilayah lain sehingga mempercepat datangnya musim penghujan. Tim dari BPPT terus mencermati cuaca dan kondisi awan tersebut melalui dua pos pengamatan meteorologi. Modifikasi cuaca berupa hujan buatan itu dilaporkan juga berhasil memadamkan kebakaran lahan di beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menyebut terjadi penurunan titik api kebakaran lahan sebesar 60%.

Jika sebelumnya terdapat 91 titik api, kemarin tinggal 32 titik api. Di Kalimantan Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah akan mengajukan permintaan hujan buatan, menyusul ancaman semakin parahnya kondisi kekeringan akibat kemarau di wilayah tersebut. Kepala BPBD Kalsel Sugiono mengatakan saat ini kondisi kekeringan di sejumlah kabupaten kian meluas. "Beberapa daerah telah melaporkan mengalami kekeringan yang mulai berdampak pada kelangkaan air bersih dan pasokan air untuk pertanian."

Selain itu, menurut Sugiono, pihaknya masih mempelajari kemungkinan dilakukannya pemadaman kebakaran hutan dan lahan lewat udara. Hingga kini sebaran titik api yang muncul di wilayah Kalsel sebanyak 73 titik. Adapun luas lahan pertanian yang dilanda kekeringan mencapai 9.000 hektare, dengan jumlah tanaman padi yang puso sekitar 200 hektare. "Meski terdampak kekeringan, kami optimistis produksi padi Kalsel tidak terpengaruh," papar Penjabat Gubernur Kalsel Tarmizi Abdul Karim.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya