Jawa Barat Cergas Turunkan Kemiskinan

SONNY BUDHI RAMDHANI
14/8/2015 00:00
Jawa Barat Cergas Turunkan Kemiskinan
(ANTARA/DEDHEZ ANGGARA)
KEMACETAN di jalur selatan Jawa Barat, saat masa arus mudik dan balik Lebaran lalu, membuat Ahmad Heryawan berpikir mencari jalan keluarnya. Gubernur Jawa Barat ini pun menggagas pembangunan tol, yang diharapkan bisa meretas kejumudan. "Tol akan menghubungkan Cileunyi-Tasikmalaya. Saya akan mendaftarkan rencana itu ke Badan Pengatur Jalan Tol," janjinya. Sudah banyak proyek fenomenal yang digagas dan dituntaskan pria yang akrab dipanggil Aher itu. Selain tol Cileunyi- Tasikmalaya yang masih dalam gagasan, pembangunan skala besar yang terus dikawalnya ialah beroperasinya Badan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan Jawa Barat. Satu lagi ialah pembangunan pelabuhan laut bertaraf internasional. "Pembangunan proyek-proyek besar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengikis kemiskinan," jelas  Aher.

Mengangkat warga dari kemiskinan ialah prioritas pria kelahiran Sukabumi itu, saat mulai memimpin Jawa Barat pada 2008. Kini kerja kerasnya bersama aparatur Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah bisa dikecap warga. Kesejahteraan warga terbaca dari data yang memperlihatkan terus menurunnya tingkat kemiskinan. Pada 2007, misalnya, angka kemiskinan di Tanah Pasundan mencapai 13,55%. Namun, dengan kerja keras dan program yang cerdas serta cergas (gesit), secara perlahan tapi pasti, angka kemiskinan terus menurun. Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provisi Jawa Barat mencatat, pada 2011, tingkat kemiskinan turun ke angka 10,57%. Angka itu terus beringsut turun menjadi 9,89% pada 2012, kemudian pada 2013 di
angka 9,61% tahun, dan 9,18% pada 2014. "Tingkat kemiskinan pada tahun ini saya optimistis bisa turun lagi mencapai 8,9% dari total jumlah penduduk 46,8 juta jiwa," ungkap peraih lebih dari 150 penghargaan saat memimpin Jawa Barat itu. Tumbuh terus Dengan melihat indikator pengentasan kemiskinan, yakni parameter indeks kesehatan dan pendidikan, Aher dan  jajarannya terbilang sukses melakukan peningkatan. Indeks kesehatan yang mencakup angka harapan hidup (AHH), angka kematian bayi (AKB), dan angka kematian ibu (AKI) terus diperbaiki. Dua tahun terakhir, yakni pada 2013 dan 2014, AHH naik menjadi 68,83 dari sebelumnya 68,80. AKB bisa dipertahankan tetap di angka 30 dari 1.000 kelahiran.

Untuk indeks pendidikan yang meliputi angka melek huruf (AMH) dan rata-rata lama sekolah (RLS), dua tahun terakhir juga naik. Mereka yang melek huruf naik menjadi 98,29 dari 96,49. Rata-rata lama sekolah menjadi 8,34 tahun, dari 8,09 tahun.
Demikian pula indeks daya beli yang ditandai purchasing power parity (PPP). Pada 2013, PPP mencapai Rp640.800, naik menjadi Rp644.360 pada 2014. Tahun ini, angka PPP diproyeksikan naik menjadi Rp650 ribu, dan tahun depan ditargetkan mencapai Rp655 ribu. Kesimpulannya, secara numerik, tiga penyokong utama tingkat kemiskinan sudah menunjukkan progresivitas. Angka itu pun selaras dengan pendapatan yang diperoleh Jawa Barat, yang pada 2011 membukukan Rp9,27 triliun dan naik menjadi Rp23,33  triliun empat tahun kemudian. Yang terkini, Badan Pusat Statistik mencatat laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I mencapai 4,93%. Angka itu lebih tinggi daripada LPE nasional yang mencapai 4,71%. "Di sisi lain, setelah berhasil menurunkan tingkat infl asi dari 9,15% pada 2013 dan 6,15% pada 2014, tahun ini kami proyeksikan pada rentang 6,3%-7,3%.

Kondisi itu akan membuat laju pertumbuhan relatif tidak akan tersudut oleh banyak faktor perlambatan," ungkap Aher, yang kembali terpilih sebagai gubernur untuk periode 2013- 2018. Pertumbuhan yang didukung keuletan seluruh warga Jawa Barat membuat banyak investor melirik kawasan itu. Nilai investasi pun terus tumbuh. Pada 2014, ada modal masuk sebesar Rp305,98 triliun, sesuai dengan proyeksi pertumbuhan investasi naik 10,16% dari tahun sebelumnya. Tahun ini, proyeksi pertumbuhan investasi dipatok pada angka 16% dan 14% pada 2016. Fakta lain ialah nilai produk domestik regional bruto per kapita yang juga menunjukkan pola kenaikan serupa. Dari Rp23,6 juta pada 2013, melonjak ke Rp30,14 juta tahun lalu. Tahun ini, di tengah gonjang-ganjing ekonomi global dan nasional, Jawa Barat tetap menjaga angka PDRB pada Rp22 juta-Rp24 juta. 'Kami akan terus berkejaran dengan waktu untuk mengikis kemiskinan. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, proyek-proyek besar bisa dan akan terus kami lakukan," tandas suami Netty Prasetiyani itu. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya