Lima Falsafah Hidup Harus Dipertahankan

(PT/N-3)
24/8/2016 01:15
Lima Falsafah Hidup Harus Dipertahankan
(MI/ALEXANDER TAUM)

MASYARAKAT Manggarai memegang lima falsafah hidup yang berlaku hingga kini. "Rumah gendang sebagai tempat perlindungan. Compang sebagai pusat kampung atau pusat persatuan. Wae tiku atau air minum sebagai sumber kehidupan. Lodhok atau kebun sumber kesejahteraan. Pa'a atau gerbang masuk kampung sebagai filter. Hal yang baik boleh masuk, sedangkan yang tidak baik harus keluar. Ini falsafah hidup kami orang Manggarai," ujar Kristo Nison. Konon, saat dibuang ke Ende, Flores, Proklamator Soekarno sempat berdiskusi dengan tokoh-tokoh Manggarai tentang lima dasar falsafah hidup yang kemudian disadur menjadi Pancasila. Karena itu, pengembangan sektor pariwisata di Liang Ndara pun tidak lepas dari lima hal yang terus dipegang teguh masyarakat setempat.

Belum lama ini ada lima warga Amerika Serikat yang mendatangi rumah Kristo Niso. Rumah Kristo cukup sederhana. Di dekat rumah ada lapangan. Atribut-atribut adat pun terpasang di halaman rumah. Alat-alat musik tradisional seperti gong dan gendang memenuhi teras rumah. Para turis tertarik membeli tanah dan rumah Kristo karena memiliki pemandangan laut yang cukup bagus. "Kami butuh tanah 1 hektare untuk vila. Berapa pun kami bayar," kata pemandu wisata menerjemahkan omongan para tamu asing itu di depan Kristo. Namun, dengan tegas Kristo Nison menampik tawaran itu. Ia hanya setuju jika tanah warisan orangtuanya itu disewa pakai. Desa yang berjarak 20 kilometer dari Kota Labuan Bajo itu menjadi pusat kebudayaan masyarakat Manggarai Barat. Selain itu, hutan lindung Mbeliling kaya akan flora dan fauna.

Namun, belakangan banyak tanah dijual dengan harga mahal kepada orang asing untuk dijadikan vila atau hotel. Masyarakat Desa Liang Ndara memilih mempertahankan tanah desa dan menolak iming-iming harga tinggi yang ditawarkan para investor asing ataupun dalam negeri. Alasannya, warga Desa Liang Ndara ingin tetap menjaga objek wisata alam dan budaya yang sudah mengakar di situ. "Petani dan tanah tidak bisa dipisahkan. Kalau ada pengusaha datang, kami sepakat minta tanah kita dikontrakkan, tidak dijual," tegas Donatus Don, Kepala Desa Liang Ndara. Menurutnya, kesepakatan itu sudah menjadi keputusan seluruh warga desa untuk menjaga budaya tanah Congka Sae. (PT/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya