Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 1992, tiga dusun di Desa Liang Ndara, yakni Cecer, Melo, dan Pate Kantor, hanya memiliki sebuah sanggar budaya bernama Ceki. Sanggar tersebut menampilkan keunikan budaya setempat mulai upacara adat, permainan tradisional, kerajinan tenun, artefak kuno, hingga tarian tradisional."Jumlah kunjungan wisatawan meningkat. Kami bentuk sanggar sendiri pada 2009. Sanggar seni budaya ini membuat anggaran dasar dan anggaran rumah tangga agar bisa terus hidup," kata Kristoforus Niso yang akrab disapa Kristo, pemimpin sanggar wisata Riang Tana Tiba, saat ditemui Media Indonesia di Dusun Curu, Desa Liang Ndara.Profesi Kristo sebetulnya ialah petani. Penghasilannya tidak seberapa. Namun, sejak ia mengelola sanggar kesenian bersama puluhan keluarga di desanya, penghasilannya pun mulai berubah.Banyak petani di Desa Liang Ndara yang kemudian beralih profesi menjadi seniman, menyusul banyaknya wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut. Dalam catatan Kristo, kunjungan wisatawan ke desanya pada 2009 hanya satu kali kunjungan kelompok wisatawan. Kemudian pada 2010 naik menjadi lima kunjungan. Pada tahun berikutnya terus bertambah. Hingga 2014, sebanyak 98 grup wisatawan berkunjung ke Desa Liang Ndara. Namun, pada 2015, jumlah grup yang berkunjung turun menjadi 81 grup. Setiap grup beranggotakan 20 hingga 50 wisatawan.
Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung, terjalinlah kerja sama dengan beberapa biro perjalanan. Kini setiap pekan selalu ada lima kali pentas, hasil kerja sama antara biro perjalanan dan sanggar kesenian.Warga Desa Liang Ndara yang terjun sebagai pelaku seni pun makin sibuk menerima tawaran manggung baik di sanggar maupun di luar daerah. Hotel-hotel di Flores ataupun kabupaten tetangga sering mengundang grup kesenian dari sanggar wisata Riang Tana Tiba. "Kami bisa menghasilkan pemasukan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Kalau sedang ramai bisa lebih dari Rp2 juta, tergantung jumlah kunjungan wisatawan dan tawaran job. Kami hanya melayani grup, bukan perorangan," ujar Eti, putra tertua Hubertus. Keberhasilan sanggar wisata Riang Tana Tiba memopulerkan atraksi kesenian Desa Liang Ndara membuat Pemkab Manggarai Barat memberikan kesempatan kepada sanggar-sanggar kesenian bisa pentas reguler di Batu Cermin, sebuah objek wisata di Kota Labuan Bajo yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Sanggar milik Kristo itu mendapat jatah pentas setiap Sabtu pukul 16.00 Wita. Untuk pentas di Batu Cermin, tarif yang dipatok pun berbeda. Satu orang ditarik Rp100 ribu. Uang sebanyak itu dibagi untuk operator tur Rp20 ribu dan sisanya Rp80 ribu untuk sanggar. Kristo tidak melulu mengejar uang di setiap pementasan. Para anggota sanggar pun diajak bergerak melestarikan nilai-nilai budaya dengan mengadakan diskusi budaya, baik di desa ataupun di daerah lain. (PT/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved