Menjaga Kesenian di Tanah Manggarai

Alexander P Taum
24/8/2016 00:45
Menjaga Kesenian di Tanah Manggarai
(MI/ALEXANDER TAUM)

HARI masih pagi. Larik cahaya mentari menerabas dari hutan yang kaya akan flora dan fauna. Di punggung Gunung Mbeliling itu, di samping rumah Hubertus Muda, kicauan gagak bersahut-sahutan seperti sedang menyenandungkan sebuah lagu. Kendati subu udara cukup dingin, Eti, 32, dan Hubertus Muda, 56, bapak dan anak warga Dusun Melo, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, harus bergegas pergi. Seperti halnya desa-desa di kaki gunung, suhu udara cukup dingin. Saat itu suhu udara di Desa Liang Ndara berkisar 15 derajat celsius hingga 27 derajat celsius. Hubertus mengenakan songke (sarung khas Manggarai) dan 'sapu' terikat di kepalanya. Sementara itu, Eti mengenakan kebaya merah muda, dipadu rok bermotif tenunan khas Manggarai. Rambutnya disanggul. Riasan wajah secukupnya menambah cantik di wajahnya yang tirus.

"Kami harus ke sanggar pagi ini. Tepat pukul 08.00 pentas dimulai. Kali ini tamu grup dari Jakarta," ujar Hubertus kepada Media Indonesia sambil meminum secangkir kopi. Ayah dan putri sulungnya itu kemudian bergegas pergi. Mereka harus berada di arena minimal 30 menit sebelum pementasan dimulai. Kedua orang itu berjalan kaki menuju Dusun Pate Kantor, Desa Liang Ndara, yang berjarak 2 kilometer dari Dusun Melo tempat mereka tinggal. Saban hari ayah dan si sulung menghabiskan sebagian besar waktu mereka bekerja di sanggar wisata Riang Tana Tiba. Aktivitas mereka berlatih dan pentas memakan waktu sekitar 6 jam. Selebihnya Hubertus Muda menghabiskan waktu untuk bertani. Dalam perjalanan, Hubertus pun menceritakan kisah hidupnya sebagai seorang seniman tari. Ia bergabung ke sanggar wisata Riang Tana Tiba untuk berbagi pengalaman dengan anak muda. "Selain itu, untuk kepentingan menjaga keaslian budaya, saya memutuskan terlibat aktif di setiap pentas budaya," ungkap Hubertus. Ia sudah bergabung ke sanggar sejak 2009. Bersama beberapa pria di desa itu, mereka tergabung dalam tim penyanyi tradisional. Mereka bertugas menyanyi untuk mengiringi aneka tarian yang dibawakan sejumlah penari termasuk Eti, putri sulungnya.

Menurut Mik Gandhi, pemerhati sosial budaya dan bahasa Manggarai, penyanyi disebut ata cako atau solis. Sementara itu, mereka yang menjawab nyanyian berjumlah banyak orang disebut ata wale. Karena itu, tim penyanyi tersebut sering disebut ata cako ata wale. Hubertus menambahkan ada banyak jenis nyanyian khas Manggarai yang dilantunkan dalam pentas, disesuaikan dengan tarian. Seperti pada tarian Caci, ada lagu yang mengiringinya baik bersifat sedih maupun gembira. "Dalam tarian Caci, ada lagu yang mengiringi. Lagu itu bisa lagu sedih, ada juga lagu senang. Nyanyian sedih ketika penari terkena pukulan cambuk atau luka. Lagu sedih itu berisi ratapan mengenang sang pemain Caci, sedangkan lagu gembira berupa kebalikannya. Biasanya lagu itu dinyanyikan ketika sang pemain berhasil memukul pemain lawan. Semua nyanyian tergantung momen dari permainan Caci tersebut," terang Hubertus.

Tarian bambu
Sanggar wisata Riang Tana Tiba yang berada di jantung Kota Labuan Bajo menjadi tempat para seniman di wilayah itu mengekspresikan bakat kesenian mereka. Sebuah panggung dibangun di halaman pemilik sanggar wisata Riang Tana Tiba, Kristo Niso. Panggung yang cukup sederhana itu cukup ramai didatangi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bersana 28 anggota sanggar lainnya, Hebertus bersama putri sulungnya beraksi di atas panggung. Gong dan gendang yang ditabuh perempuan-perempuan paruh baya mengiringi hentakan kaki dan gemulai penari. Tarian Tetek Alu atau tarian bambu mengawali pentas pagi itu. Dua orang memegang dua bagian ujung bambu. Kedua bambu kemudian digerakkan membuka dan menutup dengan irama yang sama. Eti bersama rekan penari perempuan lainnya lincah menari sambil meloncat di antara hentakan bambu yang seolah hendak menjepit kaki. Eti berhasil melewati rintangan bambu tersebut. Namun, tidak demikian dengan para tamu atau penonton yang ingin bermain. Kaki para tamu yang ikut menari kerap terjepit di sela-sela bambu karena tidak cekatan saat melompat. Ketua sanggar Riang Tana Tiba, Kristo Nison, menjelaskan tarian bambu sebagai hiburan massal rakyat sekaligus uji kelincahan ketangkasan dan ajang pencarian jodoh. "Orang terkesima ketika seseorang tidak terjepit bambu, pasti menjadi perhatian dan mendapatkan jodoh," ujar Kristo Nison. Setelah tarian bambu, para penari membawakan tari Caci yang terkenal itu. Tarian perang itu dimainkan dengan sukacita. Di setiap peristiwa selalu ada nyanyian sekalipun penarinya terkena pukulan.

Kristo mengungkapkan tari Caci ialah tarian memuji dan menghormati arwah leluhur yang disampaikan dengan perasaan gembira. "Walaupun penarinya dipukul tetap bisa bernyanyi gembira. Tidak ada permusuhan meski dipukul," tambah Kristo. Seusai tarian Caci, para penari membawakan tarian Ago Mawo tentang harapan petani agar hasil panen padi tidak habis sampai musim panen berikutnya. Masyarakat Manggarai menyebut tarian itu Penci Kole yang berarti selalu ada, selalu lebih. Panggung pun ditutup dengan tarian Dudun Dake yang berarti persahabatan, persatuan, dan perdamaian. Para tamu ataupun penonton diajak menari bersama. Mereka juga disuguhi kopi robusta hangat. Setelah para tamu pulang, para seniman berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari ketua sanggar. Dalam pengarahan itu, Kristo memberikan kabar bahwa besok tamu yang hadir dari Selandia Baru. Hubertus dan Eti pun kemudian pulang dengan wajah letih tapi bahagia. Hari itu mereka sukses menghibur para tamu dari Jakarta. Esok pun masih ada pekerjaan yang sama untuk menjamu tamu lainnya. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya