Harapan Membubung di Waduk Jatigede

Sonny Budhi Ramdhani
12/8/2015 00:00
Harapan Membubung di Waduk Jatigede
(MI/Arief Pratama)
SEJAK terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat pada 2008 lalu, Ahmad Heryawan memberi perhatian besar pada masalah pertanian dan petani. Karena itu, ia juga sangat bersemangat mendukung pembangunan dan pengoperasian Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang. "Saya ini anak petani. Waduk Jatigede akan membuat petani di Cirebon, Majalengka, dan Indramayu bisa lebih sejahtera," ungkap pria kelahiran Desa Margaluyu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi itu.

Dengan lancarnya air ke persawahan di tiga daerah itu, panen yang dihasilkan diyakini akan lebih banyak. "Ada 90 ribu hektare kawasan persawahan di Cirebon, Majalengka, dan Indramayu yang biasanya panen maksimal dua kali bisa ditingkatkan menjadi empat kali," ujar Aher, panggilan akrab Heryawan.

Bupati nonaktif Sumedang Ade Irawan punya catatan sendiri. Selain ke tiga daerah, air dari Jatigede akan mengalir ke Sumedang dan Kuningan. "Kekeringan tidak akan berdampak besar, seperti yang terjadi saat ini." Manfaat lain Waduk Jatigede ialah tersedianya pasokan air baku untuk diolah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di sejumlah daerah menjadi air bersih.

Jutaan rumah tangga dipastikan akan mendapat manfaatnya. Selain itu, sambung Aher, Waduk Jatigede secara simultan bisa meminimalisasi dampak banjir saat musim penghujan. Di kawasan pantura, setidaknya ada 76.700 hektare sawah akan bebas banjir karena air hujan dialirkan ke bendungan ini.

Dengan situasi itu, Pemprov Jawa Barat menghitung akan terjadi proyeksi kenaikan hasil panen pada 90 ribu hektare sawah serta 14 ribu hektare sawah tadah hujan dan tanaman sayur-sayuran. Manfaat lain tentu saja terkait dengan pasokan listrik nasional. Pengoperasian Waduk Jatigede bakal menghasilkan daya listrik sebesar 110 megawatt dengan digerakkannya dua turbin pembangkit listrik tenaga air.

Sumedang mendapat manfaat paling besar. Ada kenaikan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) dari sektor retribusi listrik, perikanan air tawar, hingga pariwisata. "Pemanfaatan waduk ini diproyeksikan bisa optimal karena kondisi di daerah aliran Sungai Cimanuk terus diperbaiki," jelas Aher.

Saat musim kemarau, DAS Cimanuk mengalami fluktuasi debit, yang tercatat di Bendung Rentang. Imbasnya, lahan kritis pada kawasan itu telah mencapai areal seluas 110 ribu hektare atau 31% dari total luas daerah aliran Sungai Cimanuk. Waduk Jatigede diproyeksikan memiliki luas daerah tangkapan mencapai 1.462 kilometer persegi dengan lahan kritis 408,75 km2 atau sekitar 28%-nya. Dari perhitungan itu, di atas kertas akan terjadi pengurangan signifikan luasan lahan kritis tersebut.

Zona komersial
Waduk Jatigede menggunakan lahan 147,05 hektare, terdiri atas lahan masyarakat sekitar 88,75 hektare dan lahan kehutanan sekitar 58,3 hektare. Kawasan itu, seperti diungkapkan Kepala Pembangunan Waduk Jatigede Airlangga Mardjono, akan menghadirkan kawasan ekonomi baru. Zona komersial sudah disiapkan.

Di atas zona itu, sudah ada rencana untuk membangun sarana taman air dan lapangan golf yang pembangunannya dikerjasamakan dengan investor. "Kami juga menyiapkan zona wisata seni budaya dan ketangkasan yang di dalamnya terdapat wisata seni budaya, outbond, dan offroad. Lalu ada zona wisata khusus untuk aktivitas olahraga air dan wisata relief, dan terakhir ada zona wisata Arboretum dan perlindungan," tambahnya.

Airlangga menambahkan pemandangan indah sudah bisa direguk pengunjung begitu masuk pintu gerbang utama. Wisatawan akan dimanjakan hamparan pohon kawasan Arboretum yang di dalamnya terdapat Gunung Tiru. Di jalur kiri waduk, ada kawasan seluas 22 hektare yang direncanakan untuk mewadahi kegiatan off-road.

Dari sana, warga bisa memasuki hotel yang akan dibangun di areal 2,6 hektare. Keluar dari hotel, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau dari dermaga, dan dari dermaga itu pula bisa mencari perahu untuk sekadar mengitari danau. Fasilitas lain, di sebelah selatan hotel, di kaki Gunung Haruman tersedia camping ground, wisata ketangkasan, pasar buah, dan pasar kuliner.

"Bila warga melanjutkan perjalanan ke arah utara melalui sisi barat waduk, mereka bisa menikmati kawasan agrowisata dan perkebunan seluas 42 hektare yang terhampar memanjang di pinggir waduk. Sebelahnya, ada lahan memancing seluas 45 hektare yang dilengkapi pasar ikan," ungkap Airlangga.

Digenangi 31 Agustus
Waduk Jatigede mengandalkan pasokan air dari Sungai Cimanuk. Penggenangan waduk, seperti diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, akan dilakukan pada 31 Agustus. Sebelumnya, rencana awal bendungan akan dialiri pada 1 Agustus. Pengunduran waktu hingga sebulan itu untuk menyelesaikan pembayaran ganti rugi bagi warga sekaligus merelokasi sejumlah situs yang ada di lokasi waduk.

"Jumlah total kepala keluarga yang harus mendapat ganti rugi mencapai 10.924 orang. Sebanyak 5.606 kepala keluarga sudah mendapat ganti rugi dan sisanya 5.318 keluarga masih dalam proses," kata Menteri, Kamis (6/8) lalu. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan menyatakan kepala keluarga kategori A memperoleh ganti rugi Rp129 juta per orang dan sudah tuntas dibayar pada era 1980-an.

Untuk kategori B, ada 6.410 kepala keluarga dengan nilai ganti rugi Rp29 juta per orang. Penyelesaian sisa ganti rugi bangunan, tanah, dan tanaman, lanjut Basuki, diperkirakan membutuhkan waktu 20 hari. Saat ini, rata-rata kecepatan pengurusan ganti rugi ialah 400 kepala keluarga per hari.

Ada proses administrasi, terutama pengurusan pewarisan dari penerima yang sudah meninggal dunia kepada ahli waris. "Dengan progres tersebut, kami rencanakan kembali pengalihan atau penutupan saluran pengelak untuk pengalihan aliran Sungai Cimanuk yang akan kami lakukan insya Allah pada 31 Agustus 2015," tandasnya.

Proses penggenangan waduk dilakukan secara bertahap, hingga menutup waduk secara penuh yang diperkirakan butuh waktu hingga 219 hari. Penggenangan Waduk Jatigede yang sudah di depan mata membuat Aher bisa berlega hati. "Manfaat Jatigede jelas sangat besar. Yang pertama merasakannya ialah masyarakat Jawa Barat."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya