GELOMBANG tinggi yang melanda Laut Jawa belum mereda. Akibatya pelayaran di pantura Jawa Tengah lumpuh, sehingga terjadi penumpukan barang yang gagal diberangkatkan di pelabuhan, kemarin. Ribuan kapal nelayan, kapal angkut penumpang, dan kapal barang masih tertahan tidak dapat berlayar.
Kapal-kapal itu bersandar di pelabuhan perikanan dan pelabuhan umum di sepanjang jalur pantura. Kapal-kapal nelayan baik berukuran kecil, sedang, dan besar sebagian disandarkan di muara sungai dan sebagian di pelabuhan perikanan sepanjang pantura Jawa mulai Pemalang di wilayah barat Jateng hingga Rembang yang berada di wilayah timur Jateng.
"Kita belum berani melaut, karena gelombang setinggi rumah dan dapat dengan mudah membalikkan perahu dan kapal ikan," kata Marjono, 52, nelayan di Pelabuhan Perikanan Gisik Agung, Rembang. Di pelabuhan umum seperti Tanjung Emas Semarang dan Kartini Jepara, beberapa kapal barang dan penumpang juga belum beranjak dari dermaga.
Puluhan kapal phinisi dengan rute Semarang-Kalimantan masih bersandar, dan truk-truk membongkar barang untuk dinaikkan ke kapal. Namun sebagian truk yang mengangkut sembako dan sayuran memilih tidak membongkar, karena belum ada kepastian keberangkatan kapal. "Khawatir barang yang kami kirim membusuk karena belum ada kepastian kapan kapal berangkat ke Kalimantan," kata Purwanto, 45, distributor barang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Cuaca buruk juga masih menerpa pantai selatan Jawa di Cilacap, Jateng, dengan tinggi gelombang 5 meter. Dampaknya harga ikan mulai terdongkrak karena tidak banyak nelayan yang melaut. Kini, Harga kakap merah dari Rp40 ribu/kg menjadi Rp55 ribu/kg, ikan kembung naik dari Rp16 ribu/kg jadi Rp25 ribu/kg kg.
Nelayan di Balikpapan, Kalimantan Timur, enggan melaut karena badai angin kencang selama sepekan terakhir. Akibatnya harga ikan terkerek seperti teri dari harga Rp10 ribu per kg menjadi Rp30 ribu per kg, dan ikan layang kini dibanderol Rp35 ribu per kg, dari harga sebelumnya Rp15 ribu per kg.