Titik Api Bertambah Hujan Buatan Ditebar

AR/RK/FU/TS/MY/DY/Ant/N-3
12/8/2015 00:00
Titik Api Bertambah Hujan Buatan Ditebar
( ANTARA FOTO/Feny Selly)
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar hujan buatan untuk mengatasi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Operasi modifikasi cuaca yang bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu dijadwalkan berlangsung selama dua bulan.

"Kecenderungan hot spot (titik api) kebakaran hutan dan lahan semakin meningkat sehingga jarak pandang juga semakin terganggu. Karena itu, perlu dilakukan modifikasi cuaca," kata Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjunan Tambunan, di Pontianak, kemarin. Berdasarkan pantauan satelit NOAA-18, terdapat 1.692 titik api

kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sejak 1 Januari hingga 9 Agustus. Sekitar 36% atau 616 titik api berada di Kalimantan Barat.  Intensitas hujan yang mulai menurun sejak pertengahan tahun mengakibatkan titik api di Kalimantan Barat melonjak hingga 230 titik Juli lalu.

"Potensi hujan dalam seminggu ini tetap ada, tapi intensitasnya rendah. Karena itu, modifikasi cuaca dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan tersebut," jelas Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPTF Heru Widodo. Hujan buatan di Kalimantan Barat difokuskan di Pontianak dan wilayah sekitarnya.

Operasi serupa juga akan digelar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di Riau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengklaim kebakaran lahan di areal seluas 1.872 hektare di lahan produktif dan nonproduktif telah dipadamkan. Dua bulan terakhir, total lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai 1.880 hektare.

Saat ini, ungkap Kepala BPBD Riau Edwar Sanger, masih tersisa 8 hektare lahan yang terbakar. Proses pemadaman masih dilakukan melalui darat dan laut. Ia menambahkan kebakaran lahan dan hutan di Riau terjadi di 12 kabupaten dan kota. Pelalawan, Bengkalis, Rokan Hilir, Siak, Kampar, dan Pekanbaru menjadi lokasi yang terparah.

BMKG Stasiun Pekanbaru menyatakan sebagian besar wilayah di Riau telah bersih dari kabut asap dampak kebakaran lahan dan hutan setelah hujan terus mengguyur dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya guguran lava di Gunung Merapi meski tidak membahayakan warga.

"Guguran lavanya kecil. Warga tidak perlu risau karena kondisi Merapi masih normal," ungkap Kepala Seksi Gunung Merapi Kusdaryanto. Guguran lava mengarah ke Sungai Lamat, di lereng barat Gunung Merapi. Jarak luncurnya tidak sampai 1 kilometer, dengan ukuran bervariasi mulai batu kerikil sampai ukuran batu bongkahan.

Yang paling besar diameternya tidak sampai 1 meter. "Tidak membahayakan masyarakat," jelas Kusdaryanto. Ia menegaskan guguran lava yang terjadi pagi hari itu bukan disebabkan peningkatan aktivitas Gunung Merapi atau ada magma yang naik ke atas. "Itu karena pengaruh cuaca. Kemarau menyebabkan kemiringan di lereng Merapi menjadi kering. Faktor lain mungkin dipicu aktivitas gempa-gempa tektonis."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya