NTT Atasi Krisis Listrik dengan Pembangkit Listrik EBT

Palce Amalo
20/8/2016 21:01
NTT Atasi Krisis Listrik dengan Pembangkit Listrik EBT
(MI/Panca Syurkani)

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus meretas krisis listrik di daerah itu dengan mendanai pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan energi baru terbarukan (EBT).

Pembangunan pembangkit EBT bertujuan pemerataan listrik hingga desa-desa terpencil dan wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTT Boni Marisin mengatakan tindak lanjut pemerataan listrik di NTT sudah dilakukan sejak lama dalam bentuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), listrik tenaga panas bumi (PLTPB), pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH), dan pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL).

"Saat ini sedang dilakukan survei kecepatan arus laut di Selat Gonzalu di Flores Timur dan sejumlah perairan untuk pembangunan pembangkit," kata Boni ketika dihubungi di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (20/8).

Kecepatan arus di selat tersebut pernah disurvei Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Hasilnya kecepatan arus antara 3,8-4,5 meter per detik. Bahkan pada saat tertentu, kecepatan arus mencapai tujuh meter per detik yang diprediksi akan menghasilkan energi listrik 300 megawatt.

Selain itu, dilakukan pembangunan PLTPB Ulumbu di Kabupaten Manggarai dan Mataloko di Kabupaten Ngada. Dua pembangkit ini telah beroperasi, termasuk PLTS di Kabupaten Kupang.

Pada tahun anggaran 2017, pemerintah dijadwalkan membangun empat PLTS masing-masing satu pembangkit di Pulau Rote, dan tiga pembangkit lagi di Pulau Alor.

Menurutnya, pembangunan pembangkit listrik berbasis EBT menjadi prioritas utama mengingat potensinya yang besar di NTT.

Seperti di Pulau Sumba, pemerintah bersama PT PLN sedang menjalankan program menjadikan pulau seluas 10.710 kilometer persegi tersebut sebagai pulau ikonik EBT guna menghapus ketergantungan terhadap bahan baku fosil.

Sesuai data PLN Wilayah NTT, selama lebih dari 10 tahun sudah dibangun 23 pembangkit EBT meliputi pembangkit mikrohidro, pembangkit tenaga bayu dan pembangkit tenaga surya.

Sesuai prakiraan PLN, jika seluruh pembangkit tersebut beroperasi, akan menghasilkan daya listrik sebesar 11.815 Kw atau lebih besar dari beban puncak di Sumba saat ini 10.884 Kw.

Selain itu, di Pulau Timor, secara perlahan PLN mulai mengalihkan pasokan listrik yang sebelumnya bersumber dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) setelah beroperasinya PLTU Bolok di Kabupaten Kupang berkapasitas 2x16,5 Mw dan PLTU IPP Bolok 2x15 Mw.

PLTU berlokasi di ujung selatan Pulau Timor ini dihubungkan dengan SUTT 70 Kv agar bisa terhubung ke PLTU Atapupu di Kabupate Belu berkapasitas 4x6 Mw. Selain itu PLN juga dijadwalkan membangun PLTU Timor 1 berkapasitas 2x25 Mw pada tahun anggaran 2018/2019, dan PLTU Timor 2 berkapasitas 25 Mw pada 2022.

Menurut Boni, jika seluruh pembangkit EBT beroperasi, ketergantungan terhadap bahan bakar diesel menjadi berkurang. Hal itu sejalan program pemerintah yakni menyediakan akses energi bersih bagi masyarakat, sekaligus menghapus ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya