Urine Ternak untuk Pupuk

MY/YR/N-3
20/8/2016 03:51
Urine Ternak untuk Pupuk
(ANTARA/Jessica Wuysang)

KELANGKAAN pupuk yang terjadi di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, menyebabkan petani menggunakan urine ternak sebagai pengganti pupuk organik cair.

Kelangkaan pupuk di kabupaten itu sudah lama dikeluhkan para petani.

Mereka akhirnya menemukan jalan keluar menggunakan air kencing dari hewan ternak sapi, kambing, dan kerbau sebagai pengganti pupuk organik.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Amrul Eby, di Bengkulu, membenarkan terjadinya kelangkaan pupuk setiap memasuki musim tanam.

"Terutama pupuk jenis urea selalu hilang dari pasaran sehingga petani membuat pupuk alternatif sebagai solusi," kata Amrul, kemarin.

"Urine ternak mulai dijadikan pupuk organik cair alternatif karena bahan bakunya di Kabupaten Rejang Lebong berlimpah. Dengan begitu, kebutuhan pupuk cair dapat terpenuhi dengan metode penyaringan dan pembusukan," tambahnya.

Suprianto, 45, petani dari Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, memilih menggunakan pupuk alternatif karena pupuk nonsubsidi harganya mahal.

"Petugas penyuluhan sudah melakukan sosialisasi di desa-desa agar memanfaatkan pupuk alternatif ini," ungkap Suprianto.

Stok aman

Di Nusa Tenggara Barat, PT Pupuk Indonesia (persero) menjamin kebutuhan pupuk bersubsidi untuk wilayah tersebut aman hingga lima bulan mendatang.

Direktur Umum Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat di sela-sela kunjungan kerja Menteri Pertanian ke NTB, kemarin, mengatakan bahwa saat ini total stok pupuk bersubsidi untuk NTB per 16 Agustus ialah 69.770 ton.

Angka itu mencapai lebih dari 10 kali lipat dari ketentuan stok pemerintah, yaitu 5.325 ton.

Rincian stok pupuk urea bersubsidi tersebut ialah 35.151 ton urea, 4.104 ton SP-36, 6.632 ton ZA, 18.493 ton NPK, dan 5.389 ton pupuk organik.

Secara nasional, stok pupuk bersubsidi saat ini mencapai 1,28 juta ton.

Menurut Aas, Pupuk Indonesia telah berkomitmen untuk mengamankan pasokan pupuk dan berjaga-jaga menghadapi musim tanam.

"Fenomena iklim dan cuaca belakangan ini membuat terjadinya pergeseran musim tanam. Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan, kami membuat kebijakan membangun stok di atas ketentuan," ujarnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya