Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
CUACA panas dengan sinar matahari menyengat menyelimuti jalur pantura, siang itu.
Sejak pagi, puluhan truk pengangkut sampah keluar-masuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Degayu, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Begitu sampah yang diambil dari pasar dan berbagai sudut kota itu dimuntahkan, ratusan pemulung langsung mengerubung.
Sampah plastik yang masih dapat dijual menjadi buruan mereka.
Itulah pemandangan di Zona II yang luasnya mencapai 16 ribu meter persegi.
Selain itu, masih ada sampah yang menumpuk hingga 15 meter di Zona I yang luasnya 8.000 meter.
Pengelola TPA Degayu kini juga mempersiapkan lahan pembuangan lain, yakni Zona III seluas 11 ribu meter persegi.
"Setiap hari setidaknya sebanyak 120-150 ton sampah dibuang di sini. Saat ini TPA Degayu sudah hampir penuh dan hanya menyisakan 0,8 hektare lahan," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pekalongan Sutarno.
Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah sampah yang ditampung di TPA Degayu, lanjut Sutarno, jalan keluar untuk mengatasinya harus dicari.
Kondisi TPA pun sangat rawan, yakni kebakaran saat musim kemarau atau longsor saat musim penghujan, bahkan aroma yang tidak sedap juga mengganggu lingkungan.
Untuk mengatasi tumpukan sampah yang terus menggunung, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan mengundang investor untuk menggarap sampah menjadi hal yang berguna.
Lewat berbagai studi dan penelitian yang dilakukan investor dari Korea, mereka sepakat mendirikan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) di TPA itu.
Investasi untuk PLTS ini mencapai Rp300 miliar yang digelontorkan investor Korea dan difasilitasi Perusahaan Daerah (PD) Citra Mandiri Jawa Tengah (CMJT).
Tahapan kerja sama itu mencapai penandatangan nota kesepakatan antara para pihak yang terkait pada Kamis (18/8).
"Biasanya kalau di Korea pemerintah Korea akan membayar pihak swasta yang mengelola sampah, tetapi dalam pengelolaan di sini semua biaya dikeluarkan investor," kata Direktur Umum dan Keuangan CMJT, Agung Rochmadi.
Pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) yang segera dibangun ini direncanakan menyerap 290 ton sampah per hari.
Dari situ diperhitungkan dapat diproduksi daya listrik sebanyak 5 megawatt, dengan 1,5 megawatt di antaranya digunakan pengelola. Sisanya akan dijual kepada PLN.
Pembelian listrik dari pengolahan sampah oleh PLN memang telah diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 44 Tahun 2015 tentang Pembelian Tenaga Listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (persero) dari pembangkit listrik berbasis sampah kota.
Ironi impor sampah
Angka kebutuhan 290 ton sampah per hari justru membawa ironi karena membuat TPA Degayu kekurangan sampah.
Volume sampah yang ada saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan PLTS selama 2-3 tahun.
Kekurangan sampah sebesar 140-170 ton per hari pun membawa pekerjaan rumah baru bagi Pemkot.
Wali Kota Pekalongan Alf Arslan Djunaid mengatakan akan meminta pengiriman sejumlah sampah yang tersedia di daerah tetangga, seperti Pemalang, Batang, dan Kabupaten Pekalongan.
"Kita akan minta impor sampah dari daerah tetangga untuk memenuhi kebutuhan sampah tersebut," tambahnya.
Di masa mendatang, lanjut Alf Arslan Djunaid, agar kebutuhan bahan baku sampah sebanyak 290 ton per hari dapat terpenuhi, pemkot akan melakukan kerja sama dengan Pemalang, Batang, dan Kab Pekalongan agar mereka menyuplai sampah di TPA Degayu yang mencapai luas 4,8 hektare.
Untuk mencegah konflik sosial dengan pemulung, Alf Arslan mengatakan pengelolaan PLTS nantinya akan tetap bekerja sama dengan masyarakat dan pemulung.
Teknologi PLTS sesungguhnya memang bukan hal baru di Indonesia.
Banyak pihak memanfaatkan teknologi itu untuk mengatasi tumpukan sampah.
Di sisi lain, banyak juga ahli yang mengkhawatirkan pemahaman gol besar pengelolaan sampah, yakni solusi terbaik ialah mengurangi sampah dari sumbernya, baik dari rumah tangga maupun industri dengan cara daur ulang.
Cara daur ulang inilah, serta gaya hidup minim sampah, yang berhasil membuat negara-negara maju mengurangi volume sampah.
Bahkan banyak TPA yang ditutup karena volume sampah telah berkurang drastis. (AS/M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved