Saat Laut makin Asin

Siti Retno Wulandari
20/8/2016 02:00
Saat Laut makin Asin
(MI/PANCA SYURKANI)

HEWAN invertebrata seperti kerang dan kepiting mulai bermigrasi, mencari tempat yang aman agar dapat tetap bertahan hidup.

Kondisi tersebut terjadi lantaran meningkatnya salinitas pada perairan di wilayah pesisir.

Salah satunya daerah Pantai Slaughter di Delaware, Ohio, Amerika Serikat.

Demikian beberapa hasil studi awal mengenai dampak evaporasi terhadap air tanah dan salinitas yang diterbitkan portal daring, Science Reports.

Penelitian yang dilakukan New Jersey Institute of Technology's Center for Natural Resources Development (CNRDP) diketuai dua orang yang merupakan pakar lingkungan dan ahli geologi pesisir.

Hasilnya mengejutkan, endapan dari beberapa bagian Pantai Slaughter di Delaware memiliki konsentrasi garam empat kalo lebih tinggi jika dibandingkan dengan intensitas datangnya air laut ke wilayah tersebut.

Peneliti menghitung konsentrasi garam pada air laut di sekitar pantai tersebut mencapai angka 25 gram per liter (g/l) sehingga peneliti memperkirakan air di bawah permukaan tanah pun memiliki kondisi serupa atau lebih rendah lantaran air bercampur.

Namun, mereka menemukan angka rata-rata salinitas di daerah pasang surut saat kondisi pasang tinggi mencapai 60 g/l dan di beberapa kesempatan pernah mencapai angka 100 g/l.

"Naiknya salinitas ini karena evaporasi karena tidak ada mekanisme lain yang menyebabkan konsentrasi garam meningkat pada air di bawah permukaan tanah," kata Xiaolong Geng, anggota pascasarjana di NJIT dan penulis utama penelitian itu seperti dilansir dalam situs Science Daily.

Dari penelitian tersebut, dicatat evaporasi dan salinitas terutama disebabkan perubahan suhu dan kelembapan.

Sementara itu, gelombang pasang dan arus gelombang justru menurunkan kadar garam di pantai.

Intrusi air laut juga menjadi penyebab naiknya kadar garam pada air darat seperti disebutkan dalam penelitian terdahulu.

Karena itu, penelitian itu diharapkan menjadi dasar untuk mengubah manajemen pengaturan air di wilayah pesisir.

Analisis tim dilakukan dengan menggunakan sekitar 400 endapan yang dikumpulkan dengan lengkap saat kondisi pasang surut, dari pagi hingga malam hari, dan selama tujuh hari berturut-turut.

Penelitian itu tak hanya membahas air darat menjadi asin, tetapi juga habitat yang kerap berada di daerah pesisir, seperti kepiting, kerang, anemon laut, dan beberapa burung, serta tumbuhan seperti kelp.

Hewan-hewan tersebut kerap menggali pasir untuk mencari makan ataupun mencari tempat perlindungan dari ancaman predator juga arus gelombang.

"Evaporasi menjadi penggerak penting pada aliran air di bawah permukaan tanah. Hewan seperti kerang dan kepiting akan terkena dampak secara langsung akibat salinitas. Jika konsentrasi meninggi atau menurun, mereka akan berpindah," ungkap Geng.

Variasi suhu besar

Naiknya salinitas tidak selalu sama antara daerah pesisir satu dan pesisir lainnya, apalagi jika sudah berbeda negara.

Guru Besar Kelautan dan Pesisir Institut Pertanian Bogor (IPB), Dietrich G Bengen, mengatakan negara empat musim dengan negara dua musim memiliki variasi suhu dan kelembapan yang berbeda.

Jika variasi suhunya semakin besar, semakin besar pula angka kenaikan salinitasnya.

"Kalau memiliki empat musim, sudah pasti perbedaan suhu dari dingin ke panasnya itu sangat besar. Suhu naik menjadi panas, evaporasi (penguapan) ikut naik, salinitas juga bergerak sama. Apalagi dipastikan kalau di negara empat musim, saat panas sama sekali enggak ada hujan," jelas Bengen saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis(18/8).

Kenaikan suhu juga salah satunya dipicu perubahan iklim secara global. Di Indonesia, kasus kenaikan salinitas secara drastis memang belum ada.

Hal tersebut disebabkan variasi suhu di Indonesia kecil dan kerap terjadi anomali cuaca.

Meskipun sedang musim kemarau, hujan pasti beberapa kali datang.

Kenaikan salinitas tentu berbahaya bagi organisme yang ada di sekitar pesisir pantai.

Mengapa daerah pesisir rentan akan kenaikan salinitas? Bengen menjelaskan itu disebabkan daerah pesisir merupakan perairan dangkal.

Kondisi airnya tidak sebanyak dengan perairan dalam sehingga saat terjadi penguapan, ada kondisi yang disebut dengan pemekatan kadar garam.

Umumnya kenaikan salinitas juga terjadi di wilayah perairan tertutup, teluk dengan mulut yang kecil.

"Analoginya, kalau air sedikit dengan air banyak diberi garam dengan ukuran yang sama, hasilnya pasti berbeda. Yang airnya sedikit pasti lebih pekat. Itu yang terjadi di wilayah pesisir," pungkasnya.

Hal serupa dikatakan Wakil Ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, Edvin Aldrian.

Ia mengatakan ada hubungan antara hujan dan evaporasi yang membuat salinitas seimbang.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan evaporasi berkurang, salinitas akan turun dan air laut dapat dikatakan lebih segar.

Jika yang terjadi sebaliknya, air laut semakin asin.

"Masukan air tawar dari hujan berkurang sehingga salinitas naik. Penyebab lainnya bisa karena munculnya arus dari laut dalam menyembul ke permukaan, arus dalam pasti membawa salinitas yang lebih tinggi," ucap Aldrian. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya