JUMLAH titik panas (hot spot) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Juli hingga Agustus terus meningkat. Saat ini terpantau 256 titik panas tersebar di 14 kabupaten di Kalimantan Tengah. Hasil pantauan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, jumlah terbanyak terdapat di di Kabupaten Katingan dan Kotawaringin Barat, masing-masing 37 titik.
Kepala BKSDA Kalteng Nandang Prihadi menjelaskan saat ini areal yang terbakar dan telah dilakukan pemadaman oleh BKSDA seluas 74 hektare. Wilayah kebakaran terjadi di luar area konservasi. Kebanyakan lahan tersebut milik warga. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG) Bandara Haji Asan Sampit, curah hujan yang terjadi pada awal Juli hingga awal Agustus hanya mencapai 9 mililiter.
"Padahal normalnya mencapai 60 mililiter," terang Yulida Marni, Kepala BMKG Bandara Haji Asan Sampit. Kondisi tersebut mengakibatkan kekeringan ekstrem hingga awal Oktober. "Kebakaran hutan dan lahan terjadi pada 2 Agustus lalu. Kabut asap kebakaran lahan sudah terasa di Kota Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur," ujarnya. Kabut asap juga mulai menyelimuti Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sejak beberapa hari terakhir. Pesawat Lion Air rute Surabaya-Banjarmasin gagal mendarat kemarin. Pesawat terpaksa mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.
General Manager PT Angkasa Pura Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin, Handy Heryudithiawan, saat dimintai konfi rmasi membenarkan adanya kabut asap yang menyelimuti bandara tersebut. "Kabut asap yang menyelimuti bandara sangat pekat sehingga jarak pandang berkurang," kata Handy. Kabut asap pekat membuat jarak pandang kurang dari 100 meter. Padahal jarak pandang untuk penerbangan yang aman minimal 1 kilometer. "Jika jarak pandang untuk penerbangan berkurang, praktis untuk alasan keselamatan penerbangan ditunda," tegasnya. Kabut asap berasal dari kebakaran lahan pertanian dan semak di Kalsel serta kiriman dari Kalteng.