Debit Sungai Serayu Turun 90%

LILIEK DHARMAWAN
10/8/2015 00:00
Debit Sungai Serayu Turun 90%
(ANTARA/DEDHEZ ANGGARA)
KEMARAU menyebabkan debit air sungai dan waduk menyusut. Di Jawa Tengah, debit air Sungai Serayu bagian barat turun drastis hingga 90%. Padahal, pada musim penghujan, biasanya debit air bisa mencapai 200 meter kubik (m3) per detik. Kini, debit Sungai Serayu hanya tersisa 20 m3 per detik. Dengan kondisi itu, mulai 20 Agustus mendatang, aliran irigasi yang biasanya mengaliri 20 ribu hektare lebih sawah itu akan ditutup. Kepala Unit Pengelola Bendung Gerak Serayu, Toto Rahardjo, mengatakan, memasuki musim kemarau, debit air di Serayu
menurun drastis karena tidak ada pasokan air hujan dan dari anak-anak sungai.

"Meski debit air menurun, kebutuhan air di hilir masih tetap terjaga. Pintu Bendung Gerak Serayu tetap membuat elevasi air pada kisaran 12 meter. Jadi, pada musim kemarau seperti sekarang ini, elevasi air harus dipertahankan normal sehingga kebutuhan air di hilir tercukupi," ujar Toto, kemarin. Aliran irigasi dari Bendung Gerak Serayu biasanya memasok 20 ribu hektare lebih areal persawahan di Banyumas, Cilacap, dan Kebumen.

Di Sukoharjo, kemarau menyebabkan petani sawah teknis di wilayah itu harus berkreasi mengelola air secara mandiri agar tidak gagal panen. Apalagi, debit Dam Colo yang menjadi sumber utama irigasi sawah terus berkurang.  Perum Jasa Tirta I sudah memberikan peringatan, mulai Oktober hingga awal Desember, pintu dam akan ditutup. "Saat mengetahui Jasa Tirta akan menutup Dam Colo untuk keperluan pengerukan, kami jadi gelisah. Kami harus siap dengan sumur pantek agar tanaman pangan tidak terganggu," kata koordinator Paguyuban Petani Pengguna Air Dam Colo Timur, Jigong Sarjanto.

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukoharjo siap membangun 12 sumur dalam untuk mengatasi krisis air di musim kemarau dengan menggunakan biaya Dana Alokasi Khusus 2015 sebesar Rp2,3 miliar. Pintu air rusak Di Magelang, pemkab setempat mengalokasikan anggaran sebesar Rp130 juta untuk memperbaiki kerusakan pintu air di 12 titik. Kemudian, Balai Besar Wilayah Serayu Opak juga akan memperbaiki kerusakan saluran irigasi di beberapa titik dengan biaya Rp4 miliar.

Krisis air juga berdampak pada hasil panen padi. Saat ini, hasil panen padi di Cilacap dan Banyumas turun hingga 20%. Penurunan produksi disebabkan tanaman padi tidak optimal mendapatkan pasokan air. Selain padi, pakan ternak sapi ikut terganggung akibat keke ringan. Seperti peternakan sapi di Kampung Torobosan, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi yang mulai kesulitan mencari rumput untuk pakan sapi. Pasokan rumput yang terbatas itu menyebabkan para peternak harus berebut pakan sapi.

Di bagian lain, kekeringan telah melanda 20 dari 22 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Badan Penanggulangan Bencana  Daerah NTT, Tini Thadeus, menjelaskan bencana kekeringan telah melanda 20 dari 22 kabupaten dan kota, termasuk enam kabupaten di Pulau Timor. Enam kabupaten itu ialah Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Belu, dan Malaka.  Di Bali, Pemkab Buleleng segera membangun embung untuk mengatasi kekeringan di lima desa, yakni Desa Pacung, Kubutambahan, Julah, Bondalem, dan Bulian.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya