PAKAIAN kulit kayu warga perdesaan menarik perhatian puluhan ribu warga yang memadati Stadion Mini, di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, akhir pekan lalu. Mereka berjejer di sisi jalan menuju stadion di pusat kota, saat Karnaval Budaya ke-II digelar. Puluhan warga asal Desa Kopidil, Kecamatan Alor Barat Laut, tampil dengan busana berbahan kulit kayu. Para pria membawa pedang yang dihunus sambil menari mengikuti irama gong dan tambur yang ditabuh selama perjalanan menuju lapangan.
Adapun para perempuan membawa wadah yang biasa digunakan masyarakat Alor ketika berangkat ke kebun. Warga yang berasal dari perkampungan tradisional Mombang itu masih mempertahankan tradisi pakaian kulit kayu secara turun-temurun. "Pakaian kayu dikenakan nenek moyang kami, sebelum masuknya peradaban modern. Nenek moyang kami sudah memakainya 2.000 tahun sebelum Masehi," kata Kepala Desa Kopidil Moses Oungkoil.
Ketika itu, masyarakat sudah memiliki kemampuan bercocok tanam, mengenakan pakaian dari kulit kayu, perhiasan terbuat dari kulit kerang, dan batu. Tempat tinggal mereka juga sudah menetap. "Kami akan tetap memelihara tradisi ini," ujar Moses. Untuk pakaian ini, warga memilih pohon ka. Karena itu, pakaian kulit kayu itu sering juga disebut pakaian ka. Proses pembuatan pakaian jenis ini sederhana. Setelah kulit dipisahkan dari pohon, bagian luarnya dibuang. Untuk mempertahankan tradisi ini, masyarakat Kopidil dilarang menebang pohon ka.
"Kami tetap menjaga agar pohon ka tidak punah karena hanya kulit kayu ini yang bisa dijahit menjadi pakaian," tandas Moses. Karnaval di Alor juga diikuti peserta dari Jawa, Bali, Rote, dan Sabu. "Karnaval ini merupakan promosi budaya terbesar yang kami gelar sejak 2014," ungkap Bupati Alor Amon Djobo.