Membuka Isolasi Daerah dari Balik Salju Abadi

MI
16/8/2016 08:58
Membuka Isolasi Daerah dari Balik Salju Abadi
(DOK.PEMKAB INTAN JAYA)

PESAWAT DHC-6 Twin Otter Avia Star mengantar kami dari Bandara Douw Atarure, Nabire, Papua, dalam penerbangan menuju Sugapa, Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya, tepat pukul 11.00 WIT.

Berkapasitas 13 orang penumpang, pesawat yang menjadi alat transportasi utama ke wilayah itu terbang di atas hijaunya hutan di wilayah gugusan Pegunungan Tengah Papua.

Kurang lebih 40 menit penerbangan, akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Bandar Udara Bilorai, Distrik Sugapa, Intan Jaya. Dengan panjang landasan 750 meter, kondisi bandara masih serbaterbatas karena belum dilengkapi dengan fasilitas terminal penumpang, apron, dan fasilitas penunjang lain.

Itulah pintu masuk satu-satunya ke Kabupaten Intan Jaya yang dimekarkan dari Kabupaten Induk Paniai pada 2008, baik untuk mobilitas manusia maupun barangbarang kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, tidak aneh bila harga kebutuhan pokok di wilayah yang tersebar di 8 distrik itu melambung sangat tinggi.Itulah juga yang menjadi tantangan terbesar pemerintah daerah hari-hari ini.

Sebagai contoh saja, harga semen mencapai Rp2,5 Juta per sak, beras Rp40 ribu/kg, dan bensin Rp50 ribu per liter.

“Inilah tantangan terbesar kami saat ini yaitu harga-harga kebutuhan pokok masyarakat dan material bangunan sangat tinggi.Bahkan khusus untuk material bangunan, kami di sini menempati indeks kemahalan konstruksi tertinggi di seluruh Papua dan tentunya Indonesia,“ kata Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni saat diwawancarai di kediamannya di Sugapa, Intan Jaya, Papua.

Sekadar perbandingan, Natalis memberikan contoh harga batu kali yang mungkin di daerah lain seharga Rp700 ribu-Rp1 Juta per bak mobil terbuka, di Intan Jaya menjadi Rp24 Juta dan pasir seharga Rp4 juta per bak mobil terbuka.

“Padahal ini kan bisa didatangkan dari wilayah ini sendiri, tetapi karena masyarakat mengikuti harga-harga kebutuhan pokok sehingga semuanya jadi mahal. Bisa dibayangkan barangbarang yang didatangkan dari luar yang diangkut menggunakan pesawat pasti sangat mahal,“ kata Natalis.

Ia memberikan contoh lagi, untuk pembangunan jalan mulai pembukaan baru sampai pengaspalan, pemerintah daerah harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp10,5 miliar per kilometer jalan.

“Jadi sejak awal kabupaten ini berdiri pada 2008 dan secara definitif pada 2012 kami melaksanakan pembangunan dalam kondisi seperti ini. Tetapi kami juga puas meskipun secara perlahan-lahan warna Intan Jaya hari ini sedikit demi sedikit kami poles dari yang tadinya hutan belantara dengan medan ekstrem bisa kami rintis perlahan-lahan,“ jelas Natalis.

Tampak memang di Sugapa yang menjadi ibu kota kabupaten, sarana dan prasarana fi sik seperti kantorkantor pemerintah, fasilitas listrik dan komunikasi, rumah sakit, sekolah, gereja sudah berdiri kukuh bahkan dilengkapi dengan rumah dinas bagi kurang lebih 7.000 pegawai negeri sipil yang mengabdi di daerah ini.

Natalis yang sebelum menjadi Bupati Intan Jaya sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum saat kabupaten itu terbentuk tahu betul bagaimana merancang pembangunan di wilayah ini pada masa-masa awal 2008.

“Tugas pertama kami saat itu membuka isolasi daerah ini dengan jalan darat dan sudah dipetakan mengikuti arah mata angin supaya terhubung ke kabupaten tetangga, misalnya, ke selatan di Mimika, utara ke Waropen, timur ke Puncak Jaya, dan barat ke Nabire dan Paniai. Dan saat ini, jalan darat ke Enarotali di Paniai tersisa 8 km lagi dari total 80 km sehingga kami berharap agar bisa sedikit menekan harga kebutuhan di sini. Itu yang paling pokok,” jelas Tabuni.

Itulah mengapa struktur APBD Kabupaten Intan Jaya, sambung dia, banyak dialokasikan ke belanja publik meskipun khusus untuk pembangunan infrastruktur jalan harus dianggarkan secara bertahap.

Sekitar 70% postur APBD Intan Jaya saat ini, jelas dia, dialokasikan untuk belanja publik, 25% untuk belanja pegawai, dan 5% hibah atau bantuan sosial seperti beasiswa pendidikan putra daerah yang kuliah di luar daerah, kegiatan keagamaan, budaya atau adat istiadat, dan bantuan langsung kepada masyarakat.

“Untuk publik yang paling besar ialah infrastruktur jalan dan jembatan untuk membuka isolasi daerah sehingga antardistrik yang saat ini sudah kami mekarkan jadi 8 distrik bisa terhubung dengan baik dan demikian mobilitas orang dan barang juga jadi lancar,” kata Natalis.

Dengan kondisi geografi s pegunungan yang sulit, kata dia, pemerintah daerah juga masih dihadapkan juga pada tantangan yang tidak ringan dari masyarakat sendiri.

Di Intan Jaya, jelas dia, sedang ada tren di masyarakat ‘kayu palang’, yakni aksi masyarakat yang suka menghalangi pembangunan jalan dengan memalang pembangunan dengan kayu karena berbagai alasan seperti lahan dan hak ulayat.

“Dan itu bukan satu dua kali tetapi hampir sering saat kami merintis jalan ada warga yang memalang dan meminta ganti rugi luar biasa besar sampai ratusan miliaran rupiah. Dan memang soal pelepasan tanah, pelepasan gunung, kepemilikan sungai, sering menjadi hambatan tersendiri untuk percepatan pembangunan. Makanya saya selalu berkelakar, kalau kayu yang paling mahal di dunia ini ada di sini namanya ‘kayu palang’,” kata Tabuni.

Padahal, menurut alumnus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu, potensi daerah ini sangat besar, seperti garam yang paling unik di dunia. Sebab, bila di daerah lain garam hanya ada di laut, di Intan Jaya garam ada di wilayah pegunungan.

Tidak kurang dari 10 titik di Intan Jaya terdapat potensi air garam alamiah yang dalam bahasa lokal disebut kumudu. “Khusus untuk garam ini kami sedang lakukan pengkajian karena alam ini memberikan daerah ini garam yang sangat besar potensinya. Jika ternyata hasilnya positif, suplai garam di seluruh Papua bisa dipasok dari sini,” kata Natalis.

Tak hanya itu, potensi perkebunan kopi, umbi-umbian, kayu damar, buah merah, dan markisa menjadi andalan daerah di samping potensi tambang emas dan bahan galian C yang tersebar di beberapa distrik, termasuk Blok B daerah eksplorasi PT Freeport Indonesia yang ada di wilayah ini.

Selain itu, tentu saja panorama alam pegunungan dengan hutan membentang di sepanjang pegunungan tengah Papua yang memesona. Ditambah lagi berbagai keanekaragaman hayati burung, seperti nuri, cenderawasih, dan kasuari.

Bahkan, Intan Jaya juga sedang dilirik dunia internasional dengan hadirnya wisata salju abadi di Pegunungan Cartenz yang oleh Kementerian Pariwisata sudah diresmikan masuk wilayah geografi s Kabupaten Intan Jaya. Warga setempat menyebut Puncak Cartenz dengan Pujapigu atau Mbainggelapa.

Rata-rata, wisatawan yang mendaki ke Puncak Cartenz saat ini, kata dia, kurang lebih 4-5 rombongan setiap bulannya.Dengan demikian, Natalis sedang membuka jalan agar wisata Gunung Cartenz yang naik melalui Kampung Ugimba dan Soagama di Distrik Hitadipa dan Ugimba agar bisa semakin mudah dijangkau.

“Dengan demikian, atas semua potensi yang ada kami tetap optimistis bisa maju setara dengan daerah lain dan terus berproses memperjuangkan ketertinggalan daerah ini sehingga upaya membuka isolasi daerah tentu saja akan terus menjadi prioritas kami ke depan,“ kata Tabuni.

Di penghujung masa jabatannya pada periode pertama ini, Natalis mengakui pembangunan itu sebuah proses, apalagi untuk sebuah daerah yang saat awal memerintah serbakekurangan. “Lain halnya dengan kabupaten yang sudah ada aturan, potensi pendapatan asli daerah (PAD), fasilitas, dan infrastruktur, tetapi kami terus berproses dengan optimisme,“ pungkas Natalis. (Ths/N-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya