Gelombang Tinggi Ancam Selatan Jawa Tengah

MI
15/8/2016 10:35
Gelombang Tinggi Ancam Selatan Jawa Tengah
(ANTARA/Nyoman Budhiana)

CUACA buruk yang melanda perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berlanjut. Ketinggian gelombang diperkirakan maksimal mencapai 5 meter dengan kecepatan angin hingga 25 knot.

Pengamat cuaca Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap, Rendi Krisnawan, mengatakan cuaca buruk terjadi di perairan sebelah selatan Cilacap, Kebumen, Purworejo hingga DIY.

"Ketinggian gelombang di pantai maksimal bisa mencapai 4 meter, sedangkan di samudra bisa lebih tinggi mencapai 5 meter," kata Rendi, kemarin (Minggu, 14/8).

Selain gelombang tinggi, hujan dengan intensitas ekstrem terjadi di Cilacap pada Sabtu (13/8). Curah hujan ekstrem terjadi di Kecamatan Jeruklegi dengan intensitas 139 milimeter dalam sehari. Akibatnya, sebuah desa di wilayah itu sempat dilanda banjir.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy, mengatakan hujan deras yang berlangsung akhir pekan lalu sempat merendam jalan keluar-masuk di Dusun Cikorol, Desa Brebeg, Kecamatan Jeruklegi.

"Pada laporan awal, ada 200 jiwa atau 75 keluarga yang terisolasi akibat jalan terendam hingga 1 meter. Namun, setelah hujan reda, banjir mulai surut," ujar Tri Komara, kemarin.

Di DIY, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul berharap di setiap tempat pelelangan ikan dilengkapi <>running text yang berisi informasi singkat tentang cuaca di perairan sekitar lokasi.

Di Bali, angin puting beliung yang terjadi kemarin, merusak puluhan rumah penduduk di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Angin puting beliung memorak-porandakan puluhan rumah di empat banjar sekitar pukul 08.00 Wita.

Di bagian lain, pergerakan tanah masih terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Seperti di Desa Nagrakjaya, Kecamatan Curugkembar, jumlah bangunan rumah yang rusak akibat bencana pergerakan tanah mencapai 321 unit dalam sebulan terakhir.

"Pergerakan tanah masih terjadi. Namun, sekarang mulai berkurang tidak seperti awal kejadian," kata Sekretaris Desa Nagrakjaya, Sugianto, kemarin.

Bencana pergerakan tanah juga melanda Desa Cimenteng. Sebanyak 1.200 jiwa warga setempat terpaksa mengungsi.(LD/AU/OL/BB/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya