Generasi Muda yang Berprestasi

SYARIEF OEBAIDILLAH
16/8/2016 01:30
Generasi Muda yang Berprestasi
(ANTARA/R. REKOTOMO)

DUNIA pendidikan Indonesia pantas berbangga. Medali emas tidak pernah lepas dari siswa-siswa yang dikirim ke luar untuk mengikuti berbagai olimpiade sains. Pada 10-17 Juli 2016, satu dari lima wakil Indonesia meraih emas di International Physics Olympiad (IphO) yang digelar di Zurich, Swiss. Selain satu emas, empat wakil lainnya meraih perak. Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud Purwadi mengatakan tahun ini Olimpiade tingkat dunia itu diikuti peserta dari 87 negara. Setiap negara mengirimkan tim yang terdiri atas lima peserta. “Alhamdulillah, tim pelajar fi sika dalam IPhO 2016 berhasil meraih semua medali. Lima orang yang kita kirim menyabet lima medali, yakni 1 emas dan 4 perak. Ini prestasi yang bagus untuk anak-anak kita di ajang internasional,” kata Hamid yang mengalungkan bunga kepada lima pelajar tim IPhO di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (18/7).

Ia menyatakan rasa bangganya karena prestasi anak-anak bangsa itu dan telah menyiapkan beasiswa hingga S-3 untuk peraih medali emas, S-2 bagi peraih medali perak, dan S-1 untuk peraih medali perunggu. “Silakan nanti mereka ajukan beasiswa jalur khusus ini untuk kita proses lebih lanjut,” kata Hamid lagi. Dalam IPhO 2016 itu, delegasi Indonesia dipimpin dosen Universitas Indonesia Syamsu Rosid dan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Kamsul Abraha. Sepekan kemudian, seorang siswa Indonesia lainnya menyabet medali emas di Olimpiade Biologi Internasional (IBO) ke-27 di Hanoi, Vietnam, 17-23 Juli 2016. Ajang itu diikuti 68 negara. Di ajang itu, Indonesia meraih empat medali. Selain 1 emas, juga ada 2 perak dan 1 perunggu. Jalur khusus beasiswa dalam dan luar negeri tengah disiapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bagi pelajar Indonesia yang meraih medali Olimpiade sains internasional. Inventor muda Masih di bulan yang sama, Juli, 2 dari 5 pelajar Indonesia menyabet medali emas dengan meyakinkan di ajang bergengsi International Exhibition for Young Inventors (IEYI) pada 15-20 Juli di Harbin, Tiongkok. Ajang itu merupakan lomba bagi para penemu muda sedunia. Dua siswa Indonesia, Feriawan Tan dan Aan Aria Nanda, asal SMA Negeri 1 Tarakan, Kalimantan Utara, meraih emas atas hasil karya inovasi berjudul Detector Box CO and CO2 atau disingkat D-Box CC. Alat itu jawaban bagi mereka yang tinggal di area rawan asap.

Alat tersebut mampu mendeteksi kadar gas karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2) yang berbahaya bagi manusia. “Kami terinspirasi membuat alat itu dari kejadian kabut asap beberapa waktu lalu. Daerah kami termasuk yang kena dampaknya,” kata Feriawan saat ditemui Media Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sepulang dari Tiongkok, Rabu (20/7). Selain medali emas, medali perak juga diraih pelajar asal Indonesia Ryan Timothy Abisha dengan inovasi tong sampah pintar yang disebut Smart Trash Bin. Penghargaan spesial lainnya diraih dua pelajar SMKN 2 Cimahi, Asep Muhammady Anwar Salim dan Muchammad Alfarisi, berkat hasil karya berupa mitigasi banjir. “Tujuan karya kami meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan deteksi dini kebencanaan lingkungan, khususnya di daerah bencana banjir,” pungkas pelajar binaan kompetisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut. (Mut/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya