TERIK matahari tidak membuat sejumlah petani di Desa Luwunggede, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengeluh. Tangan mereka cergas memetik jagung yang sudah menua.
Di tengah musim kemarau yang membuat banyak sawah mengering dan puso, petani di desa itu beruntung karena bisa memanen jagung. Keuntungan pun dirasakan para buruh pemetik, yang juga tetangga dan kerabat mereka.
"Lumayan, kami tidak menganggur karena masih ada pekerjaan. Tidak harus jauh-jauh karena masih dalam satu desa," ujar Darkonah, 37, buruh petik. Darkonah mengaku mendapat upah Rp30 ribu untuk pekerjaan yang dilakoninya hingga tengah hari.
Yang lebih semringah lagi tentu saja para pemilik ladang jagung. Salah satunya ialah Samir, 53, yang menanam jagung di areal sekitar 1 hektare. Dia mengakui panen besar pada musim kemarau ini tidak lepas dari ketaatannya mengikuti pola tanam yang dianjurkan para petugas penyuluh lapangan. Ia dianjurkan tidak menanam padi karena membutuhkan air.
"Pada musim kemarau, kami diminta menanam jagung atau palawija lain yang relatif tidak membutuhkan banyak air. Kami bersyukur karena tidak mengalami gagal panen karena tidak menanam padi," lanjut Samir.
Ia mengakui, dalam perjalanan merawat tanaman jagung, lahannya juga sempat mengalami kekurangan air. Ia dan teman-temannya petani lain juga mengerahkan mesin pompa untuk menyedot air dan menyiram tanaman.
"Karena kebutuhan airnya tidak besar, biaya yang kami keluarkan juga tidak terlalu banyak. Untuk 1 hektare lahan ini, total dana yang dibutuhkan mencapai Rp5 juta," ungkapnya.
Meski modal itu terasa besar, Samir masih bisa tersenyum. Jagung hasil panennya bisa terjual dengan harga Rp2.500 per kilogram. Pada panen kali ini, ia berhasil mengangkut 7 ton jagung. Dari 1 hektare lahan, Samir mengantongi dana lebih dari Rp14 juta.
Soal pemasaran, Samir juga tidak perlu mengeluarkan biaya lagi. Ada bakul yang mendatangi rumahnya. "Jagung dari desa kami dikirim ke Jakarta dan Bandung. Kami tidak perlu repot memasarkan hasil panen karena cukup membawanya ke pinggir jalan dan bakul akan menjemputnya," kata Samir.
Di siang kemarin, Samir terus tersenyum. Saat sore tiba, ia mengumpulkan lima buruh pemetik. Dengan enteng, pria setengah baya itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah uang tunai. Satu per satu pemetik mendapat bagian dari hasil kerjanya. Samir tersenyum, para pemetik pun senang.(N-3)