Merangkul Iklim, Menuai Panen Berlimpah

MI/Nurul Hidayah/N-2
05/8/2015 00:00
Merangkul Iklim, Menuai Panen Berlimpah
(MI/DEDE SUSANTI)
Menggunakan sekop terbuat dari kayu, Karyadi,34, membolak-balik gabah yang baru dipanennya. Menurut Karyadi, paling lama dibutuhkan waktu dua hari untuk menjemur gabah yang baru dipanen itu. "Karena saat panen sudah kering, bulir padi pun dengan mudah lepas," kata Karyadi. Sinar matahari yang cukup terik pun bisa mempercepat proses pengeringan gabah menjadi lebih rata hanya dalam waktu dua hari. Gabah yang sudang kering pun siap untuk dijual atau disimpan.

Di tengah menurunnya produktivitas padi saat panen di musim tanam gadu atau kemarau, Karyadi dan beberapa petani di Desa Leuwidingding, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, justru tidak merasakannya. Karyadi mendapatkan hingga 7,3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Padahal, sebelumnya hasil panen per hektare hanya berkisar 4,5 ton hingga 5 ton.

"Bahkan lebih. Karena hitungan BPS (Badan Pusat Statistik) kan masih pakai ukuran ubinan sebelum dipanen, sedangkan saat ini kita memakai sistem jajar legowo 2," kata Karyadi yang yakin hasil panen mencapai 8 ton lebih gabah kering panen (GKP) per hektare. Dengan sistem jajar legowo 2, petani menanam padi berjajar dua. Jarak di antara dua jajar padi berkisar 15 sentimeter (cm) hingga 30 cm. Setelah itu diberi jarak 45 cm hingga 50 cm, dan baru ditanam padi lagi dua jajar. Itu memberikan ruang untuk sinar matahari. "Sehingga kelembapan pun bisa dikontrol, tidak tinggi," kata Karyadi.

Dengan adanya ruang yang cukup, organisme pengganggu tanaman (OPT) pun bisa dikontrol. "Saat ada wereng, bisa langsung terlihat dan dilakukan tindakan," kata dia. Kelembapan yang tidak terlalu tinggi disebabkan matahari masih bisa masuk ke sela-sela tanaman padi, membuat OPT pun tidak berkembang dengan pesat. Setiap serangan organisme yang merugikan tanaman padi bisa dikontrol.

Karyadi menceritakan, saat tanaman padi di sekeliling lahannya berumur 15 hari, petani harus melakukan tanam kembali. "Karena terserang hama sehingga tanaman padi roboh," jelasnya. Petani pun terpaksa harus menanam ulang. Namun, padi yang ditanam Karyadi bisa bertahan. "Itu karena OPT-nya dikontrol dari awal," ujarnya.

Tanaman padi bisa dipanen saat umurnya 104 hari. Itu lebih pendek jika dibandingkan dengan sebelumnya, yaitu 120 hari.
Kepala Balai Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Suparso, mengakui sistem jajar legowo yang baru diterapkan petani di Desa Leuwidingding membuat hasil panen lebih berlimpah. Petani memilih bersahabat dengan iklim.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya