Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
NAMANYA Tasripin. Usianya masih belasan asal Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Dusun tersebut cukup terpencil karena berbatasan langsung dengan hutan lereng sebelah barat daya Gunung Slamet. Tasripin terpaksa tidak sekolah karena harus menghidupi ketiga adiknya. Ia pun memilih menjadi buruh tani daripada belajar di kelas seperti anak-anak seumurannya. Kisah Tasripin itu sempat ramai dibicarakan di media massa pada 2013. Sebuah cermin kehidupan orang miskin yang tidak mampu melanjutkan pendidikan. Kisah kehidupannya kini berakhir manis. Bantuan para dermawan berdatangan. Tasripin pun akhirnya bisa melanjutkan sekolah di SDN Sambirata. Ia kemudian melanjutkan bersekolah di Madrasah Sanawiah (MTs) Pakis, Dusun Pesawahan.
"Dulunya, Tasripin itu sebetulnya salah seorang yang terjaring dalam survei yang dilakukan para pegiat pendidikan dari pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Argowilis, yang bakal mendirikan sekolah alternatif di Dusun Pesawahan," ujar Isrodin, pegiat pendidikan alternatif di Banyumas. Ia mengaku kaget ternyata masih ada anak usia belasan tahun harus menghidupi tiga adiknya. Ayahnya merantau ke Kalimantan dan ibunya telah meninggal dunia. "Barangkali ceritanya bakal lain kalau kisah Tasripin tidak terangkat ke permukaan. Sesungguhnya masih banyak anak di daerah terpencil yang mengalami nasib seperti Tasripin," tambah Isrodin.
Menurutnya, saat PKBM Argowilis melakukan survei pendidikan di Dusun Pesawahan, tim survei menemukan Tasripin. Isrodin bersama teman-temannya makin bersemangat untuk mendirikan lembaga pendidikan di dusun tersebut. Ketika melakukan survei pendidikan di Dusun Pesawahan dan menemukan Tasripin itulah, Isrodin bersama rekan-rekannya semakin bersemangat untuk mendirikan lembaga pendidikan di dusun setempat. Bersamaan dengan mencuatnya kasus Tasripin, PKBM Argowilis mendiriikan Madrasah Sanawiah (MTs) Pakis di Dusun Pesawahan. Berdirinya MTs Pakis tersebut pada 2013 berdasarkan hasil survei bahwa banyak anak lulusan SD di daerah terpencil tidak melanjutkan sekolah lanjutan. Alasannya lokasi SMP cukup jauh. "Untuk menjangkaunya butuh biaya, sedangkan mereka umumnya secara ekonomi dari keluarga tidak mampu," terangnya.
Nama Pakis dipilih berasal dari nama tanaman khas pegunungan. Pakis ialah sayuran khas hutan pegunungan. "Kami bersama teman-teman menamakan itu sebab sekolah ini memang melayani pendidikan bagi anak-anak yang berada di sekitar hutan pegunungan," ungkap Isrodin yang juga kepala MTS Pakis. Di sisi lain, pakis juga berarti piety atau kesalehan, achievement berarti prestasi, knowlegde atau ilmu pengetahuan, integrity atau integritas, dan sincerity atau keikhlasan.
Sekolah alternatif
MTs Pakis tidak seperti sekolah pada umumnya. Konsep sekolah itu ialah merekrut anak-anak sekitar hutan dan pegunungan untuk bersekolah. Umumnya mereka berasal dari kalangan tidak mampu, maka sekolah mengadakan pendidikan gratis. Bangunan sekolah awalnya hanya anyaman bambu, tetapi kemudian mendapat bantuan pembangunan gedung dari Kementerian Agama. Proses pembangunannya secara mandiri dibantu relawan, TNI, dan organisasi kemasyarakatan. Kehadiran sekolah tersebut berfungsi untuk melengkapi jangkauan negara dalam sektor pendidikan. Lulusan MTs Pakis itu sama dengan siswa SMP lainnya. Mereka juga mengikuti ujian nasional dan mendapat ijazah. MTs Pakis ialah sekolah filial dari MTs Ma'arif NU 2 Cilongok.
Sekolah berukuran 7 x 17 meter dan 7 x 13 meter tersebut dilengkapi kolam, area pertanian, dan kandang kambing. Nurwati, 14, siswa MTs Pakis, mengungkapkan selain belajar di kelas, anak-anak diajari bertani dan beternak. "Kebetulan hari ini kami mendapat pelajaran agroforestry, yakni memadukan pertanian dengan area hutan," ujar Nurwati. Ia bersama teman-temannya tengah mempelajari cara membudidayakan tanaman cabai. Mereka melihat secara langsung budi daya yang baik. Itu diawali dengan menyiangi gulma dan menghindarkan serangan hama. Setelah itu, para siswa ke kandang kambing yang letaknya hanya puluhan meter dari gedung sekolah. Relawan pendidik, Ahmad Nurbekti, 18, yang ikut mendampingi siswa, membenarkan pendidikan di MTs Pakis tidak melulu berada di kelas.
Ada beberapa pelajaran tambahan dan praktik langsung di lapangan. "Salah satunya anak-anak belajar menyiangi rumput dan budi daya cabai yang baik serta bagaimana cara memelihara kambing. Hal ini harus dilakukan karena mereka harus bertani dan beternak saat sekolah di sini," ujar Nurbekti yang telah lulus Kejar Paket C dan kini melanjutkan kuliah di IAIN Purwokerto.
Saat ini ada 15 kambing di kandang. Untuk makan para relawan, pihaknya menggantungkan usaha pertanian yang ada di lingkungan sekolah. "Akan tetapi, ada juga siswa yang membawa beras saat orangtua mereka panen padi. Ada juga yang membawakan lauk-pauk," tambah Nurbekti. Selain di Pesawahan, model pendidikan seperti MTs Pakis dijumpai di Dusun Cunil, Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, yang berdiri sejak 2014. Di dusun berpenduduk 170 keluarga itu, Taman Bacaan Kudi dibangun. "Kami mendirikan taman bacaan Kudi untuk berbagi ilmu pengetahuan. Sejauh ini banyak orang baik hati dari beragam profesi yang datang untuk berbagi dan memotivasi mereka," kata April Nur Rakhmadani, koordinator Taman Bacaan Kudi.
Menurut Apris, di ruangan dengan ukuran 3 x 6 meter itulah, 700 koleksi buku disimpan. Dijelaskannya, buku-buku yang disimpan di perpustakaan itu telah melewati proses seleksi. Kini, pegiat Taman Bacaan Kudi selain relawan pendidikan dari luar dusun juga dari warga setempat. Menurutnya, ada delapan anak setingkat SMP dan SMA yang menjadi relawan dan bertugas melayani pinjaman buku untuk anak-anak. (N-3) liliek@mediaindonesia.com
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved