Air tidak Menetes di Toineke

MI/Palce Amalo
06/8/2015 00:00
Air tidak Menetes di Toineke
(MI/Amiruddin Abdullah )
ALEXANDER Kmio bersama puluhan warga mulai tersulut emosi. Raut wajah mereka berubah gara-gara menerima perintah supaya cepat-cepat memindahkan tenda seremoni penyambutan Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa yang berkunjung ke daerah itu pada 17 Juni. Perintah yang berasal dari Asisten II Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan Epy Tahun kepada Kepala Desa Toineke, Kecamatan Kualin, tersebut bukan tanpa alasan.

"Alasannya lokasi tempat yang kami bangun tenda tidak ada tanaman sayur karena mensos ingin melihat dari dekat tanaman sayur milik warga," kata Alexander, sehari sebelum kedatangan mensos. Memang keesokan harinya, Mensos Khofifah menyambangi warga untuk menyerahkan bantuan pangan darurat, sehubungan dengan kekeringan yang berdampak terhadap gagal panen dan gagal tanam.

Itu yang menjadikan alasan mereka membangun tenda di Dusun Oe Of, Desa Toineke, yang warganya memang tidak menanam tanaman pangan karena krisis air. "Saya kecewa tetapi sebagai bawahan, saya ikut saja," ujarnya. Petang itu, warga ramai-ramai membongkar tenda untuk dipindahkan ke lokasi lain.

Ada yang membawa kursi, meja, tiang, dan terpal. Kali ini mereka membawa peralatan tenda ke kebun sayur milik seorang warga bernama Yakomina. Di sana mereka bergotong royong memasang tenda dan menyingkirkan sampah di sekitar lokasi tersebut. Berbeda dengan warga lainnya, Yakomina dikenal rajin menyiasati dampak kekeringan.

Ia membangun bedeng untuk menanam sawi putih. Air untuk menyiram sayuran diambil dari sumur air minum di dekat rumah. Upaya yang dikerjakan perempuan itu belum diikuti warga lain. Namun, Alexander punya alasan lain. Air dari sumur air minum di situ tidak bisa digunakan untuk menyiram sayuran karena rasa air asin sampai payau.

Kondisi seperti itu terjadi karena jarak sumur dan pantai hanya sekitar 200 meter. "Air payau tidak bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman," kata dia. Begitu tenda selesai dibangun, datang lagi kabar baru. Pemerintah tidak ingin tenda dibangun di situ. "Kabarnya mensos ingin melihat tanaman sayuran dalam jumlah banyak, tetapi kami yakin ini upaya membunyikan dampak kekeringan dari mensos," kata Alexander dengan nada curiga.

Dengan susah payah akhirnya tenda yang tadinya sudah dibangun dibongkar lagi. Kali ini tenda bersama isinya dibawa ke halaman sebuah gedung sekolah dasar. Akhirnya Menteri Khofifah pun menemui warga di halaman sekolah, yang dilanjutkan dengan pemberian bantuan tanggap darurat. Warga berharap ibu menteri tersebut bisa datang ke kebun sebagaimana dijanjikan pemerintah daerah. Namun, seusai menyerahkan bantuan, mensos tidak juga mengunjungi kebun warga.

Bencana kekeringan

Cerita tentang kekeringan di NTT ibarat sebuah buku, akan selalu bertambah halamannya. Bencana kekeringan selalu terjadi di wilayah itu.  Namun, ada sebagian masyarakat sudah bisa mengantisipasi dampak kekeringan. Simon Petrus Manu, warga Toineke, mempunyai strategi lain dalam menghadapi dampak kekeringan.

Ia memilih menjual ayam di pasar desa yang digelar tiga kali seminggu. Harga ayam jantan besar bisa mencapai Rp80 ribu per ekor. Dua ekor ayam jantan yang terjual setiap pasar dibuka cukup untuk membeli beras 50 kg. Simon mengaku tidak khawatir dan bisa melewati masa-masa krisis pangan pada musim kemarau ini.

Dia juga masih memiliki belasan sapi yang rata-rata dijual seharga Rp2 juta per ekor. "Memang tidak semua warga punya sapi, tetapi rata-rata mereka punya ayam," ujar Simon. Selain memiliki hewan ternak, Simon mempunyai lahan jagung seluas 1 hektare. Namun, tanaman palawija itu gagal tanam tahun ini akibat kemarau.

Karena tidak ada bahan pokok berupa jagung, warga akhirnya bergantung pada beras untuk warga miskin yang rutin mereka terima. Sebelum kunjungan mensos, bantuan raskin sudah dibagikan ke desa-desa yang diterpa bencana kekeringan, termasuk beras dari cadangan beras jatah pemerintah kabupaten ikut pula dibagikan.

Meskipun ada kegiatan ekonomi seperti hadirnya di pasar desa yang hanya buka selama tiga kali dalam seminggu, desa tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda geliat perekonomian. Warga terlihat tidak melakukan pekerjaan apa pun untuk menghasilkan uang. Satu-satunya harapan untuk mempertahankan kehidupan berasal dari bantuan pemerintah atau menjual ternak.

Matinya roda pembangunan ekonomi menyebabkan mayoritas warga Desa Toineke, Kecamatan Kualin, hidup dalam garis kemiskinan. Mendapatkan makanan sehari-hari terutama di musim paceklik seperti sekarang ini masih sulit. Akibatnya, banyak anak kurang gizi. Kader Posyandu Toineke Simon Sabuna mengatakan sejak awal tahun ini, tercatat ada empat balita menderita gizi buruk. Penyebab gizi buruk belum bisa dipastikan, apakah akibat krisis pangan atau sebab lain.

Keempat balita tersebut kini diberi makanan bergizi untuk menambah berat badan seperti telur dan makanan tambahan lainnya dari puskesmas. Diakui Sabuna, selama ini banyak balita mengalami penurunan berat badan. Turunnya berat badan itu dipicu makanan yang mereka konsumsi. "Kebanyakan anak-anak di Desa Toineke hanya makan bubur saja," ungkapnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya