DAMPAK El Nino menyebabkan ratusan ribu jiwa di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, kekurangan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mencatat 155.769 jiwa di 12 kecamatan dari total 39 kecamatan mengalami krisis air bersih akibat kekeringan.
"Kami mendapat laporan dari kecamatan dan kelurahan yang membutuhkan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, warga terpaksa menumpang ke rumah saudara terdekat yang masih mempunyai sumber air. Ada juga warga yang membeli air," kata Kepala BPBD Kabupaten Tasikmalaya Kundang Sodikin, kemarin.
Kecamatan yang mengalami krisis air yakni Kecamatan Ciawi, Puspahiang, Cipatujah, Jamanis, Salawu, Tanjungjaya, Culamega, Karangnunggal, Bojongasih, Gunungtanjung, Sodonghilir, dan Cigalontang. Mobil water cannon melaju dari Kantor Polres Cilacap menuju Desa Kubangkangkung, Kecamatan Kawunganten, salah satu kecamatan yang mengalami krisis air bersih dalam beberapa bulan ini.
Puluhan warga desa telah menyiapkan ember, jeriken, dan drum plastik di halaman sambil menanti kedatangan mobil water cannon. Kapolres Cilacap Ajun Komisaris Besar Ulung Sampurna Jaya menjelaskan mobil water cannon itu mampu menampung air 7.000 liter lebih. "Namun, untuk bantuan ke warga, jumlah air yang disalurkan 12 ribu liter," jelas Ulung.
Di Temanggung, BPBD setempat berinisiatif menggandeng pihak swasta dalam upaya mengatasi krisis air bersih di sejumlah desa. Kasubag Penanganan Darurat dan Logistik BPBD Temanggung Gito Walngadi menjelaskan pihaknya akan menggandeng swasta agar bisa menghemat anggaran pengedropan air bersih yang dianggarkan dari APBD.
"Anggarannya agar bisa cukup hingga September. Sementara itu, tambahan anggaran yang diajukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana belum turun," ujar Gito. Pihak swasta yang sudah diajak bekerja sama yakni BRI dan Mandiri Syariah untuk membantu pengedropan air bersih. Pihak lain yang akan diajak bekerja sama yakni bank pembangunan daerah dan beberapa komunitas. "Sampai sekarang bantuan air bersih berasal dari Polres Temanggung sebanyak 10 tangki."
Sawah puso Pada bagian lain, menipisnya pasokan air untuk persawahan menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian terancam gagal panen. Seperti di Sidoarjo, Sampang, Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, Jambi, dan Manggarai Barat, lahan pertanian terancam puso akibat tidak ada air.
Di Jambi, hujan ringan sudah turun di beberapa kabupaten, tetapi tetap belum mampu memulihkan ribuan hektare areal persawahan teknis ataupun nonteknis. Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi menyebutkan kekeringan menyebabkan penanaman 20 ribu hektare padi tertunda.
"Mestinya Juni dan Juli ini sudah tertanam semua. Karena kemarau terpaksa ditunda, sambil menunggu air cukup," kata Kepala Dinas Pertanian Jambi Amrin Aziz. Di Cirebon, selain berdampak gagal panen, kemarau mengganggu penyetoran retribusi pajak bumi dan bangunan (PBB). Hingga semester pertama, penarikan dan penyetoran PBB belum mencapai target.
Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Cirebon menyebutkan target pendapatan PBB dari sektor perdesaan dan perkotaan pada tahun ini Rp29 miliar. Namun, realisasi hingga 30 Juli baru Rp11 miliar atau sekitar 38,27%. Kabid Pelayanan PBB dan Pusat Data Dispenda Kabupaten Cirebon Yanto mengungkapkan salah satu penyebab belum tercapainya target ialah faktor cuaca. "Saat ini banyak penggarap sawah kesulitan membayar PBB karena minimnya hasil panen, apalagi banyak yang puso," jelas Yanto.