Baju Muslim Tasikmalaya Laris di Musim Haji

MI
08/8/2016 07:45
Baju Muslim Tasikmalaya Laris di Musim Haji
(Perajin menganyam tikar mendong menggunakan alat tradisional di Desa Kemulayan, Tasikmalaya--ANTARA/Adeng Bustomi)

MUSIM haji membawa keuntungan bagi penduduk di Kampung Saguling, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Penduduk di kampung tersebut mendapat orderan pakaian muslim yang dikerjakan dengan mesin manual hingga mesin yang dilengkapi komputer.

Bila bulan puasa dan musim haji tiba, busana muslim produksi Kampung Saguling pun dikirim ke beberapa wilayah di Tanah Air, dan juga diekspor ke beberapa negara seperti Arab Saudi dan Malaysia.

Terlebih lagi busana muslim yang diproduksi sangat kental dengan tema bordir. Persaingan antarperusahaan bordir yang memproduksi busana muslim cukup ketat di Kawalu.

Perusahaan bordir Al Tasmal, salah satu yang cukup besar di Kawalu, mampu memproduksi 500 baju muslim untuk pria dan wanita. Baju-baju tersebut dikirim ke Tanah Abang Jakarta, Surakarta, dan Surabaya termasuk diekspor ke Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara Arab lainnya.

Sekretaris Perusahaan Bordir Al Tasmal, Iis Nur Pujiati, kemarin (Minggu, 7/8). memaparkan, dalam sekali pengiriman bisa mencapai 10 hingga 15 karung berisikan 160 baju, dan rata-rata sekali pengiriman berjumlah 1.600 baju.

"Kalau musim haji tiba, banyak pesanan dari berbagai daerah di Indonesia terutama di pasar Tanah Abang, Jakarta. Rata-rata sekali kirim ada 1.600 baju muslim," ujarnya. Padahal pada hari-hari biasa, perusahan itu hanya mengirim dua karung baju ke pasar Tanah Abang, Jakarta.

Selain pakaian muslim, tikar mendong ramah lingkungan yang diproduksi di Kecamatan Manonjaya dan Kecamatan Cibeureum telah dipesan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk dibawa jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci pada Agustus tahun ini.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memesan sebanyak 30 ribu alas tikar mendong tersebut. Bahkan, kebijakan itu dikeluarkan Gubernur Jawa Barat untuk mendongkrak perajin tikar mendong, terutama dalam mengurangi angka pengangguran. Sebelummya, industri tikar mendong di daerah tersebut mengalami mati suri.

Endang Kurniawan, pengusaha tikar mendong dari Kampung Ranggon RT 01/RW 03 Kelurahan Setianegara, Kecamatan Cibeu-reum, Kota Tasikmalaya, menjelaskan tikar mendong Tasikmalaya terutama memiliki ramah lingkungan dan bisa digunakan untuk salat, tidur, duduk, dan lainnya.

"Bahkan, tikar mendong juga bisa dibawa ke mana saja dengan cara digulung dan tidak repot seperti membawa karpet," ujarnya. Tikar mendong pun akan menjadi salah satu ciri khas jemaah haji asal Jawa Barat.(AD/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya