Ponpes Millenium Rawat Bayi HIV

MI
05/8/2015 00:00
Ponpes Millenium Rawat Bayi HIV
(ANTARA/Umarul Faruq)
BEBAN berat harus ditanggung para pengasuh Pondok Pesantren Millenium di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pondok yang akhir-akhir ini tersohor karena menampung anak-anak yang dibuang orangtua mereka, atau sering disebut santri langit, itu harus merawat penderita HIV, kekurangan gizi, sakit saraf, dan bayi-bayi hydrocephalus.

"Penyakit mereka membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Karena itu, kami sangat berharap pemerintah ikut memberi perhatian," papar Muhammad Khoirul Soleh Effendi, pengasuh Pondok Pesantren Millenium, kemarin.

Pondok pesantren yang terletak di Desa Tenggulunan, Kecamatan Candi, ini mengasuh 230 anak, yang terdiri dari bayi, anak usia sekolah dasar, dan anak usia sekolah menengah pertama.

Salah satu santri langit yang saat ini masih berusia tujuh bulan diketahui mengidap virus HIV sejak lahir. Ironisnya, bayi pengidap virus HIV ini tidak mendapatkan penanganan khusus. Ia hidup berdampingan dengan ratusan penghuni pondok lainnya.

Selain itu, juga ada bayi yang menderita kurang gizi dan hydrocephalus. Agar fisiknya kuat, setiap pagi, sang bayi rutin dijemur pengasuh.

Beban pengasuh juga bertambah dengan adanya penderita sakit saraf. Otot dan saraf sang anak praktis tidak bisa berfungsi. Sehari-hari, si anak hanya bisa tidur dan digendong. Anak ini tidak bisa duduk apalagi berjalan.

"Setiap kali suntik untuk merangsang sarafnya agar berfungsi, kami harus mengeluarkan dana tidak kurang dari Rp2 juta," kata Khoirul.

Namun, pendanaan yang terbatas membuat perawatan tidak bisa dilakukan secara rutin. Penghuni pondok dengan penyakit lain juga tidak mendapatkan penanganan semestinya karena alasan serupa. Apalagi jumlah dan kemampuan tenaga medis dari pondok pesantren juga terbatas.

"Kami harapkan pemerintah atau dinas kesehatan bisa ikut membantu menangani santri langit yang sakit. Mereka ialah santri langit karena dibuang orangtua dan kami tampung di sini," tandas Khoirul.

Akhir pekan lalu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengunjungi pondok tersebut. Ia menemukan kondisi pondok pesantren itu tidak layak untuk mengasuh bayi dan anak di bawah usia lima tahun yang jumlahnya sangat banyak.

Dia melihat langsung kondisi para penghuninya. Dari 230 anak, 150 santri di antaranya sudah sekolah, mulai dari playgroup hingga SMP. Sisanya masih bayi dan berusia di bawah lima tahun. "Kami mengapresiasi kepedulian pengasuh pondok yang bergiat merawat anak-anak ini. Namun, harus diakui kondisi di sini tidak layak untuk menampung bayi dan anak usia di bawah lima tahun," kata Arist. (HS/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya