MUSIM kemarau panjang yang terjadi di Jawa Tengah (Jateng) mengakibatkan lima waduk di wilayah itu mengering. Kelima waduk tersebut hanya memiliki daya tampung sekitar 10 ribu meter kubik (m3). Kepala Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Jateng Prasetyo Budie Yuwono mengatakan kelima waduk yang mengering ialah Waduk Brambang, Botok, dan Gembong di Kabupaten Sragen, kemudian Waduk Sanggeh di Kabupaten Grobogan dan Waduk Gunungrowo di Kabupaten Pati. "Kelima waduk mengering karena tidak ada pasokan air ke waduk-waduk tersebut," kata Prasetyo, kemarin.
Bila pada Agustus ini tidak ada hujan, 15 waduk lainnya menyusul kekurangan air. Adapun delapan waduk di luar itu tidak akan mengalami kekeringan meski tidak ada hujan. Kedelapan waduk itu ialah Waduk Malahayu, Brebes; Cacaban, Tegal; Gajahmungkur, Wonogiri; Kedungombo, Grobogan; Pangsar Soedirman, Banjarnegara; Penjalin, Bumiayu; serta Wadaslintang dan Sempor, Kebumen.
Meski demikian, hanya tiga waduk yang masih dibuka saluran irigasinya, yakni Gajahmungkur, Cacaban, dan Malahayu. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tidak lagi beroperasi kecuali PLTA di Waduk Pangsar Soedirman. Dalam menghadapi kekeringan yang makin meluas, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menyiapkan langkah penanggulangan, mulai pemberian bantuan air bersih, pemberian tanaman pengganti, hingga perencanaan pembuatan 1.000 embung untuk persediaan air.
"Kita telah siapkan anggaran Rp19 miliar di berbagai lembaga untuk bantuan air bersih menghadapi kekeringan yang terjadi saat ini," jelas Ganjar. Puluhan petani di Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara, membabati tanaman padi yang puso untuk pakan ternak. Parimin, 48, petani asal Desa Jalatunda, mengungkapkan di desanya ada puluhan hektare areal padi yang mengalami kekeringan. "Banyak petani merugi karena tidak bisa panen. Padahal, usia padi sudah lebih dari 60 hari. Karena sudah pasti puso, kami membabati tanaman padi untuk pakan ternak," jelas Parimin.
Tanaman padi yang baru berumur 90 hari terpaksa dipanen. Padahal, idealnya panen baru dilakukan saat padi berumur 100 hari. "Petani takut tanaman padi mereka benar-benar kering dan berakhir puso," jelas Sutatang, petani.
Panen turun Penurunan produktivitas juga dialami petani jagung di sejumlah kawasan pantura Jawa Timur. Pada musim tanam kedua ini, panen di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, turun. Biasanya pada musim normal lahan jagung sekitar 0,5 hektare mampu memproduksi jagung pipilan kering 18 kuintal. Namun, pada musim paceklik ini, produksi jagung pipilan hanya 13 kuintal.
Jumadi, petani asal Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, menambahkan di daerahnya panen jagung juga menurun hingga 30% jika dibandingkan dengan musim sebelumnya. Pada bagian lain, persediaan beras pada musim kemarau di Sulawesi Tengah aman. Bulog setempat mengklaim pengadaan beras lokal hingga kini mencapai 24 ribu ton. Jumlah itu diklaim cukup memenuhi kebutuhan masyarakat. "Paling tidak kebutuhan masyarakat Sulawesi Tengah selama tujuh bulan aman. Pengadaan beras lokal cukup banyak," kata Kepala Pelayanan Publik Bulog Sulteng Abdul Gani.
Menurutnya, beberapa bulan terakhir ini Bulog tidak melakukan pengadaan beras dari luar daerah. Bulog Sulteng juga harus menyiapkan beras untuk disalurkan kepada masyarakat miskin sebanyak 3.000 ton, yang tersebar di 13 kabupaten dan satu kota. (AS/UL/YK/TB/N-4)