Ribuan Warga Pulau Enggano Terisolasi

MY/AU/LN/BB/AS/N-4
06/8/2016 03:41
Ribuan Warga Pulau Enggano Terisolasi
(ANTARA/Ismar Patrizki)

SETIDAKNYA 3.000 warga Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, terisolasi karena gelombang tinggi hingga 7 meter dan kuatnya tekanan angin di Samudra Hindia.

Yanto, 51, warga pulau Enggano, mengatakan, cuaca ekstrem yang terjadi sudah sepekan terakhir ini menimbulkan gelombang tinggi sehingga membahayakan kapal penyeberangan Kapal Motor (KM) Pullo Tello.

"Saat ini kapal menuju Pulau Enggano belum dapat melayani rute pelayaran dari Kota Bengkulu atau sebaliknya akibat cuaca ekstrem sehingga gelombang laut masih tinggi, terutama di Samudra Hindia, untuk satu pekan ke depan," katanya, kemarin.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Fatmawati Soekarno Bengkulu, kondisi itu berbahaya untuk pelayaran kapal nelayan maupun kapal penumpang karena badai akan memicu gelombang laut.

Peringatan yang sama dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta.

Nelayan yang melaut di perairan selatan DIY diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya gelombang tinggi hingga 3,5 meter yang terjadi hingga akhir pekan ini.

Sementara itu, Unit Pelaksana Penyelenggara Bandar Udara (UPPBU) Sultan Babullah Ternate, Maluku Utara, kembali memperpanjang penutupan aktivitas bandara hingga Sabtu (6/8) karena masih adanya embusan abu vulkanis Gunung Gamalama.

Sejak ditutupnya Bandar Udara Sultan Babullah pada Rabu (3/8), para penumpang tujuan Ternate dialihkan ke Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

Pada Kamis (4/8), dari 6 penerbangan dari Makassar tujuan Ternate, hanya 1 pesawat yang sempat terbang.

Dari Kabupaten Sukabumi, Jabar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih berfokus menangani bencana pergerakan tanah di Desa Nagrakjaya dan Cimenteng di Kecamatan Curugkembar.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Agung Citra, mengatakan pihaknya akan memasang tiga penampung air di tiga lokasi di Desa Nagrakjaya karena krisis air bersih lantaran sumber air keruh akibat tertimbun material tanah longsor.

Puluhan desa di Jepara, Jateng, juga dilaporkan mengalami krisis air bersih akibat fenomena La Nina.

Ratusan warga Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit, terpaksa mencari sumber air hingga berkilo-kilo meter.

Kepala Pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayetno mengatakan air yang tersisa saat ini sudah banyak bercampur dengan lumpur.

Pemerintah desa meminta bantuan air bersih dari pemkab.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya