Para petani mulai berebut jatah air untuk menyelamatkan tanaman pangan mereka. EL Nino moderat yang melanda Jawa Tengah bagian selatan akan menguat mulai Agustus ini. Dampaknya akan terjadi kemarau yang lebih panjang ketimbang tahun lalu. Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan pada Agustus ini, El Nino moderat yang melanda Jawa Tengah selatan ada kecenderungan menguat. "Menguatnya El Nino ialah dampak anomali suhu di Samudra Pasifik sehingga curah hujan di samudra setempat tinggi. Sebaliknya, hujan di Samudra Hindia menjadi rendah. Hal ini berdampak pada kondisi di Jawa Tengah selatan, yakni semakin panjangnya musim kemarau," jelas Teguh, di Cilacap, kemarin.
Daerah yang terdampak kemarau panjang antara lain Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Jika pada tahun-tahun sebelumnya musim hujan pada awal Oktober, tahun ini diperkirakan awal November baru mulai hujan. Akibat El Nino, diprediksi akan terjadi kekeringan di Daerah Istimewa Yogyakarta. BMKG setempat memprediksikan daerah kekeringan terparah ialah di Kabupaten Gunungkidul. Kepala Data dan Informasi BMKG DIY, Teguh Prasetyo menjelaskan kekeringan paling ekstrem akan dialami warga di Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Pasalnya, wilayah itu tidak akan diguyur hujan sampai 60 hari lebih.
Karena adanya kondisi ekstrem itu, Pemkab Gunungkidul telah melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi panjangnya masa kekeringan di wilayah tersebut. Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Gunungkidul, Dwi Warno Widinugroho, menjelaskan saat ini sudah ada 450 dusun yang mengalami kekeringan. Camat Tepus, Sukamto, menambahkan di wilayahnya terdapat delapan desa, lima di antaranya mengalami kekeringan. "Sekitar 38 ribu warga di lima desa sudah merasakan dampak kekeringan sejak awal Juli," jelas Sukamto.
Mata air mati Kekeringan di berbagai daerah menyebabkan puluhan sumber mata air di Kabupaten Klaten mati. Daerah resapan air di hulu rusak parah. Data Dinas Pekerjaan Umum Klaten menyebutkan jumlah sumber mata air yang mati mencapai 54 dari 174 sumber yang tersebar di 85 desa di 20 kecamatan. Di Magelang, para petani merusak salah satu pintu air di Bendung Progo-Manggis, tepatnya di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, karena sulit mendapatkan air.
Upaya perusakan dilakukan dengan menggunakan cincin kuningan pemutar ulir sehingga pintu air tertutup. Dampaknya, aliran air untuk desa-desa di wilayah selatan bendung terputus pada akhir Juli lalu. Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan Bidang Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum, Energi, dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang, Subardono, mengaku kewalahan mengatur sistem pembagian air secara bergilir pada musim kemarau ini.
Di Tuban, Jawa Timur, Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyatakan 20 desa di lima kecamatan mengalami kekeringan kritis. BPBD setempat telah menyiapkan lima unit truk tangki untuk distribusi air bersih. Kekeringan juga menyebabkan 4.278 hektare tanaman padi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, puso. Ribuan hektare lainnya mengalami kekeringan sedang dan ringan. Di bagian lain, belasan hektare kawasan hutan di Ponorogo dan Mojokerto, Jawa Timur, dilanda kebakaran hebat. Sebaliknya, Kota Batam, Kepulauan Riau, diguyur hujan deras hingga menyebabkan sejumlah permukiman terendam air setengah meter. (Tim/N-4)