Buku Kontroversi Ganjar Kembali Diluncurkan

Agus Utantoro
04/8/2016 07:51
Buku Kontroversi Ganjar Kembali Diluncurkan
(ANTARA FOTO/Maulana Surya)

KONTROVERSI Ganjar, buku yang mrmotret perjalanan Ganjar Pranowo, Rabu (3/8) malam diluncurkan ulang (relaunching) di Yogyakarta.

Sejumlah tamu undangan termasuk mantan Gubernur Jawa Tengah Mardianto tampak hadir berbaur dengan sejumlah Bupati dan Wali kota di Jawa Tengah serta teman-teman dekat Ganjar Pranowo.

Pada peluncuran ulang buku itu, budayawan sekaligus orang kepercayaan Gubernur DIY Heri Dendi, wartawan senior Kompas Bambang Sigap Sumantri, dan seniman Yogya Yati Pesek dipercaya sebagai tokoh yang membedah buku tersebut.

Sebelum bedah buku Kontroversi Ganjar dimulai, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sempat meledek seniman Yanti Pesek bahwa saat ini rumah makan Yati Pesek telah berganti dengan toko buku. Politisi PDIP itu memuji keberanian Yanti Pesek membuka toko buku yang berarti sudah ada kemajuan dan pandai tidak lagi pesek seperti hidungnya.

“Tapi kok masih sepi juga toko bukunya. Harusnya Yanti Pesek harus membuat slogan agar toko bukunya laku. Biar Pesek Tapi Pikiran Maju. Pasti laris toko bukunya,” kata Ganjar disambut tertawa tamu undangan.

Usai meledek, Ganjar mengatakan bahwa buku yang berjudul Kontroversi Ganjar diterbitkan untuk melihat kerja Ganjar-Heru selama satu setengah tahun memimpin Jawa Tengah.

Tulisan yang ada di dalam buku tersebut, katanya, merupakan kumpulan tulisan dari para wartawan ketika mengikuti dirinya melakukan kerja di lapangan.

Di buku tersebut, terdapat beberapa kejadian saat dirinya melakukan sidak di lapangan yang menemukan adanya pungli di jembatan timbang, ada bupati yang lamban bekerja, infrastruktur jalan yang rusak, dan tidak juga diperbaiki oleh pemerintah tingkat dua.

“Saya sengaja minta apa yang saya ucapkan tidak perlu diedit atau dihaluskan. Biarkan seperti apa adanya,” kata politisi PDIP itu.

Ganjar mengaku buku Kontroversi Ganjar bukanlah buku yang tebal yang telah diterbitkan namun akan ada buku yang tebal yang berisi tentang politik anggaran yang terkadang hal tersebut ditanggapi abu-abu oleh masyarakat.

"Apakah benar ada main antara eksekutif dan legislatif dalam memuluskan suatu program? Masyarakat harus tahu sebenarnya tentang politik anggaran agar tidak menebak-nebak,"ungkapnya.

Namun diakui Ganjar dalam buku Kontroversi Ganjar banyak tulisan yang serba aneh-aneh yang terjadi selama memimpin Jateng bersama Heru selama satu setengah tahun

Heri Dendi, budayawan sekaligus orang kepercayaan Sri Sultan HB X mengatakan bahwa yang justru menjadi kontroversi adalah sosok Ganjar ketika kuliah orangnya kalem, pandai bergaul dan banyak terlibat dalam organisasi kampus di UGM berbeda dengan saat ini ketika memarahi petugas jaga jembatan timbang.

“Pak Ganjar itu temennya anak saya. Jadi saya tahu pribadi dan karakter Pak Ganjar. Sangat berbeda saat kuliah dengan saat menjabat Gubernur. Mungkin itu kontroversi pertama seperti tertuang di halaman 14 buku Kontroversi Ganjar,” ungkapnya.

Romo Dendi yang mengaku tidak membaca tuntas buku Kontroversi Ganjar justru melihat sosok Ganjar yang kontroversi ketika menang dalam pemilihan Ketua Kagama yang mengalahkan Gubernur DIY.

"Itu juga kontroversi. Voting sangat sengit namun Ngarso Dalem (Sri Sultan HB X) sudah bicara " aku ra dadi ketua ya ra papa" (saya tidak jadi ketua tidak masalah) tapi tidak perlu memindahkan pemilihan ketua Kagama ke Semarang," kata Romo Dendi.

Sementara itu, Bambang Sigap Sumantri, wartawan senior Kompas dalam ulasannya menyoroti sosok Ganjar yang masih terbelenggu partainya sehingga dalam mengambil keputusan masih tersandera partainya dan pimpinan partainya.

"Seperti kata pengamat politik, M Yulianto di buku Kontroversi Ganjar yang menyatakan apa yang dilakukannya tidak sejalan dengan apa yang dilakukan rakyatnya sehingga masih jauh dari tujuan Tri Sakti Bung Karno,"ungkapnya.

"Seharusnya ketika Gubernur meniup terompet maka rakyat Jateng mengikutinya dan posisi Pak Ganjar sebagai pemimpin peniup terompet," ungkapnya.

Tulisan tentang bos Sido Muncul, tentang menggunakan teknologi internet untuk menekan kebocoran dalam pajak seharusnya menjadi masukan positif bagi pemerintahan Ganjar-Heru.

"Apalagi saat ini pemerintah baru menggenjot pemasukan pajak dari kebijakan pengampunan pajak,"jelasnya.

Sementara seniman Yati Pesek yang didaulat membedah buku Kontroversi Ganjar lebih menyoroti sosok Ganjar sebagai pemimpin yang memanusiakan manusia.

"Saya menyuruh anak dan cucu saya membacakan buku Kontroversi Ganjar, Yang saya pahami Pak Ganjar sosok pemimpin 'sing ngewongke wong' (yang memanusiakan manusia)," katanya.

Yati juga mengaku sosok kontroversi Ganjar adalah pemimpin yang selalu merespon setiap keluhan dari warganya. SMS, telepon kalau tidak ada acara sangat penting tetap mengangkat telepon atau membalas SMS.

"Saya dulu pernah SMS Pak Ganjar. Saya mau mengadakan syukuran nikah 50 puluh tahun. Setelah SMS, Pak Ganjar balas SMS "ya muga-muga lancar kabeh ya yu ( semoga lancar semua)," katanya.

Namun, ketika Bambang Sigap menyebut Ganjar merupakan sosok yang cukup kuat untuk menantang Ahok pada Pilkada 2017, Yati Pesek justru meminta agar Ganjar menyelesaikan tugasnya di Jawa Tengah.

Menurut Yati, Jawa Tengah sangat memerlukan sosok seperti Ganjar untuk memimpin perubahan dan pembangunan. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya