Kembali Ke Rumah Setelah Setahun Dikubur

Ardi Teristi
03/8/2016 20:53
Kembali Ke Rumah Setelah Setahun Dikubur
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

WARGA Kampung Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kota Yogyakarta, geger dengan kedatangan Waluyo. Pasalnya, warga RT 34 RW 10, tersebut sudah dinyatakan meninggal dan dimakamkan di Bantul, 2 Mei 2015.

Peristiwa kembalinya Waluyo terjadi, Selasa (2/8). Kemarin pagi, pria kelahiran 1954 ini pulang ke rumah setelah lebih dari satu tahun menghilang tanpa kabar.

Seperti adatnya waktu pulang ke rumah setelah pergi lama, Waluyo mengetuk pintu rumah bagian depan sambil mengucap assalamualaikum. Setelah menunggu cukup lama, pintu kemudian dibuka oleh seorang anaknya, Anti Ristanti. Bukannya, ekspresi bahagia yang tampak di wajah anaknya, tetapi wajak ketakutan.

"Yang membukakan pintu Anti. Saat melihat saya, dia mundur ketakutan ketika melihat saya. Saya kemudian bilang, aku ini bapakmu, Nduk," kata Waluyo, Rabu (3/8).

Waluyo melihat wajah Anti masih ketakutan sambil melihat dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah yakin, yang ada di hadapannya benar-benar ayahnya, Anti pun kemudian menjabat tangan ayahnya.

Mendengar suara Waluyo, sang istri, Alin S Katinah keluar dari dalam rumah. "Istri saya masih mengenal suara saya dan fisik saya. Dia langsung memeluk saya sambil menangis," kata Waluyo.

Setelah pertemuan, Waluyo baru mengetahui dirinya ternyata dikira keluarganya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan setahun yang lalu. Saat itu, dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, seorang korban yang tidak memiliki identitas dalam keadaan kritis. Korban saat itu ada di RSUP dr Sardjito.

Mendengar berita tersebut, istri dan anak Waluyo pun mencari tahu. Mereka saat itu memang sedang mencari keberadaan Waluyo yang telah menghilang sejak Januari 2015.

Baik Alin dan Anti meyakini korban kecelakaan lalu lintas itu adalah Waluyo. Bahkan, keduanya sempat merawat 'Waluyo' selama sepekan sebelum pria tersebut meninggal dan dimakamkan pada Mei 2015.

Jalan Kaki Empat Hari

Waluyo, yang sebelumnya berprofesi sebagai penarik becak, menceritakan selama menghilang dari rumah, ia menggelandang. Hal itu dilakukan lantaran bingung karena becak yang menjadi andalan baginya mencari uang diambil si pemilik lantaran ia tidak mampu melunasi uang cicilan.

Waluyo pun sempat tidur di emperan-emperan toko di kawasan wilayah Demangan. Tidak ingin bertemu dengan kerabat ataupun tetangga yang mengenalnya, Waluyo pun pergi meninggalkan Yogyakarta.

Ia berjalan kaki selama empat hari hingga sampai di Kota Semarang. Ia pergi tanpa sepeser uang pun dan hanya mengandalkan pemberian orang-orang dermawan sepanjang perjalanan.

Sama seperti di Yogyakarta, di Semarang, Waluyo pun pergi menggelandang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk bertahan hidup. Baru sejak Desember 2015, Waluyo menetap di kawasan Pusponjolo, Semarang Barat dan menjadi tukang sapu.

Ia bekerja menyapu jalan setiap pagi dan parkir kendaraan pada sore hari. Semua itu dilakukan agar dapat membeli makanan dan bertahan hidup. "Dari menyapu, saya mendapat Rp 700 ribu per bulan dan ada tambahan pemilik toko," kata dia.

Ia mengaku, memilih berhenti dari pekerjaannya dan pulang ke Yogyakarta karena usianya yang sudah tua. Ia juga khawatir tidak ada yang mengurus dia jika ada kejadian yang tidak diinginkan.

Berbekal upah Rp700 ribu rupiah, THR Rp 200 ribu, dan pemberian seadanya dari beberapa toko, ia pun pulang ke Yogyakarta. Waluyo pun mengaku senang dapat berkumpul kembali dengan keluarga dan para tetangganya.

Pranowo, Ketua RT 35 RW 10 mengatakan baru pertama kali mengalami peristiwa seperti ini. Alhasil, dia pun harus menguruskan administrasi kependudukan Waluyo.

"Tadi kami baru mengurus administrasi kependudukan di kecamatan karena akta kematian sudah terbit. Kalau tidak diurus, (Waluyo) dianggap mati, kata dia ketika ditemui di rumahnya.

Ia mengatkan, pengurusan administrasi tersebut tidak bisa langsung selesai karena surat kematian sudah disahkan pengadilan. Pembatalan surat kematian, lanjut dia, juga membutuhkan pengesahan dari pengadilan. Waluyo pun harus menunggu pengesahan dari pengadilan agar dapat dinyatakan dirinya hidup lagi. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya