Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TANGAN BAH Use cukup terampil membuat bumbu satai maranggi. Ia juga memotong-motong daging domba dan sapi sebagai bahan utama satai. Bah Use yang menangani mulai dari pemilihan bahan untuk diolah hingga matang tersaji di piring. Warung satainya di Desa Cihuni, Pasawahan, Purwakarta. Warungnya cukup jauh dari jalan utama. Namun, pengunjungnya tidak pernah sepi. Apalagi pada akhir pekan, banyak pembeli yang rela mengantre untuk mendapatkan tempat. Warung satai meranggi Bah Use berkonsepkan rumahan, dengan disuguhi pemandangan sawah yang menghijau. Warung tersebut buka mulai pukul 08.00-20.00 WIB. Untuk satu tusuk satai maranggi Bah Use dijual seharga Rp1600.
Banyak cerita menarik dalam perjalanannya mengembangkan bisnis warung satai ini. Sebelum membuka warung, Bah Use sempat berjualan satai keliling dari satu kampung ke kampung lainnya, dimulai sejak 1997. Seiring berjalannya waktu, pada 2000, Bah Suhe membuka warung secara permanen. "Dulu mah abah jualannya keliling dari kampung-kampung. Alhamdulillah pada tahun 2000, saya buka warung di sini," kata Bah Use di tengah kesibukannya melayani konsumen. Bah Use bersyukur satai maranggi Purwakarta menjadi ikon wisata kuliner yang membanggakan. Terlebih lagi dukungan dari Pemkab Purwakarta beserta bupatinya, satai maranggi menjadi lebih terkenal.
"Dukungan dari Kang Dedi (Bupati Purwakarta), satai maranggi Purwakarta menjadi terkenal, tidak hanya di tataran Sunda tetapi juga mancanegara," ujar Bah Use
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengungkapkan mengapa ia getol mempromosikan satai maranggi menjadi ikon kuliner daerah itu. "Satai maranggi adalah satu-satunya makanan yang menjadi representasi masyarakat di Purwakarta. Makanan ini telah menyebar dengan beragam keunikan," ujar Dedi. Menyebarnya maranggi membuat munculnya beragam racikan satai maranggi. Namun, bahan baku untuk satai tetap daging domba, rempah, dan gula aren. Atas keberagaman itu, Dedi menilai bahwa satai maranggi merupakan cerminan kreativitas masyarakat Purwakarta. Masyarakat Purwakarta dianggap mampu mengolah daging dalam ukuran kecil, tidak banyak bumbu, tapi tetap menggugah selera dan digemari semua kalangan.
"Maranggi itu lebih pada membuat identitas kesundaan dengan kuat. Karena masyarakat Sunda tumbuh secara umum, lebih banyak tertarik mengelola domba dibandingkan kambing, dan maranggi secara umum, bahan dagingnya adalah daging domba. Dia (maranggi) representasi dari tradisi peternakan ala Sunda," ungkap Dedi Mulyadi. Dia menambahkan, satai maranggi jadi cerminan sekaligus harapan untuk menjadikan Purwakarta sebagai basis peternakan. Domba, kambing, dan sapi merupakan hewan ternak yang mampu menopang kebutuhan pangan masyarakat Purwakarta dan Indonesia. (Reza Sunarya/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved