Kualitas Daging Harus Sesuai Standar

(RZ/N-3)
03/8/2016 00:40
Kualitas Daging Harus Sesuai Standar
(MI/Reza Sunarya)

SATAI maranggi biasanya terbuat dari daging kambing dan sapi. Satai tersebut berbeda dengan satai lainnya karena bumbu yang digunakan terbuat dari kecap yang memiliki cita rasa manis, asam, dan pedas. Paduan rasa ini muncul karena bumbu satai maranggi terbuat dari kecap, sambal cabai hijau, dan ditambah sedikit cuka lahang yang terbuat dari aren. Saat disajikan, bumbu kecap itu disajikan dengan sambal tomat dan ketan bakar atau nasi timbel. Surganya satai maranggi bisa diperoleh di sepanjang Jalan Raya Cibungur yang mudah diakses dari Jakarta setelah keluar dari pintu Tol Cikampek.

Untuk satu porsi satai maranggi terdiri dari 10 tusuk satai, disajikan bersama sambal tomat segar. Sambal tomat terbuat dari potongan tomat dan cabai rawit merah yang diulek di dalam cobek ukuran besar. Ada satu warung makan yang tidak pernah sepi, yakni warung makan satai maranggi Cibungur milik Yeti. Bisnis satai maranggi sudah dijalani Yeti selama 20 tahun. Setiap hari, Yeti membuka usaha warungnya dari pukul 08.00-18.00 WIB. Yeti mampu menghabiskan 50 kg daging kambing dan 50 kg daging sapi setiap harinya untuk dijadikan satai maranggi. "Tapi pada hari-hari sedang ramai pengunjung, kebutuhan daging bisa mencapai 100 hingga 200 kg," terang Yeti. Untuk memopulerkan satai maranggi keluar Purwakarta, Pemkab Purwakarta mengadakan festival kuliner, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk festival kuliner di luar negeri, satai maranggi khas Purwakarta ini muncul di festival kuliner di Filipina dan beberapa truk makanan Maranggi dengan nama OMG (Original Maranggi Grill) di Washington DC, Amerika Serikat.

Bahkan, saat Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan pada 16 Mei lalu, dalam salah satu acara pertemuan dengan para CEO Korsel, suguhan makan siang ialah satai maranggi. Begitu populernya satai maranggi, baik di dalam maupun luar negeri, Pemkab Purwakarta menerapkan standardisasi daging sapi dan domba untuk bahan baku satai. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Purwakarta, Heri Herawan, mengatakan daging sapi dan domba untuk bahan baku satai maranggi diupayakan merupakan produk lokal daerah itu. "Ciri khas sapi dan domba lokal Purwakarta itu dagingnya empuk. Jadi, diupayakan agar para pengusaha atau pedagang satai maranggi menggunakan sapi dan domba lokal," ujar Heri.

Di Purwakarta, para pedagang satai maranggi tersebar di sejumlah kecamatan, antara lain di Bungursari, Plered, dan Wanayasa. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan Purwakarta, produksi daging domba pada 2015 mencapai 164.764 kg. Dari total produksi itu, sekitar 40% hingga 45% di antaranya digunakan untuk pembuatan satai maranggi. Daging domba yang digunakan ialah jenis garwa. Dinas Peternakan dan Perikanan Purwakarta sudah mempersiapkan produksi massal ternak domba garwa yang merupakan perpaduan antara domba garut dan purwakarta. "Jadi postur domba ini seperti domba asal garut yang gagah dan besar, sedangkan daging domba itu empuk, khas domba purwakarta," katanya. Tujuan pengembangan domba garwa tersebut ialah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku satai maranggi. (RZ/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya