Memopulerkan Purwakarta dengan Satai Maranggi

Reza Sunarya
03/8/2016 00:30
Memopulerkan Purwakarta dengan Satai Maranggi
(Ndari)

BUPATI Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia saat menerima telepon dari Ketua DPR RI Ade Komarudin bahwa Presiden Joko Widodo memesan satai maranggi, makanan khas daerah itu untuk acara buka puasa pada Juni lalu. Ade Komarudin pernah mencicipi lezatnya satai maranggi. Pria yang akrab disapa Akom ini ikut mempromosikan kelezatan satai tersebut kepada para pejabat negara, termasuk Presiden Joko Widodo. Bahkan, Kang Dedi sapaan sang bupati yang mengantarkan sendiri satai tersebut. "Saya senang dan bangga karena kuliner khas Purwakarta menjadi menu utama di acara buka puasa di Istana dan dihadiri para pejabat negara," ujar Dedi. Orderan satai dari Presiden menjadi momentum bagi para pedagang satai maranggi di Purwakarta untuk mengembangkan diferensiasi bumbu tanpa meninggalkan kekhasan satai. Satai yang pertama kali dibuat oleh Mak Ranggi itu kini menjadi kuliner khas Purwakarta. Pemkab setempat menyediakan tempat bagi para pedagang satai maranggi untuk berjualan sekaligus melestarikan kuliner lezat tersebut.

Hampir di setiap sudut Kota Purwakarta tidak sulit menemui restoran satai maranggi. Salah satunya berada di pujasera Jalan Taman Pahlawan. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi telah menyulap area itu menjadi surga satai maranggi. Dia mengakui satai maranggi merupakan andalan di pujasera. Tempat tersebut dibangun sebagai bentuk kepedulian pemkab pada usaha kecil, menengah, dan mikro berbasis kuliner. Ia membandingkan dengan pujasera lain yang dibangun dengan biaya swasta. Lama kelamaan biaya sewa terus naik, malah mencekik para pedagang. "Tujuan kami sebagai pemerintah hanya memfasilitasi pedagang untuk memiliki mata pencaharian tetap. Mereka tidak perlu jauh berjalan mendorong gerobak makanan. Mereka kini cukup diam, biarkan konsumen yang mendatangi mereka," kata Dedi di Purwakarta, akhir pekan lalu.


Dedi pun menyampaikan pesan pada seluruh pedagang yang menghuni pujasera untuk menjaga kebersihan. Area yang bersih akan mendatangkan manfaat bagi pedagang dan pengunjung. Pengunjung pun akan lebih tertarik untuk menikmati sajian kuliner. Mereka juga dapat lebih lama nongkrong di pujasera. "Ciri peradaban yang maju adalah kebersihan lingkungannya yang terjaga. Pengunjung akan betah untuk hang out bareng di sini," kata Dedi di depan seluruh pedagang. Bukan hanya itu, Pemkab Purwakarta juga mendirikan pujasera lain di area Srikandi. Kawasan itu menampung pedagang satai maranggi yang semula berjualan di pinggir Jalan Taman Pahlawan. Namun, mereka dipindah agar kawasan di Jalan Taman Pahlawan tak semakin macet.

Pusat kuliner lain di Purwakarta, yaitu di Jalan KK Singawinata. Selain satai maranggi, pengunjung dapat menikmati kuliner lain seperti bakso dan nasi goreng.
Rohimah, pedagang di Jalan KK Singawinata, mengaku bersyukur dengan kepedulian Pemkab Purwakarta. Ia pun tak lagi khawatir diusir Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). "Setiap kami berdagang di pinggir jalan pasti diusir oleh Satpol PP. Kalau sudah di sini, mana berani mereka mengusir?" kata Rohimah. Purwakarta juga memiliki 'Kampoeng Maranggi' di beberapa area. Satu di antaranya di depan pintu masuk Taman Air Mancur Sri Baduga. Pemkab menyediakan 40 tempat bagi pedagang di area itu.

Area lain, yaitu di halaman Stasiun Kereta Api Plered. Uniknya, Pemkab Purwakarta menggratiskan biaya pedagang di area tersebut. Pemkab Purwakarta mengeluarkan anggaran lebih dari Rp2 miliar untuk membangun 'Kampoeng Maranggi', yang kini ditempati ratusan pedagang satai maranggi secara gratis sejak April lalu. "Anggaran pembangunannya mencapai sekitar Rp2 miliar. Ditambah lagi uang sewa lahan ke PT KAI sebesar Rp824 juta per lima tahun," kata Dedi. Ia mengatakan anggaran tersebut sengaja dikeluarkan Pemkab Purwakarta agar para pedagang satai maranggi khas Plered bisa nyaman berjualan di kios yang telah disediakan, sedangkan sebelumnya mereka berjualan di sepanjang sisi jalan raya Plered.

'Kampoeng Maranggi' yang berlokasi di depan Stasiun Kereta Api Plered itu mampu menampung 120 pedagang satai maranggi. Di kawasan itu juga tersedia parkir kendaraan yang cukup aman. Bupati mengingatkan agar para pedagang satai maranggi di 'Kampoeng Maranggi' bisa lebih kreatif setelah disediakan kios untuk berdagang oleh Pemkab Purwakarta. Dedi juga meminta agar para pedagang menyediakan bangku dari bambu yang dicat dan rapi, agar muncul ciri khas Purwarkarta dan menjaga kebersihan agar para konsumen selalu kembali membeli satai. Untuk anggaran pemeliharaan 'Kampoeng Maranggi', Dedi mempersilakan para pedagang iuran sebab tempat baru mereka berjualan itu membutuhkan pemeliharaan listrik dan air bersih. (N-3) reza@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya