Mencari Surga yang Tersembunyi

Sri Retno Wulandari/M-6
02/8/2015 00:00
Mencari Surga yang Tersembunyi
(DOK ARDHA PRASETYA)
MENEMBUS rimbun belantara, menyusuri kelok sungai, atau menyusuri gua menjadi keasyikan tersendiri bagi sebagian para petualang.

Tak peduli sulitnya akses atau lamanya waktu tempuh, para pencari 'surga' tersembunyi itu seolah tertantang untuk terus menguak lebih dalam pesona alam yang ada di Nusantara.

"Tutupan hutannya rapat, sinar matahari yang tembus hanya sedikit. Itu belum ada jalur, tetapi orang lokal canggih, mereka bisa tahu jalan yang harus kita lalui. Begitu sampai, yang tadinya hanya ingin lihat, gue langsung nyebur, jernih banget airnya," ujar Ardha menggebu-gebu mengenang pengembaraannya saat mengunjungi Kawasan Batu Mentas pada Agustus tahun lalu.

Batu Mentas terletak di Dusun Kelekak Datuk, Kecamatan Badau, Belitung Barat, atau sekitar 30 Km dari Pusat Kota Tanjungpandan.

Di lokasi tersebut, terdapat sungai yang aliran airnya berasal dari wilayah Gunung Tajam.

Tak jauh dari situ terdapat pusat konservasi Tarsius bancanus saltator, yaitu hewan primata yang hanya ada di Pulau Belitung.

Saat itu, kata Ardha, dia dan kawan-kawannya harus berkejaran dengan waktu lantaran takut malam keburu menyergap.

"Waktu pulang kami lari-larian, sampai di luar, kaki sudah penuh luka karena banyak tumbuhan berduri ha ha ha," ujarnya saat ditemui pertengahan pekan lalu.

Pengalaman tak kalah serunya dialami Uter Widodo.

Sebagai mahasiswa jurusan biologi, dia sering mengunjungi pelosok Nusantara, baik untuk keperluan studi maupun sekadar jalan-jalan.

Salah satu yang pernah dia sambangi ialah Desa Banjarsari, di Pulau Enggano, Bengkulu.

"Kawasan ini sebenarnya sangat bagus untuk ekowisata, diving, dan treking lintas alam dengan bersepeda," paparnya.

Namun, kata dia, transportasi yang sulit dan lamanya waktu tempuh membuat orang jarang mengunjungi tempat itu.

"Dari Bengkulu kalau naik kapal memakan waktu 10 jam. Nah, dari pelabuhan masih harus naik ojek 1 jam untuk mencapai lokasi. Itu pun jalannya berbatu dan licin kalau hujan" terangnya.

Namun, Uter mengaku tak jera.

Begitu pun dengan Ardha.

Udara segar, jernihnya sungai, dan kerlip bintang di malam hari yang mereka tatap dari kesunyian alam menjadi kepuasan tersendiri sekaligus menghapus lelah, atau bahkan mungkin mengobati luka selama perjalanan.

Dengan semangat membara, para pencinta keindahan alam Nusantara itu terus mengembara berkeliling Indonesia, menguak 'nirwana' yang masih tersembunyi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya