Produksi Bawang dan Cabai Anjlok

(Tim/N-4)
29/7/2016 02:50
Produksi Bawang dan Cabai Anjlok
(ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

ANOMALI cuaca berdampak pada anjloknya produksi bawang merah di sejumlah sentra produksi di Jawa Tengah. Hal ini menyebabkan harga bawang merah terus melambung. Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia, Juwari, menyebutkan produksi bawang merah di Brebes bahkan melorot 50%. "Sehari bisa terjadi beberapa kali cuaca yang panas, kemudian tiba-tiba jadi dingin atau tiba-tiba mendung dan turun hujan. Kondisi cuaca yang begitu tidak bagus buat bawang merah," ujarnya, Kamis (28/7). Produksi bawang merah di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, juga dilaporkan turun tajam. "Ukurannya umbinya jadi kecil-kecil dan busuk," kata Sunarto, petani bawang di Desa Tarubatang. Tak hanya bawang merah, turunnya produksi juga terjadi pada cabai merah karena faktor cuaca dan menyusutnya lahan. Penyusutan lahan cabai di Demak, misalnya akibat banjir air laut pasang. Lahan tanaman cabai yang sebagian berada di daerah pesisir saat ini hanya tersisa 717 ha.

Hama mengganas
Serangan hama juga membuat sebagian petani cabai di lereng Gunung Slamet beralih ke tanaman sayuran lainnya. "Menanam cabai, selain butuh modal besar juga rawan penyakit dan mati," kata Suwarni, 49, petani cabai di Pulosari, Pemalang. Rubiyanto,31, seorang petani cabai di Kelurahan Tlogorejo, Kecamatan Temanggung, mengalami hal yang sama. Ia menanam cabai merah keriting sebanyak 2.800 batang. Dari jumlah itu, 25% diserang patek, 10% terkena busuk batang. Dinas Pertanian DI Yogyakarta, Sasongko, meminta petani untuk meninggikan tanah saat menanam cabai dan membangun parit sehingga tidak menggenangi lahan pertanian. "Kalau terkena air hujan segera disiram untuk menghilangkan kandungan mineral dari air hujan yang menempel di cabai," sebutnya.

Di Sidoarjo, Jatim, puluhan hektare areal padi siap panen di Kecamatan Prambon atau di wilayah barat Kabupaten Sidoarjo rusak diserang hama wereng.
Petani merugi ratusan juta rupiah. Di Kabupaten Tuban, Jatim, ratusan hektare tanaman padi diserang hama sundep dan tikus, dipicu kemarau basah. Serangan tikus mengganas saat hujan di malam hari. Untuk menjaga agar tanaman tetap panen, sebagian petani memagari nya dengan aliran listrik. Di Desa Carikan, Kecamatan Kedu, lahan kubis seluas 4.000 meter persegi diserang hama ulat. Di tengah anjloknya produksi bawang dan cabai, sejumlah daerah seperti Sumbar, NTT, justru melaporkan penurunan harga kedua komoditas itu di tingkat petani. (JI/FR/AS/YH/PO/RS/HS/BB/YK/LN/TS/BN/PS/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya