Ramai-Ramai Menangkal Datangnya Petaka Air

Liliek Dharmawan
31/7/2015 00:00
Ramai-Ramai Menangkal Datangnya Petaka Air
(ANTARA/ANIS EFIZUDIN)
AIR pada musim kemarau seperti sekarang ini menjadi barang yang teramat berharga, tidak bisa dipakai seenaknya.

Penggunaannya pun perlu diatur.

Di empat kabupaten Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan, seperti Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara, misalnya, penyaluran air di sejumlah saluran irigasi mulai digilir sejak pertengahan Juli lalu.

Penggiliran air tersebut disebabkan debit air sungai-sungai yang memasok saluran irigasi menurun hingga 40% dari kondisi normal.

Kepala Seksi Operasional dan Perawatan Balai Pengelola Sumber Daya Air

(BPSDA) Serayu Citanduy Arief Sugiyarto pun mengakui terjadinya penurunan debit air tersebut.

Ia mencontohkan, debit air Sungai Serayu yang merupakan sungai

terbesar yang ada di Jateng selatan juga menurun drastis.

\"Pada saat musim hujan, debit air Sungai Serayu dapat mencapai 1.200 meter kubik per detik. Namun, saat ini sudah menurun hingga 480 meter kubik per detik. Saat ini, debitnya mencapai 720 meter per detik,\" katanya, kemarin.

Selain itu, lanjut Arief, sungai yang debitnya turun ialah Sungai

Klawing, Mrawu, Sapi, Pelus, Logawa, Banjaran, dan Cikawung.

\"Dengan penurunan debit air tersebut, dilakukan penggiliran penyaluran air. Hal itu dilakukan agar sawah-sawah yang kini masih menanam padi tidak mengalami kekeringan dan dapat panen,\" ujar Arief.

Arief menyebutkan, di wilayah kerja BPSDA Serayu Citanduy, ada 13 daerah

irigasi yang tersebar di empat kabupaten.

Irigasi teknis yang bersumber dari sungai-sungai di wilayah setempat akan mengairi lahan pertanian lebih dari 67.000 hektare, 57.000 hektare lebih menjadi tanggung jawab pusat dan 10.000 hektare lebih merupakan tanggung jawab BPSDA Serayu Citanduy.

Tidak cuma penyaluran air irigasi yang perlu diatur.

Empat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kebumen, Jateng, pun terpaksa mulai tidak beroperasi pada 1 Agustus mendatang.

Pasalnya, pengaliran air dari waduk dihentikan untuk menghemat cadangan air dan perawatan saluran irigasi.

Empat PLTA yang tidak beroperasi ialah PLTA Wadaslintang yang bersumber dari Waduk Wadaslintang dengan kapasitas 16 megawatt (MW), PLTA Sempor 1,1 MW yang bersumber dari Waduk Sempor, PLTA Pajengkolan dengan kapasitas 1,4 MW, dan PLTA Merden 400 kilowatt (KW).

\"Empat PLTA tersebut tidak beroperasi karena penyaluran air dari Waduk

Wadaslintang dan Sempor dihentikan mulai 1 Agustus mendatang. Secara otomatis, PLTA yang digerakkan aliran irigasi waduk berhenti

operasionalnya,\" kata Kepala Bidang Irigasi Dinas Sumber Daya Air dan

Energi Sumberdaya Mineral (SDA ESDM) Kebumen Muchtarom, kemarin.

Menurutnya, penutupan aliran air irigasi yang bersumber dari Waduk

Wadaslintang dan Sempor memang sudah terjadwal.

Muchtarom juga mengakui kalau stok air waduk di Kebumen volumenya mulai menurun.

\"Misalnya, untuk Waduk Sempor yang volume maksimalnya mencapai 38 juta meter kubik (m3) kini hanya sekitar 9,16 juta meter kubik dengan elevasi 55 meter. Sementara itu, untuk volume Waduk Wadaslintang mencapai 231,4 juta m3 dengan evelasi 168,6 meter dari volume maksimal 388 juta m3. Air waduk memang menyusut dan tidak ada tambahan air karena tidak ada hujan,\" ungkapnya.

Amankan produksi

Kekeringan yang melanda Tanah Air memang membuat semua pihak siaga. Di Klaten, Jateng, pihak Dinas Pertanian Klaten kini fokus mengamankan target produksi padi tahun ini.

Berbagai langkah pun dilakukan, di antaranya perbaikan saluran irigasi, pemanfaatan embung dan mata air yang ada, serta mendorong petani mengoptimalkan pengoperasian pompa air guna menyelamatkan tanaman padi dari ancaman gagal panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Joko pun mengimbau, untuk menghadapi kemarau ini, petani diminta menaati surat edaran Bupati Klaten No 24/2014 tentang Pola Tanam, yaitu tidak tanam padi, tapi palawija.

Optimalisasi pompa air sebanyak 5.915 unit yang ada di kelompok tani diharapkan dapat membantu mengatasi kekeringan di musim kemarau.

Saat ini, ancaman kekeringan berpotensi terjadi di Kecamatan Trucuk, Karangdowo, Jogonalan, Ceper, Cawas, dan Kalikotes.

Selain Klaten, Bulog Subdivisi Regional (Subdivre) Banyumas, Jateng, memastikan stok pangan aman hingga Januari 2016.

Menurut Humas Bulog Banyumas M Priyono stok beras di Gudang Bulog Banyumas masih mampu mencukupi kebutuhan hingga Januari 2016 mendatang.

\"Setiap bulan Bulog menyalurkan 6.300 ton untuk empat kabupaten, yakni

Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara. Masyarakat tidak perlu

khawatir mengenai stok beras meski saat sekarang memasuki paceklik pada

musim kemarau,\" kata Priyono, kemarin.

Di Yogyakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat mengusulkan dana sebesar Rp6 miliar untuk menghadapi kekeringan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

\"Besaran dana tersebut nantinya, misalnya, digunakan untuk droping air dan pembangunan pipa saluran air agar air lebih dekat ke warga,\" kata Kepala BPBD DIY, Gatot Saptadi, di Gedung DPRD DIY, kemarin.

Selain pemerintah daerah, petani harus bekerja lebih keras lagi untuk mengamankan tanaman pangan miliknya agar tidak puso dan tetap bisa dipanen secara maksimal.

Di wilayah Solo Raya, sudah sebulan terakhir sebagian besar petani di sejumlah desa Kecamatan Polokarto dan juga Nguter perlu mengoptimalkan mesin pompa diesel seiring dengan makin minimnya pasokan air dari saluran Dam Colo Timur.

Sikap bijak petani memang dibutuhkan. Lihat, misalnya, di Brebes, Jateng, setidaknya 261 hektare (ha) tanaman padi dinyatakan puso, sedangkan 543 ha lainnya terancam kekeringan.

Tak cuma itu. Warga lereng Merapi di Kecamatan Kemalang, Klaten, yang mulai kesulitan air bersih, terpaksa membeli air dengan harga Rp200 ribu per tangki untuk beragam kebutuhan mereka.

Air memang ibarat ladang emas di musim kemarau. Meski mahal, air tetap dicari banyak orang yang membutuhkannya. (JS/JI/AT/WJ/N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya