Tekad Dua Sahabat

MI/Sri Utami
31/7/2015 00:00
Tekad Dua Sahabat
(MI/Sri Utami )
DUA orang santri muda duduk bersila di aula sebuah pesantren di Semarang, Jawa Tengah. Dua gelas kopi hitam belum habis diminum seiring dengan diskusi tengah malam yang dijalani kedua santri itu. Mereka berdiskusi mengenai strategi melawan penjajahan Belanda saat itu di ruangan seluas 4 x 6 meter persegi.

Perbincangan kedua anak remaja yang terjadi pada 1880-an itu mengarah pada pentingnya pendidikan sebagai sebuah cara melawan kolonialisme. Diskusi tengah malam hampir tiap hari mereka lakukan di bawah temaram lampu teplok di dinding kayu pondok pesantren. Saat melihat dua santri tersebut, pengasuh pesantren Kiai Muhammad Sholeh bin Umar Samarani atau Sholeh Darat tidak pernah melarang keduanya terbangun hingga larut.

Kedua santri yang juga berbagi kamar berdinding kayu jati seluas 2 x 3 meter persegi itu ialah siswa dari Kiai Sholeh Darat yang kemudian mendirikan dua organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Kedua santri itu ialah KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.

Cicit KH Sholeh Darat, Lukman Hakim, saat ditemui Media Indonesia di Semarang, beberapa waktu lalu, memaparkan keakraban kedua tokoh itu sejak remaja. "Keduanya adalah sahabat kental sekali. Mereka selalu bersama, tidur seranjang di kamar. Memang kadang beramai-ramai juga dengan santri lain, tapi pasti ada mereka berdua. Dulu itu, kalau malam, walaupun cuma lampu teplok, Mbah Sholeh tahu saat santri lain sudah tidur, mereka masih diskusi. Diskusi ya tentang strategi semua," jelasnya, Selasa (29/6).

Dalam keseharian di pesantren, keduanya sangat patuh dan dekat dengan Kiai Sholeh Darat. Selain membaca Alquran dan kitab-kitab Sholeh Darat, Dahlan dan Hasyim muda sangat suka mengerjakan tugas menimba air sumur untuk wudu seluruh penghuni pesantren dan itu menjadi aktivitas rutin.

"Mereka selalu mengerjakan tugas, termasuk tugas menimba air. Saking patuhnya, disuruh nyebur sungai saja mereka mau. Tapi, ya mereka tidak nurut soal larangan tidur larut malam," imbuhnya. Menurut Lukman, kedua tokoh itu ialah yang paling kritis dan maju ketimbang santri Kiai Sholeh Darat yang lain.

Dahlan, lanjut dia, berwatak keras tapi lentur sehingga cepat menyelami pendidikan yang dibutuhkan di kalangan keraton.
Sementara itu, Hasyim, jelas Lukman, berwatak keras dan kaku sehingga menjadikannya tokoh yang disegani di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah.

"Mereka punya pemikiran yang sama, yaitu membebaskan bangsa dari penjajahan. Sikap ini memang yang diturunkan Mbah Sholeh lewat tulisan di kitabnya. Jadi, meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro. Perjuangan lebih banyak menggugah semangat dari ulama dan santri melalui tulisan," terangnya.

Lukman mengakui, kedua sahabat itu memiliki perbedaan ketika membahas strategi dalam mencapai tujuan itu. "Dahlan wataknya keras, cuma strategi untuk merangkul orang abangan itu lebih pintar. Seperti perjuangan Rasulullah. Contohnya, orang peminum, tidak apa yang penting kalau mau salat, mandi dulu. Sementara itu, Hasyim lebih keras. Dia selalu menerapkan hukuman seperti mandi 40 hari. Itu karena Hasyim lebih mempertahankan kultur ke-Indonesian," jelas Lukman.

Kini, tidak ada sisa pesantren tempat kedua ulama besar Jawa itu berguru. Lahan pesantren yang dulu seluas sekitar 1.000 meter persegi, kini tersisa sekitar 200 meter persegi dengan sebuah bangunan masjid di atasnya. Jenazah Sholeh Darat yang meninggal dunia pada 1903 dalam usia 83 tahun itu awalnya dimakamkan di belakang masjid di kawasan Jalan Mlayu Darat, Semarang. Namun, karena khawatir makam itu dibongkar Belanda, jenazah Sholeh Darat dipindah dan dimakamkan di Taman Permakaman Umum (TPU) Bergota, Semarang.

Strategi perjuangan
Lukman menambahkan, dalam kitab yang ditulis Sholeh Darat, latar belakang Dahlan dan Hasyim menjadi pertimbangan untuk menjadikan mereka penerus perjuangan dengan membentuk dua kubu. Menurut dia, dalam rangka mengusir penjajah, diperlukan pendekatan dua tataran kelas, yakni ningrat atau keraton dan masyarakat lapis menengah ke bawah atau warga petani.

"Keduanya memang paling menonjol dengan pemikiran. Mereka punya pemikiran yang sama, yakni bagaimana untuk membebaskan dari penjajahan. Dahlan dan Hasyim selalu diskusi tentang strategi dan solusi yang setelahnya juga didiskusikan dengan Mbah Sholeh," jelas Lukman. Jadi, sambung dia, Kiai Sholeh Darat menugasi Ahmad Dahlan untuk masuk dan bergerilya di kalangan ningrat atau keraton Yogyakarta.

Sementara itu, Hasyim Ashari berada di kalangan petani. "Semua sudah diatur untuk mempersatukan dua organisasi yang dibentuk yang nantinya akan mempersatukan seluruh Jawa. Pertemuannya dilakukan dengan Syekh Nawawi al Bantani di Banten. Tapi, belum kesampaian karena mereka sudah wafat," terangnya.

Menurut dia, organisasi Muhammadiyah dan NU ialah sebagai wadah perjuangan dengan tujuan akhir kemaslahatan umat dan bukan menjadi kendaraan politik praktis. Hal itu, sambung Lukman, ditegaskan dalam salah satu kitab yang ditulis Sholeh Darat. "Bukan seperti sekarang ini yang menjadikan perbedaan dalam hal kecil karena tujuannya tidak seperti itu, apalagi bermain politik praktis," ujar Lukman.

Cicit KH Ahmad Dahlan, Ahmad Nafian, menjelaskan saat kakek buyutnya mendirikan Muhammadiyah di langgar di kawasan Kauman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang didirikan ayah KH Ahmad Dahlan, KH Abu Bakar, kakek buyutnya mendapat tentangan dari warga sekitar. Bahkan, warga sempat membongkar paksa langgar itu walau kemudian dibangun lagi dengan konstruksi yang lebih kukuh.

Kini, langgar itu sudah terdiri atas dua lantai. Lantai dasar digunakan sebagai museum, sedangkan lantai atas untuk tempat salat dan mengaji. Cucu KH Ahmad Dahlan, M Iftironi, mengisahkan, untuk menyampaikan ajaran Islam, KH Ahmad Dahlan yang memiliki nama kecil Muhammad Darwisy sempat dipanggil Raja Yogyakarta untuk menyampaikan penjelasan ajarannya.

Setelah dipandang tidak bermasalah, Raja Yogyakarta mengangkat KH Ahmad Dahlan sebagai Ketib Amin. Saat itu, Ahmad Dahlan yang kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, melihat pelaksanaan ajaran Islam oleh masyarakat yang karut-marut. Ahmad Dahlan kemudian berjuang untuk mengembalikan agama Islam seperti kaidah yang dilakukan Rasulullah.

Salah satu perjuangan KH Ahmad Dahlan yang dikenal luas ialah saat membetulkan arah kiblat. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang juga cucu dari KH Hasyim Asy'ari, Salahuddin Wahid, membenarkan persahabatan kakeknya dengan Ahmad Dahlan. "Mereka memang bersahabat yang bersama belajar di Mekah dan Semarang. Mereka belajar dengan Kiai Sholeh Darat. Kakek mereka juga bersahabat," terangnya.

Pria yang kerap disapa Gus Sholah itu menilai perbedaan antara NU dan Muhammadiyah bukan sebagai persoalan, melainkah rahmat. Menurut dia, meskipun Hasyim Asy'ari ialah pendiri NU, ajarannya sudah ada terlebih dahulu. "Mbah Hasyim hanya meneruskan ajaran terdahulu. Beliau lebih dikenal yang mendirikan organisasi. Sebagai ajaran, sudah ada berabad-abad dulu. Adapun sebagai organisasi, ada di abad 20-an," tutupnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya