2.310 Rumah Terendam Banjir

Wibowo Sangkala
27/7/2016 03:50
2.310 Rumah Terendam Banjir
(ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

WARGA yang dibantu aparat TNI, polisi, dan Muspida membersihkan sisa-sisa banjir bandang yang melanda Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, Banten, seusai hujan deras disertai angin kencang pada Minggu (24/7) malam. Camat Anyer Khairil Anwar melaporkan banjir telah merendam sedikitnya 2.310 rumah yang tersebar di 10 desa. Beruntung bencana alam tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. “Selain ribuan rumah yang te­rendam, 202 unit rumah rusak berat, 52 rumah hilang hingga rata dengan tanah, 11 unit sekolah rusak, 594 hektare tanaman padi rusak, dan seorang warga luka parah,” terangnya, Selasa (26/7). Untuk penanganan sementara, petugas mendirikan dapur umum juga pengobatan dengan pelayanan jemput bola ke lokasi-lokasi yang dilanda banjir. Petugas juga melakukan penyedotan dengan mesin pompa agar genangan air surut.

Namun, tidak semua warga melakukan bersih-bersih. Ahmad Jazuli, 46, warga Anyer, Kabupaten Serang, misalnya. Ia masih bersedih hati karena rumah dan seluruh harta bendanya hanyut terbawa air. “Saya berharap agar pemerintah bisa membantu warga yang rumahnya benar-benar rusak,” harap Jazuli. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten mengatakan bantuan rehabilitasi akan diberikan bagi warga yang rumahnya rusak atau hancur. “Bantuan akan diberikan dari APBD untuk korban banjir yang rumahnya rusak maupun yang rusak parah,” ujar Kepala BPBD Banten, Sukmawijaya.

Gubernur Banten Rano Karno berharap situasi di lokasi bencana, terutama di kawasan wisata, bisa kembali normal. “Harapan saya, satu atau dua hari ini semua bisa kembali normal,” ujar Rano, saat meninjau lokasi banjir di Pantai Carita, Labuan, dan Pantai Anyer. Rano juga menyempatkan diri melayat ke rumah keluarga empat korban meninggal di dalam mobil yang terjebak banjir, di Kampung Panguseupan, Kecamatan Labuan. Sejauh ini, bantuan yang datang untuk para korban banjir berasal, antara lain dari PT Pertamina, PT Krakatau Steel, tokoh Banten Taufiqurrahman Ruki dan Embay Mulya Syarif.

Tingkatkan kewaspadaan
Sementara itu, sejumlah wilayah di Kota Sukabumi masih berpotensi terjadi tanah longsor dan banjir. “Yang teranyar, bencana tanah longsor terjadi di Kecamatan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh. Kita sudah imbau masyarakat di sekitar lokasi tanah longsor agar selalu waspada dan berhati-hati dengan curah hujan yang masih tinggi,” ujar Kepala BPBD Kota Sukabumi Asep Suhendrawan. Imbauan yang sama juga dilakukan BPBD Sulsel dengan mengirimkan surat edaran kepada BPBD kabupaten/kota untuk mewaspadai fenomena La Nina.

Beberapa kabupaten di Sulsel yang rawan longsor terletak di dataran tinggi. Sementara itu, daerah rawan banjir berlokasi di ­Makassar, Wajo, Soppeng, Bone, Pinrang, Sidrap, dan Luwu Raya. Di Sumatra Barat, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang alat seismik di Gunung Talamau, untuk mendapatkan data aktivitas ke­gempaan gunung itu pascagempa Pasaman, 10 Juli lalu. Sebelumnya, beredar kabar gunung tersebut kembali aktif seusai gempa 5,4 SR. Padahal, Talamau termasuk gunung tipe B, yakni gunung yang tidak meletus lagi. Sejauh ini, Indonesia dinilai merupakan salah satu negara yang memiliki perkembangan besar dalam proses tanggap bencana. Hal itu diutarakan Perwakilan International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG) Asia Pasifik Manda Wang saat latihan penanganan, pencarian, dan penyelamatan korban gempa bumi di Yogyakarta, kemarin. (BB/LN/YH/AU/MS/Ant/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya