Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DENGAN alat sederhana yang terbuat dari seng, Khoiron, 37, mengeruk pasir. Kedua tangannya kemudian mengangkat alat kerukan berisi pasir itu dari dasar sungai. Ia lantas memasukkan pasir ke keranjang anyaman terbuat dari bambu. Bila seluruh keranjang sudah penuh dengan pasir, Khoiron kemudian memikulnya sambil melewati jalanan berbatu untuk ditimbun di tanah lapang.
Saat timbunan pasir tampak menggunung, ia mulai menunggu pembeli yang datang siap membeli pasir hasil galiannya. Profesi penambang pasir seperti Khoirun banyak ditemukan di Desa Sidepan, Kecamatan Winongan. Mereka mencari nafkah dengan menambang pasir secara tradisional. Lebih dari 30 warga Desa Sidepan yang tergabung dalam 11 kelompok kecil bekerja sebagai penambang pasir. Namun, dalam waktu dekat, para penambang pasir itu akan kehilangan mata pencaharian. Sungai Sidepan yang banyak menyimpan pasir akan menjadi saluran pembuangan sumber air Umbulan.
"Saya biasanya mulai mencari pasir pada pukul 08.00 WIB hingga sore hari. Akan tetapi, tidak seperti pekerjaan lainnya yang bisa terus-menerus. Untuk mencari pasir, harus berendam di air. Setiap 1 hingga 2 jam mesti mentas (keluar dari sungai) untuk istirahat," kata Khoirun menjelaskan profesinya sebagai penambang pasir. Dari hasil penjualan pasir, setiap hari ia mampu membawa uang Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. "Selama ini saya sudah punya pelanggan yang rutin mengambil pasir. Pasir satu truk harganya Rp400 ribu. Kalau pasir untuk mobil pikap cukup Rp50 ribu," imbuhnya.
Berbeda dengan Khoiron, M Kholil, pria berusia 61 tahun, telah mencari pasir sejak masih bujangan. Ia hanya mencari pasir maksimal dua pikap sehari. Meski sudah berusia lanjut, Kholil tidak akan pensiun mencari pasir di Sungai Sidepan. "Tidak ada pekerjaan lain. Saya sudah sejak bujang mencari pasir di sungai ini. Akan tetapi, sekarang ini maksimal dalam sehari, saya hanya bisa mengumpulkam dua pikap," ujar Kholil.
Selain mendapatkan nafkah dari mencari pasir secara tradisional, para pencari pasir itu mampu mencegah terjadinya banjir yang berlebihan saat musim basah lantaran pengambilan pasir itu membuat kedalaman sungai tetap terjaga. "Kalau pasir tidak ada yang mengambil, banjir bukan hanya terjadi di hulu, melainkan juga di Desa Sidepan ini. Air sungai bisa naik dan merendam rumah warga. Apalagi kondisi hutan banyak yang gundul. Jika hujan, air langsung meluncur karena tidak ada normalisasi. Banjir pasti tidak bisa dicegah," imbuh Khoiron.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved