43 Tahun Menanti Proyek Air Minum Umbulan

Abdus Syukur
27/7/2016 00:30
43 Tahun Menanti Proyek Air Minum Umbulan
(MI/ABDUS SYUKUR)

KHOIRUN, pencari pasir di Sungai Sidepan, sibuk mengeruk pasir basah yang kemudian dituangkan ke keranjang dan memikulnya ke daratan. Ia kemudian menuangkan keranjang berisi pasir ke gundukan. "Pasir ini dari sumber air Umbulan," ujar Khoirun. Sumber air Umbulan yang berada di Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjadi sumber penghasilan dan air kehidupan masyarakat setempat. Sepuluh tahun lalu sumber air Umbulan memiliki debit air hingga 6.000 liter/detik (l/dt). Namun, itu kemudian turun menjadi 5.650 l/dt. Saat ini sumber air di kaki Pegunungan Tengger itu hanya memiliki debit sekitar 3.200 l/dt hingga 3.500 l/dt.

Penurunan debit air Umbulan itu diketahui dari hasil kajian lapangan penelitian air Universitas Merdeka Malang yang dilakukan sejak Desember 2015 hingga 17 Maret 2016. Padahal, pemerintah telah menetapkan sumber air Umbulan menjadi proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) senilai Rp2,05 triliun dengan produksi air bersih sebanyak 4.000 l/dt. Nantinya air bersih itu didistribusikan untuk lima daerah di Jatim, yakni Kabupaten dan Kota Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, dan Surabaya. Dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution pada Rabu (13/7) di Jakarta, telah diputuskan untuk penandatanganan kontrak kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KKPBU) SPAM Umbulan.

"Saya hadir dalam rapat koordinasi tersebut dan diputuskan penandatanganan KPPBU SPAM Umbulan dilakukan Kamis (21/7). Kontrak itu ialah kerja sama sejumlah pemerintah daerah dengan swasta yang akan mengoperasikan SPAM Umbulan. Pihak swasta adalah Medco Energy," kata Bupati Pasuruan M Irsyad Yusuf. Rapat koordinasi itu juga dihadiri antara lain Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan perwakilan dari Gresik, Sidoarjo, Surabaya, serta Kota Pasuruan.

Proses proyek SPAM Umbulan itu dimulai sejak 1973 atau 43 tahun lalu. Namun, pola KKPBU SPAM itu merupakan proyek pertama yang tersulit karena melibatkan banyak daerah. "Dalam rakor itu disampaikan, SPAM Umbulan merupakan proyek pertama yang tersulit. Makanya digunakan pola KPPBU dan bisa menjadi contoh untuk berbagai proyek infrastruktur lainnya seperti SPAM di daerah lain, listrik, jalan tol, dan sebagainya," imbuh bupati yang akrab disapa Gus Irsyad itu. Proyek tersebut akan dikerjakan Medco Energy awal 2017, dengan lama pengerjaan 24 bulan. SPAM Umbulan diperkirakan mulai beroperasi pada akhir 2018 atau awal 2019. Nantinya air bersih yang diproduksi SPAM Umbulan akan dimanfaatkan 1,3 juta jiwa atau 260 ribu keluarga di lima daerah.

Proyek SPAM Umbulan itu juga disorot DPRD Pasuruan. Dari hasil penelusuran, luasan area tangkapan air mencapai 25 ribu hektare, tapi yang mengelola area itu berbeda-beda lembaga, yakni Perum Perhutani dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Untuk mewujudkan proyek itu, lembaga-lembaga tersebut harus menjalin kesepakatan dengan Pemkab Pasuruan. "Lembaga-lembaga itu tidak berada di bawah Pemkab Pasuruan. Makanya harus ada kesepakatan yang jelas. Kalau tidak, bisa saja mereka berbuat seenaknya," kata Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Sudiono Fauzan.

Keberadaan SPAM Umbulan itu harus bisa membantu menangani krisis air bersih di 32 desa di Pasuruan, sedangkan pembangunan jaringan pipa baru untuk kuota yang didapatkan PDAM Kabupaten Pasuruan diperkirakan mencapai Rp256 miliar. Biaya sebesar itu tidak sanggup ditanggung pemkab. "APBD Kabupaten Pasuruan tidak mampu membiayai pembangunan pipa Rp256 miliar itu. Kalau permintaan bantuan ke Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sudah wajar. Mereka yang menikmati lebih banyak SPAM Umbulan. Totalnya 3.370 l/dt," tambah Sudiono.

Debit air turun
Proyek pembangunan SPAM Umbulan belum dimulai sudah menuai persoalan. Merujuk pada penelitian Balai Besar Brantas wilayah Gembong-Pekalen bersama CK-Net Universitas Merdeka Malang, debit air yang terus menurun disebabkan masalah lingkungan. "Dengan menurunnya debit air Umbulan itu, tidak mungkin lagi SPAM Umbulan memproduksi air sesuai dengan perencanaan yakni sebesar 4.000 l/dt. Airnya kurang. Jika dipaksakan bisa menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah," kata Direktur CK-Net sekaligus ahli hidrogeologi Unmer Malang Gunawan Wibisono.

Dampak langsung apabila produksi air dieksploitasi melebihi kapasitas ialah terjadi kekeringan pada area persawahan karena debit air sungai menyusut. "Pertanian kekeringan karena sungai-sungai mengering. Dampaknya cukup luas akibat pendangkalan," jelas Gunawan. Untuk mencegah kerusakan lingkungan dan tidak menimbulkan kekeringan pada sungai, pemanfaatan air Umbulan harus dilakukan bertahap. Saat ini debit air Umbulan hanya 3.200 l/dt hingga 3.500 l/dt.

"Dengan kondisi saat ini, untuk memenuhi perencanaan pemanfaatan air dari Umbulan harus bertahap. Tahap pertama maksimal air Umbulan yang bisa dimanfaatkan dan didistribusikan hanya 2.000 l/dt," terang Gunawan. Meski pengoperasian SPAM Umbulan baru 2.000 l/dt, diyakini air sungai-sungai yang ada di sekitarnya semakin dangkal. Permukaan air Sungai Rejoso yang menjadi sumber air terbesar SPAM Umbulan tinggal 50 cm.

Untuk mengatasi pendangkalan dan menaikkan kembali air permukaan, harus dibangun embung atau long storage (dinding penahan). "Dengan embung atau long storage itu, air sungai bisa naik sehingga masyarakat tidak terlalu dirugikan," ujar Gunawan. Mengenai dampak lingkungan dengan adanya pemanfaatan air Umbulan, pemerintah sudah memperhitungkan secara teknis dalam bentuk hasil kajian amdal. Di dalam kajian itu, laporan turunnya permukaan Sungai Rejoso dan sungai-sungai lainnya telah dimasukkan. "Hasil kajian amdal itu akan ditangani langsung Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Menurut rencana, akan dibangun long storage. Malahan sebelum rakor kemarin, dokumen perencanaan pembangunan juga saya serahkan," tutur Irsyad Yusuf. (N-3) abdus@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya